Agung Laksono [suara.com/Bowo Raharjo]
Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Agung Laksono tidak setuju Ketua Gerakan Muda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia dipecat. Namun, Agung tetap menghormati keputusan partai.
"Tapi DPP kan punya pertimbangan lain," kata Agung di Jakarta, Jumat (1/9/2017).
Agung menemukan adanya prosedur yang tidak ditaati dalam proses pemecatan Doli.
"DPP itu diberi hak untuk memecat anggota sepanjang dipandang dapat mengganggu dan menimbulkan masalah dan bertentangan dengan kebijakan partai, tapi harus ditempuh sesuai prosedur yang benar," ujar Agung.
Agung sudah bertemu dengan Doli untuk membicarakan perihal pemecatan. Saat itu, Doli mengaku tidak pernah diberitahu soal pemecatan.
"Dia bilang 'saya tidak pernah diundang tidak pernah diminta datang.' Terus saya sampaikan ke Pak Novanto maupun Idrus setelah salat Idul Adha," tutur Agung.
Doli juga menyampaikan kepada Agung bahwa Doli merasa tak pernah mendapat surat teguran terlebih dahulu dari Golkar.
"Saya cek ke Novanto, saya cek ke Idrus Marham, terus saya cek ke Roem Kono, sudah, sudah saya panggil secara lisan untuk bertemu, tapi bahkan tadi juga tawari dapat posisi yang bagus di DPP. Sudah ditawari oleh Si Idrus Marham, sudah sempat ditawari. Saya sebenarnya wallahu alam, tapi itulah kata Pak Idrus pada saya," ujar Agung.
Dikatakan, Idrus langsung menjelaskan alasan partai memecat Doli. Doli dinilai melanggar tujuh butir kesepakatan hasil rapat pleno DPP Partai Golkar. Dari tujuh butir itu yang paling dipersoalkan adalah gerakan Golkar Bersih yang digagas GMPG, dimana mereka persoalkan status Setya Novanto yang saat ini telah menjadi tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP.
Sementara dalam tujuh butir yang disepakati dalam pleno, yaitu soal tidak akan diadakan Munaslub dan pemberhentian terhadap Novanto sebagai sebagai Ketua Umum Golkar.
"Tetap ketuanya mas Novanto," ujar Agung.
Hal yang paling dipersoalkan oleh para pimpinan DPP Golkar adalah aksi demonstrasi yang dipimpin Doli di Komisi Pemberantasan Korupsi, Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung. Idrus menilai aksi tersebut
sebagai bentuk pembangkangan kader terhadap keputusan partai.
"Apalagi dikaitkan dengan ketua MA. Sidang doktor itu. Malah menuding ada pertemuan. Itu yang dijadikan dasar kuat DPP. Saya juga nggak ngerti mana yang benar," kata Agung.
"Tapi DPP kan punya pertimbangan lain," kata Agung di Jakarta, Jumat (1/9/2017).
Agung menemukan adanya prosedur yang tidak ditaati dalam proses pemecatan Doli.
"DPP itu diberi hak untuk memecat anggota sepanjang dipandang dapat mengganggu dan menimbulkan masalah dan bertentangan dengan kebijakan partai, tapi harus ditempuh sesuai prosedur yang benar," ujar Agung.
Agung sudah bertemu dengan Doli untuk membicarakan perihal pemecatan. Saat itu, Doli mengaku tidak pernah diberitahu soal pemecatan.
"Dia bilang 'saya tidak pernah diundang tidak pernah diminta datang.' Terus saya sampaikan ke Pak Novanto maupun Idrus setelah salat Idul Adha," tutur Agung.
Doli juga menyampaikan kepada Agung bahwa Doli merasa tak pernah mendapat surat teguran terlebih dahulu dari Golkar.
