Ketua YLBHI Bidang Advokasi M. Isnur [suara.com/Maidian Reviani]
Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Muhammad Isnur memastikan narasumber yang diundang ke acara bertajuk Asik Asik Aksi: Indonesia Darurat Demokrasi pada Minggu (17/9/2017) bukan simpatisan Partai Komunis Indonesia.
Isnur mengatakan salah satu narasumber yang diundang bernama Nani Nurani. Nani dulu penyanyi dan penari di Istana di zaman Presiden Soekarno. Gara-gara pernah menjadi penari di Istana, Nani dituduh antek PKI.
"Itu, dia simpatisan saja nggak. (ketika itu) dia juga masih anak - anak, lalu dipenjara sampai belasan tahun," kata Isnur.
Isnur mengatakan Nani merupakan korban. Ketika itu, Nani dihukum tanpa melewati proses hukum yang benar. Nani merupakan salah satu tokoh yang kemudian didampingi LBH dan YLBHI untuk mendapatkan keadilan.
"Sampai hari tuanya untuk dapat KTP saja susah. Orang - orang seperti ini yang harus LBH dampingi, negara harus punya perhatian pada mereka. Hanya karena dituduh, hanya karena ada stigma terhadap mereka, padahal mereka tidak melakukan apa - apa," ujar Isnur.
Ketua Komisi Nasional Perempuan Azriana menyebut Nani sebagai penyintas.
"Itu nggak ada hubungan dengan PKI. Di zaman itu mereka yang dimintai pertanggungjawabannya, bahkan tidak melalui proses peradilan," ujar Azriana.
Menurut Azriana gerombolan orang yang menggeruduk kantor YLBHI, semalam, tidak tahu soal itu. Massa datang dengan kemarahan karena terpengaruh hoax yang menyebutkan ada diskusi komunisme di YLBHI.
"Itu mereka yang hadir semalam tidak berfikir dengan akal sehatnya. Itu korban yang sudah lanjut usia apa lagi yang bisa mereka lakukan, mau bikin apa mereka, untuk berjalan saja mereka sulit," ujar Azriana.
Azriana mengatakan seharusnya masyarakat merangkul dan membantu warga yang menjadi korban tragedi 1965, seperti Nani.
"Mereka masyarakat sipil menjadi korban. Tidak ada kaitan bukan anggota partai komunis. Itu rata - rata penyintas yang kami dokumentasikan," ujar Azriana.
Isnur mengatakan salah satu narasumber yang diundang bernama Nani Nurani. Nani dulu penyanyi dan penari di Istana di zaman Presiden Soekarno. Gara-gara pernah menjadi penari di Istana, Nani dituduh antek PKI.
"Itu, dia simpatisan saja nggak. (ketika itu) dia juga masih anak - anak, lalu dipenjara sampai belasan tahun," kata Isnur.
Isnur mengatakan Nani merupakan korban. Ketika itu, Nani dihukum tanpa melewati proses hukum yang benar. Nani merupakan salah satu tokoh yang kemudian didampingi LBH dan YLBHI untuk mendapatkan keadilan.
"Sampai hari tuanya untuk dapat KTP saja susah. Orang - orang seperti ini yang harus LBH dampingi, negara harus punya perhatian pada mereka. Hanya karena dituduh, hanya karena ada stigma terhadap mereka, padahal mereka tidak melakukan apa - apa," ujar Isnur.
Ketua Komisi Nasional Perempuan Azriana menyebut Nani sebagai penyintas.
"Itu nggak ada hubungan dengan PKI. Di zaman itu mereka yang dimintai pertanggungjawabannya, bahkan tidak melalui proses peradilan," ujar Azriana.
Menurut Azriana gerombolan orang yang menggeruduk kantor YLBHI, semalam, tidak tahu soal itu. Massa datang dengan kemarahan karena terpengaruh hoax yang menyebutkan ada diskusi komunisme di YLBHI.
"Itu mereka yang hadir semalam tidak berfikir dengan akal sehatnya. Itu korban yang sudah lanjut usia apa lagi yang bisa mereka lakukan, mau bikin apa mereka, untuk berjalan saja mereka sulit," ujar Azriana.
Azriana mengatakan seharusnya masyarakat merangkul dan membantu warga yang menjadi korban tragedi 1965, seperti Nani.
"Mereka masyarakat sipil menjadi korban. Tidak ada kaitan bukan anggota partai komunis. Itu rata - rata penyintas yang kami dokumentasikan," ujar Azriana.
Selama ini, Nani berjuang lewat jalur hukum untuk meminta Pemerintah RI merehabilitasi namanya. Dia juga menuntut ganti rugi materiil dan immateriil.
Komentar
Berita Terkait
-
Geruduk YLBHI, Jagara Desak Jangan Hanya Bela yang Viral, Rakyat Kecil Juga Butuh
-
Menolak Takut! 30 Hari Tragedi Air Keras Andrie Yunus, Aktivis Tandai Lokasi Penyiraman Pakai Mural
-
Dugaan Kuasa Hukum Soal Kasus Andrie Yunus: Operasi Intelijen Libatkan 16 Orang
-
Usut Tuntas Kasus Aktivis KontraS, Ketua YLBHI Desak Polri Tangkap Otak di Balik Teror Air Keras
-
Komnas HAM Nilai Kasus Andri Yunus Penuhi Unsur Pelanggaran HAM, Tapi Tunggu Keputusan Internal
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
-
Aktivis Kecam Klaim DPR, Sebut Visum Gratis Bagi Korban Kekerasan Seksual Adalah Mandat UU
-
TB Hasanuddin Sentil Menhan dan Menlu Jarang Rapat di Komisi I: Kami Merasa Tertutup untuk Diskusi!
-
Megawati Kritik Lemhannas: Jangan Dipersempit Hanya Jadi Lembaga Pencetak Sertifikat
-
Aktivis KontraS Disiram Air Keras, TB Hasanuddin: Momentum Revisi UU Peradilan Militer
-
Komnas HAM Desak Panglima TNI Evaluasi Operasi di Papua Imbas 12 Warga Sipil Meninggal
-
Warga Lebanon Pulang di Tengah Gencatan Senjata Rapuh, Serangan Israel Masih Terjadi
-
Geram! JK Ungkit Jasa Bawa Jokowi dari Solo ke Jakarta: Kasih Tahu Semua Sama Termul-termul Itu
-
Minta Jokowi Perlihatkan Ijazah, JK: Saya Tidak Melawan, Saya Senior yang Menasihati
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!