Suara.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) berpesan kepada media massa untuk memperhatikan sebab akibat dalam melakukan penyiaran yang bersifat kontinu. Hal itu disampaikan JK ketika mengetahui bagaimana media massa khususnya televisi yang menyiarkan terus menerus peristiwa demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan di beberapa daerah di Indonesia.
JK mengungkapkan bahwa media massa juga harus memperhatikan norma dan etika ketika hendak menyiarkan suatu peristiwa. Ia mempertanyakan soal dampak dari penyiaran adanya kerusuhan yang terjadi saat demonstrasi mahasiswa beberapa waktu lalu.
"Contohnya tiap hari kita lihat saja, Sabtu malam menyiarkan demo, menyiarkan lempar-lempar batu. Apa itu memberikan mempunyai dampak apa siaran itu kalau (ditayangkan) terus menerus?," ujar JK dalam pidatonya sebelum membuka Rapat pimpinan (Rapim) KPI 2019 di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (9/10/2019).
Menurut JK, penayangan kasus kerusuhan terus menerus oleh media massa terutama televisi justru akan memancing orang untuk melakukan hal yang sama.
"Bisa menimbulkan dampak ikut-ikutan kepada yang lain. Itu berarti etik siaran kita harus diperbaiki. Siarannya tidak salah tapi efeknya," ujarnya.
Menurut JK, media memiliki tiga fungsi yakni sebagai saluran informasi, pendidikan, dan hiburan. Ketika media massa keluar dari tiga fungsi tersebut, maka sudah semestinya dihentikan.
Ia juga sempat menyinggung bagaimana media berlomba-lomba untuk membuat program horor. Kalau semua membuat program horor dengan intens, justru nantinya akan mengubah perspektif orang yang menonton.
"Jadi seperti bisa mengajak anak-anak atau orang-orang untuk berpikir tidak logis. Percaya kepada jin-jin seperti itu," tuturnya.
Oleh karena itu, JK berpesan kepada media massa di Indonesia untuk bisa mengingat adanya etika dan norma yang dipegang dalam menyiarkan program.
Baca Juga: Kondisi Kantor Bupati Jayawijaya yang Dibakar saat Kerusuhan Wamena
"Normanya tentu tidak (ada dalam) aturan mengatakan itu tapi etikanya jangan memperlihatkan kekerasan yang berlebihan," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
- BPJS PBI Tiba-Tiba Nonaktif di 2026? Cek Cara Memperbarui Data Desil DTSEN untuk Reaktivasi
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Mensos Gus Ipul: BPJS PBI Pasien Penyakit Kronis Aktif per Hari Ini
-
Silaturahmi dengan Ulama Aceh, Kasatgas Tito: Pentingnya Dukungan Spiritual bagi Korban Bencana
-
Pemerintah Salurkan Bantuan Beras dan Minyak Selama Ramadan, 35 Juta Keluarga Jadi Sasaran
-
Iuran Rp17 Triliun! Masyumi Beri Syarat Ketat ke Prabowo Soal Gabung 'Board of Peace' Donald Trump
-
Lampu Hias Semanggi Tiga Kali Raib, Pramono Bongkar Biang Keladi Lemahnya Pengawasan di Jakarta
-
Pemerintah Siapkan Stimulus Rp911 Miliar untuk Diskon Tiket Mudik Lebaran
-
Analis Sebut Pidato Berapi-api Jokowi untuk PSI Sebagai Blunder Politik
-
Pengamat: Pernyataan 'Peras Darah' Kaesang Adalah Mekanisme Proteksi Diri Keluarga Jokowi
-
Strategi 'Hukum Dompet', Jurus Paksa Warga Jakarta Pakai Transportasi Umum
-
KPK Optimis Ekstradisi Paulus Tannos Bakal Lancar, Meski Butuh Waktu Lama