"Saya cek ke Novanto, saya cek ke Idrus Marham, terus saya cek ke Roem Kono, sudah, sudah saya panggil secara lisan untuk bertemu, tapi bahkan tadi juga tawari dapat posisi yang bagus di DPP. Sudah ditawari oleh Si Idrus Marham, sudah sempat ditawari. Saya sebenarnya wallahu alam, tapi itulah kata Pak Idrus pada saya," ujar Agung.
Dikatakan, Idrus langsung menjelaskan alasan partai memecat Doli. Doli dinilai melanggar tujuh butir kesepakatan hasil rapat pleno DPP Partai Golkar. Dari tujuh butir itu yang paling dipersoalkan adalah gerakan Golkar Bersih yang digagas GMPG, dimana mereka persoalkan status Setya Novanto yang saat ini telah menjadi tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP.
Sementara dalam tujuh butir yang disepakati dalam pleno, yaitu soal tidak akan diadakan Munaslub dan pemberhentian terhadap Novanto sebagai sebagai Ketua Umum Golkar.
"Tetap ketuanya mas Novanto," ujar Agung.
Hal yang paling dipersoalkan oleh para pimpinan DPP Golkar adalah aksi demonstrasi yang dipimpin Doli di Komisi Pemberantasan Korupsi, Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung. Idrus menilai aksi tersebut
sebagai bentuk pembangkangan kader terhadap keputusan partai.
"Apalagi dikaitkan dengan ketua MA. Sidang doktor itu. Malah menuding ada pertemuan. Itu yang dijadikan dasar kuat DPP. Saya juga nggak ngerti mana yang benar," kata Agung.
Tag
Komentar
Berita Terkait
-
KPK Usul Capres Harus dari Kader Partai, Golkar: Ideal, Tapi Jangan Tutup Pintu untuk Figur di Luar
-
Rudy Masud Didemo di Kaltim, Sekjen Golkar Ingatkan Kader: Peka ke Rakyat, Hindari Gaya Hidup Mewah
-
Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan
-
Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti
-
Mengapa Parpol Melawan Usul KPK Soal Pembatasan Masa Jabatan Ketua Umum?
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Cerita Pasutri Selamat dari Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi: Terpental hingga Pingsan
-
Tragedi di Stasiun Bekasi Timur: 3 Penumpang KRL Tewas dan 38 Korban Luka-luka Dilarikan ke 4 RS
-
KAI Fokus Evakuasi dan Normalisasi Jalur Pasca KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi Timur
-
Tabrakan Hebat di Stasiun Bekasi Timur: KRL vs Argo Bromo Anggrek, Jeritan Penumpang Pecah!
-
Rekam Jejak Jenderal Dudung Abdurachman: Dari Pencopot Baliho Kini Jadi Tangan Kanan Presiden
Terkini
-
Melania Trump Disebut Janda, Donald Trump Ngamuk: Itu Omongan yang Beracun!
-
KAI: 14 Orang Meninggal Dunia Akibat Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur
-
Dasco Pastikan Korban Argo Bromo Vs KRL Dirawat Maksimal, Ini Daftar Nama yang Meninggal dan Luka
-
MTI Desak Reformasi Total Keselamatan Kereta Usai Tragedi Bekasi Timur
-
Singapura soal Selat Hormuz: Melintas Itu Hak, Bukan Hak Istimewa karena Membayar!
-
Teror Bom Tewaskan 20 Orang, Kolombia Buka Sayembara Rp23 Miliar untuk Cari Sosok Ini
-
Gibran Tekankan Keamanan Pangan MBG: Sisa Makanan Dilarang Masuk Dapur
-
Turis Jerman Tewas Dipatok Ular Kobra saat Pertunjukan Satwa Liar di Hotel Mewah Mesir
-
10 Kecelakaan Kereta Api Paling Mematikan di Dunia, Terbaru Tabrakan KA vs KRL di Bekasi Timur
-
Real Madrid Kehilangan Kylian Mbappe Jelang El Clasico