News / Nasional
Rabu, 08 Agustus 2018 | 22:11 WIB
Proses evakuasi jenazah tertimpa masjid roboh akibat gempa Lombok. (Suara.com/Welly Hidayat)

Suara.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai perbedaan jumlah data korban jiwa gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat, hal yang wajar.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, semua data yang diperoleh sama-sama berasal dari hasil temuan di lapangan.

"Perbedaan data korban selama masa tanggap darurat adalah hal yang biasa. Semuanya benar karena berdasarkan data dari lapangan," kata Sutopo, Rabu (8/8/2018).

Baca Juga: H-11 Asian Games, Polda Metro Bekuk Ribuan Jambret dan Begal

Sebelumnya, data korban meninggal dunia menurut BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB sebanyak 131 orang. Namun, data laporan dari TNI ada sebanyak 381 orang meninggal dunia.

Berbeda lagi dengan pernyataan Gubernur NTB TGB Muhammad Zainul Majdi dan Basarnas yang mengatakan mengatakan jumlah korban meninggal dunia di NTB sebanyak 226 orang.

Sedangkan, data dari Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar korban meninggal dunia di Lombok Utara 347 jiwa, berdasarkan pertemuan camat se-Lombok Utara.

Meskipun data dari semua sumber adalah benar, Sutopo mengimbau kepada masyarakat agar mengacu pada data dari BNPB atau BPBD NTB.

Baca Juga: Minimal 16 Emas di Asian Games, Jokowi : Enggak Boleh Kurang Satupun

Pasalnya, data dari kedua instansi itu resmi dari pemerintah yang telah diverifikasi agar valid sebelum disampaikan ke publik.

"Makanya seringkali data yang keluar dari BNPB dan BPBD lambat dibanding data lain. Bukan soal siapa yang cepat tapi kehati-hatian untuk menjamin data tersebut benar," ungkap Sutopo.

Load More