Pada satu hari, giliran Nadia dibawa ke pengadilan syariah. Di sana ia duduk di dalam sebuah ruangan bersama perempuan lain. Ia mengenakan jaket merah jambu. Lalu seorang anggota ISIS datang ke arahnya.
"Dia bilang, 'Perempuan berjaket merah jambu, berdiri'," kenang Nadia.
"Ketika saya mengangkat wajah dan melihat dia, lelaki itu sungguh besar. Saya berteriak-teriak," lanjut dia.
Lelaki itu, ia masih ingat, sangat besar. Rambut dan jenggotnya sangat panjang. Ketika itu Nadia duduk bersama tiga keponakannya dan mereka saling berpelukan erat ketika lelaki itu menyeret dia.
Ketika sedang bergulat dengan lelaki raksasa itu, ia melihat seorang lelaki lain yang bertubuh lebih kecil. Nadia langsung meringkuk di kaki lelaki itu dan meminta tolong.
"Saya memohon kepadanya, 'Bebaskan saya dari penjara besar ini, bawa saya dan saya akan melakukan apa saja yang kamu inginkan'," Nadia bercerita.
Lelaki kurus itu, yang juga anggota ISIS, lalu membawanya pergi. Lelaki itu juga berambut panjang, tetapi jenggotnya lebih pendek. Lelaki itu menyekap Nadia di dalam sebuah kamar dengan dua pintu. Ia salat lima kali sehari. Ia memiliki seorang istri dan seorang puteri bernama Sara.
"Satu hari dia memaksa saya mengenakan make up, saya menurutinya dan di malam jahanam itu, dia melakukannya," kenang Nadia.
Nadia pernah mencoba kabur dari pemerkosaan dan penyiksaan yang dilakukan lelaki itu, tetapi ia tertangkap.
"Ia kemudian memukuli saya, melucuti pakaian saya, dan memindahkan saya di dalam sebuah kamar bersama enam lelaki lain. Mereka melakukan kejahatan bertubi-tubi terhadap tubuh saya sampai saya tak sadarkan diri," beber Nadia.
Nadia ingat betul tak seorang pun dari para lelaki itu yang menunjukkan penyesalan atas apa yang mereka lakukan padanya. Ketika salah satu penyiksanya ditanya, apakah Nadia istrinya, ia menjawab dengan lantang.
"Ini bukan istri saya, dia adalah sabia saya, dia adalah budak saya," kenang Nadia, sembari mengingat bagaimana lelaki itu menembakkan senjatanya ke langit tanda suka cita.
Berhasil Kabur
Nadia berhasil kabur pada November 2014, ketika salah satu penyekapnya lupa mengunci pintu rumah. Dibantu oleh sebuah keluarga Muslim, ia kemudian berhasil meloloskan diri dan berlindung di sebuah kamp pengungsian Yazidi di wilayah Kurdistan.
Di kamp pengungsian itu dia dikabari bahwa enam saudara dan ibunya sudah tewas dibunuh ISIS.
Dengan bantuan sebuah organisasi kemanusiaan yang membantu orang-orang Yazidi, ia mengungsi ke Jerman. Di sana ia mulai mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan kelompok minoritas Yazidi dan para perempuan yang mengalami kekerasan seksual.
Nadia, karena perjuangannya, lalu diangkat sebagai Duta Besar Perdamaian PBB untuk para penyintas perdagangan manusia. Pada 2017 ia menerbitkan buku berjudul "The Last Girl" dan pada tahun yang sama Dewan Keamanan PBB mengumumkan komitmen untuk membantu Irak mengumpulkan bukti-bukti kejahatan kemanusiaan ISIS.
Sebelum 2014, jumlah komunitas Yazidi di Irak sekitar 550.000 jiwa. Kini sudah 100.000 orang Yazidi meninggalkan Irak ribuan lainnya masih bertahan di wilayah Kurdistan.
Pada Agustus kemarin Nadia mengumumkan telah bertunangan dengan rekan sesama aktivis Yazidi bernama Abid Shamdeen.
"Perjuangan untuk rakyat kami telah menyatukan kami dan kami akan terus berjuang bersama," tulis Nadia.
Berita Terkait
-
Diusulkan Jadi Nobel Perdamaian, Makalah MBG yang Cantumkan Nama Prabowo Kini Diinvestigasi
-
Berkontribusi bagi Keamanan dan Kesejahteraan, BPJS Kesehatan Masuk Nominasi Nobel Perdamaian
-
Nobel Perdamaian Dikasih ke Pendukung Genosida? 5 Dosa Pemenang Nobel 2025 yang Bikin Geger
-
Nobel Perdamaian 2025 Penuh Duri: Jejak Digital Pro-Israel Penerima Penghargaan Jadi Bumerang
-
Netanyahu Nominasikan Trump untuk Nobel Perdamaian! Apa Alasannya?
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
- 25 Pengemis Haji Gocap di Kebayoran Baru Dikirim ke Panti Sosial
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
Tunggakan Rp14,8 Miliar, 303 Pemain Belum Digaji: Ada Klub Raffi Ahmad Rans FC
-
Bukan Cuma Jadi Konsumen! DPR Ingin Indonesia Kuasai Ekosistem AI
-
Alasan Ada Agenda Lain, Anggota DPR Satori Mangkir dari Pemeriksaan KPK
-
Persib Lolos ACL Two dengan Drama! Mariano Peralta Jadi Pahlawan di Menit-Menit Akhir
-
Cegah Risiko Pidana, Pakar Sebut Pemerintah Tepat Atur Pembelian Timah Rakyat
-
Desak Pelaku Pengeroyok Bambang Setiawan Ditangkap, Wamen HAM: Harus Ditindak Tegas!
-
Dedi Mulyadi: Uang Pajak Warga Depok Siap Disulap Jadi Flyover dan Underpass
-
Setengah Karhutla Terjadi di Wilayah Korporasi yang Izinnya dari Negara!
-
Sikap Bupati Bogor Usai KPK Masuk Pemkab: Serahkan Proses Hukum dan Hargai Praduga Tak Bersalah
-
Padam Setelah 30 Jam, Kebakaran Pabrik Plastik di Serang Telan Kerugian Rp41 Miliar