Suara.com - Dewan Keamanan PBB menolak resolusi Rusia untuk mengutuk serangan udara oleh Amerika Serikat (AS), Prancis dan Inggris, yang merupakan bagian perang agresi terhadap negara berdaulat Suriah.
Dewan Keamanan mengadakan pertemuan darurat atas permintaan Rusia, Sabtu (14/4/2018), yang mengutuk serangan udara yang dipimpin AS pada Suriah.
Resolusi mengutuk perang agresi yang dilancarkan AS dan sekutu-sekutunya sejak Jumat (13/4) itu, ditolak karena hanya dapat mengumpulkan 9 suara dari 15 anggota dewan.
Tiongkok dan Bolivia mendukung resolusi Rusia. Sementara AS, Inggris, Prancis, Swedia, Polandia, Pantai Gading, Kuwait dan Belanda menolaknya.
Sedangkan Peru, Kazakhstan, Etiopia dan Guinea Equatorial menyatakan abstain.
AS, Inggris dan Prancis melakukan serangan udara yang mereka klaim hanya menargetkan tempat penyimpanan senjata kimia rezim Presiden Bashar Al Assad di Suriah pada Sabtu.
Serangan tersebut dilancarkan, setelah mereka secara pihak menuding rezim Assad menggunakan senjata kimia di kota Douma, Suriah yang menewaskan 78 warga sipil dan melukai ratusan lainnya.
Berbicara di Dewan Keamanan, Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB, mengatakan Rusia menggunakan veto untuk "membunuh" Mekanisme Investigasi Bersama, sebuah langkah yang dapat mengungkapkan siapa yang menggunakan senjata kimia.
"Veto Rusia adalah lampu hijau kepada rezim Assad untuk menggunakan senjata paling barbar untuk melawan masyarakat Suriah, sepenuhnya melanggar hukum internasional," ujarnya, seperti diberitakan Anadolu Agency.
Baca Juga: Israel Dukung Perang Agresi AS dan Sekutunya ke Suriah
"Saya berbicara kepada Presiden [Donald Trump] pagi ini dan ia mengatakan jika rezim Suriah menggunakan gas beracun ini kembali, AS akan bertindak. Ketika Presiden kami menarik garis merah, Presiden kami memaksa menarik garis merah." Ungkapnya.
Vassily Nebenzia, duta besar Rusia untuk PBB, mengutuk serangan udara sebagai "hooliganisme dalam hubungan internasional."
"Rusia mengutuk serangan terhadap Suriah. Tindakan AS di Suriah membuat situasi semakin buruk," tambah Nebenzia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Cuma Data yang Dicuri, Kejahatan Siber Kini Bisa Menguras Tabungan
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru