Suara.com - Ribuan pecinta alam, akademisi dan pegiat lingkungan hidup menggelar reboisasi kawasan hutan di lereng Gunung Semeru. Berbagai jenis bibit tanaman cemara hutan dan tanaman endemik Semeru ditanam di 3 titik sekaligus.
Di antaranya di kawasan Ayeg-ayeg, Watu Rejeng, dan Sumber Ndanyangan. Lokasi penanaman bibit pepohonan tergolong sulit, dibutuhkan waktu selama 3 jam berjalan menuju lokasi.
Relawan berasal dari komunitas Gimbal Alas yang tersebar di seluruh Nusantara.
"Penghijauan untuk mengembalikan alam serta memulihkan sumber mata air sekitar Semeru," kata panitia penyelenggara dari komunitas Gimbal Alas, Bambang Irawan Wibisono, Minggu (1/4/2018).
Sejumlah mata air mati dan menyusut akibat kerusakan kawasan hutan sebagai kawasan tangkapan air.
Padahal masyarakat setempat menggantungkan pasokan air dari sumber di sekitar lereng Semeru. Selain itu, secara swadaya akan dibangun jaringan pipa air minum disalurkan ke rumah warga.
Untuk memudahkan warga mendapat air demi kebutuhan sehari-hari.
Sementara jumlah penduduk di sekitar lereng Semeru terus bertambah. Seperti penduduk di Desa Ranupani, Pronojiwo, Lumajang yang mulai mengalami krisis air. Bahkan danau di Ranupani mulai menyusut dan mengalami pendangkalan.
Danau juga tercemar tanaman air kiambang atau salvinia molesta. Permukaan danau seluas enam hektare dipenuhi kiambang. Bahkan, burung belibis yang menjadikan Ranupani sebagai habitatnya tak sudi mampir.
Baca Juga: Warga Jakarta Tewas Tertimpa Batu saat Mendaki Gunung Semeru
Kepala resor Ranupani, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Agung Siswoyo menjelaskan ada dua mata air mati di Ranupani. Selama 10 tahun terakhir sumber mata air di lereng Semeru terganggu.
"Salvinia pernah bersih lima tahun lalu. Warga bergotong-royong bersama pecinta alam," katanya.
Namun, lambat laut kiambang atau salvinia kembali menemui permukaan danau. Warga setempat, Sutono bersama petani yang tergabung dalam kelompok belajar rukun mandiri tengah berusaha untuk bertani yang ramah lingkungan.
"Belajar mencintai lingkungan, mengembalikan fungsi Ranupani seperti dulu," katanya. Sekitar 20 tahun lalu, katanya, Ranupani luas dan air jernih. Menjadi kawasan danau yang indah di lereng Semeru.
Bahkan Gombloh menggambarkan Ranupani dalam lagunya sebagai danau yang indah dan menjadi jujugan. Para mahasiswa bermain, dan diskusi di Ranupani. Ranupani merupakan kawasan di lereng Semeru, menjadi persinggahan di jalur pendakian ke puncak Mahameru. (Sugianto)
Tag
Berita Terkait
-
Pulau Pramuka Ternodai Sampah Plastik, Pencinta Alam Lakukan Ini
-
Cerita Dul Beberapa Kali Nangis, Termasuk Ditinggal Pergi El
-
Warga Jakarta Tewas Tertimpa Batu saat Mendaki Gunung Semeru
-
Buntut "Diksar Maut", Laman FB Mapala Unisi UII Dibanjiri Makian
-
Sudah Sepekan Warga Swiss Hilang di Gunung Semeru
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?
-
Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo
-
Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis
-
Kisah Yunita Bangun Dear June Official, Dari Satu Penjahit Hingga Tembus Pasar Singapura