Suara.com - Elektabilitas Presiden Joko Widodo masih mengungguli elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Keduanya digadang-gadang akan bertarung kembali di Pilpres 2019.
Kondisi tersebut berdasarkan hasil survei lembaga Alvara Research Center yang dirilis di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (3/8/2018).
Menurut Chief Research Officer Alvara, Harry Nugroho, hingga kekinian, dari sisi popularitas dan elektabitas, Jokowi dan Prabowo menduduki posisi tertinggi jika dibandingkan dengan sejumlah nama lain yang disebut-sebut berpotensi untuk maju sebagai capres di Pilpres 2019.
Harry menerangkan, berdasarkan hasil survei mereka, dari sisi popularitas, Joko Widodo meraih 97,7 persen, dengan top of mind 58,0 persen. Sedangkan untuk Prabowo yaitu 96,8 persen dengan top of mind 33,5 persen.
"Sementara untuk elektabilitas Jokowi mencapai 48,4 persen dan Prabowo mendapat 32,2 persen," kata Harry di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (3/8/ 2018).
Harry mengatakan, kalau dibandingkan dengan hasil survei Alvara sebelumnya, elektabilitas Jokowi maupun Prabowo mengalami peningkatan.
"Elektabilitas Jokowi itu sebelumnya di angka 46,8 persen. Tapi sekarang 48,4 persen. Menariknya lagi, untuk kenaikan Prabowo cukup tinggi, dari 27,2 persen menjadi 32,2 persen," ujar Harry.
Sedangkan untuk kandidat di luar dua tokoh tersebut, menurut Harry, belum ada yang menonjol. Elektabilitas para kandidat di luar Jokowi dan Prabowo masih sangat rendah.
Lebih lanjut, Harry juga mengatakan, dari berbagai simulasi kontestasi melawan kandidat mana pun, Jokowi belum dapat terkalahkan.
Baca Juga: KPK: Capres Cawapres Harus Serahkan LHKPN Sebelum 10 Agustus
"Artinya peluang Jokowi untuk terpilih kembali menjadi presiden lebih tinggi dibandingkan kandidat lainnya," kata Harry.
Namun demikian, ia mengingat, Jokowi perlu memperhatikan aspek kepuasan publik meskipun tingkat kepuasan publik pada kinerja Jokowi dan wakilnya, Jusuf Kalla mengalami kenaikan 75,6 persen.
"Tapi perlu diingat juga, kepuasan publik terhadap kesejahteraan tenaga kerja, penyediaan lapangan kerja, kemiskinan, masih rendah di antara aspek-aspek lain," kata Harry.
Survei dilakukan secara nasional pada tanggal 20 sampai 28 Juli 2018. Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan 1142 responden berusia 17 tahun ke atas.
Sampel diambil di seluruh provinsi di Indonesia, dengan jumlah sampel setiap provinsi proporsional terhadap jumlah penduduk. Adapun margin of error sebesar 2,95 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Berita Terkait
-
Besok Pendaftaran Capres, Rumah Prabowo Didatangi Amien Rais
-
Sudah Pulih, Kahiyang Ayu Belum Mau Pulang dari Rumah Sakit
-
Partai Berkarya Beri Sinyal Dukung Eks Kakak Ipar Tommy Soeharto
-
PA 212 Ungkap Dugaan Rekayasa Capres-Cawapres Ijtimak GNPF Ulama
-
Perkenalkan, Sedahmirah Nasution Cucu Kedua Presiden Jokowi
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan