Suara.com - Politisi Partai Solidaritas Indonesia Guntur Romli menyebut 40 masjid yang terindikasi megajarkan paham radikalisme agama tersebut, kerap digunakan pendukung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno saat Pilkada DKI Jakarta 2017.
Namun, Anies yang kekinian menjadi Gubernur DKI Jakarta enggan mengomentari tudingan politikus PSI itu.
Anies hanya tersenyum saat awak media menanyakan hal tersebut.
Sementara Sandiaga, kekinian Wakil Gubernur DKI Jakarta, ketika ditemui di tempat terrpisah, juga enggan mengomentari substansi persoalan tersebut.
"Tak ada tanggapan. Sekarang sudah lewat masa memecah belah. Sudah, pilkadanya sudah bulan April, so twenty seventeen (2017) Come on lets move on! Ini udah mau Twenty Nineteen (2019), zaman now. Pilkada zaman old," ujar Sandiaga di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (8/6/2018).
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu menegaskan, tengah fokus kepada pembinaan kepada masjid-masjid yang terindikasi paham radikalisme.
"Fokus saja membina mereka, untuk meningkatkan ekonomi sekitar masjid,” tandasnya.
Sebelumnya, Guntur Romli menuturkan jika Anies dan Sandi harus menelusuri jejak pendukungnya ketika Pilkada DKI Jakarta lalu di 40 masjid terindikasi mengajarkan paham radikalisme agama.
Sebab, kata Guntur, masjid-masjid itulah yang memasang spanduk “Dilarang menyalatkan pemimpin kafir”, saat Pilkada DKI 2017.
Baca Juga: Premier League Terapkan Winter Break di Musim 2019/2020
"Radikalisme itu berawal dari intoleransi. Ketika intoleran pada yang lain, pasti lambat laun akan menjadi radikal. Pasti ada jejak. Ketika ada bilang 40 masjid terpapar paham radikal, menurut saya ada jejak pendukung Anies dan Sandi saat Pilkada DKI di masjid-masjid itu. Saya yakin itu. Dengan bukti spanduk, provokasi, mempolitisasi masjid ada jejak pendukung mereka di situ," ujar Guntur di Kantor Pengurus Besar Jemaah Ahmadiah, Jalan Balikpapan 1 No. 10, Jakarta Pusat, Kamis, (7/6/2018).
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- Muncul Isu Liar Soal Rully Anggi Akbar Setelah Digugat Cerai Boiyen
Pilihan
-
Siswa SD di NTT Bunuh Diri Karena Tak Mampu Beli Buku, DPR: Ini Alarm Keras, Negara Harus Hadir
-
Sebut Cuma Kebetulan Lagi Makan Soto, Kodam Diponegoro Bantah Kirim Intel Pantau Anies
-
Airlangga Girang, Modal Asing Mulai 'Mudik' ke Saham RI
-
'Mama Jangan Menangis' Surat Terakhir Siswa SD di NTT Sebelum Akhiri Hidup karena Tak Bisa Beli Buku
-
Isi Proposal OJK dan BEI ke MSCI: Janji Ungkap Penerima Manfaat Akhir Saham RI
Terkini
-
Menlu Ikut Hadir di Pertemuan Prabowo dan Ormas Islam, Beri Penjelasan RI Gabung BoP
-
Di RDPU Komisi II DPR, Akademisi UI Usul Bawaslu Dibubarkan dan Cabut Wewenang Sengketa MK
-
Pakar Hukum Pidana Nilai Kotak Pandora Kasus-kasus Korupsi Bakal Terbuka Jika Riza Chalid Tertangkap
-
Siswa SD di NTT Bunuh Diri Karena Tak Mampu Beli Buku, DPR: Ini Alarm Keras, Negara Harus Hadir
-
Sebut Cuma Kebetulan Lagi Makan Soto, Kodam Diponegoro Bantah Kirim Intel Pantau Anies
-
KPK Siap Hadapi Praperadilan Ulang Paulus Tannos, Buronan e-KTP yang Nekat Ganti Identitas
-
Indonesia Jadi Penjual Rokok Terbanyak ASEAN, Dokter Paru Ingatkan Dampak Serius Bagi Kesehatan
-
Polda Metro Jaya Klarifikasi Pandji Pragiwaksono Terkait Kasus Mens Rea Jumat Ini
-
Momen Pramono Tertawa Lepas di Rakornas, Terpikat Kelakar Prabowo Soal '2029 Terserah'
-
'Mama Jangan Menangis' Surat Terakhir Siswa SD di NTT Sebelum Akhiri Hidup karena Tak Bisa Beli Buku