Suara.com - Aksi premanisme di sekolah baru saja membuat gempar warga Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Provinsi Jambi. Hanya karena tak terima telepon genggam atau Hp anaknya disita sekolah, seorang wali murid bernama Bujang Marwan tega menganiaya kepala sekolah dan mengancam pakai senjata api atau senpi.
Bujang sebelumnya dilaporkan ke polisi karena aksinya menganiaya dan menodongkan senjata api kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Tanjabbar, Lasemen.
Belakangan, akibat aksi tak terpujinya itu, Bujang kini telah ditangkap polisi. Warga Desa Bukit Harapan, Kecamatan Merlung Kabupaten Tanjabbar itu ditangkap pada Senin (9/3/2020) saat berada di wilayah Kabupaten Batanghari.
Dalam penangkapan itu, polisi menyita barang bukti berupa senjata airsoft gun dan senpi rakitan jenis revolver.
Senjata api rakitan ini dimiliki tersangka baru sekitar dua minggu," ujar Kapolres Tanjabbar, AKBP Guntur Saputro sebagaimana dilansir Metrojambi.com (jaringan Suara.com), Selasa (10/3/2020).
Menurut dia, tersangka sengaja membuang senpi itu di perkebunan sawit di dekat rumahnya untuk menghilangkan jejak. Untuk senpi jenis revolver ditemukan polisi di kandang kambing.
Tak hanya memiliki senpi ilegal, Bujang sang wali murid berlagak preman itu juga menyimpan alat hisap sabu jenis bong. Dan dari hasil tes urine oleh polisi, ia juga dinyatakan positif menggunakan narkoba.
"Hasilnya positif, tersangka juga menggunakan sabu," kata Kapolres.
Saat ditanya awak media, tersangka Bujang mengaku membeli senpi rakitan seharga Rp 2 juta dari temannya berinisial R.
Baca Juga: Gegara Daftar Hadir, 3 Pelajar Nekat Aniaya Guru di Kelas hingga Luka Berat
Sementara aksi premanisme Bujang menganiaya Kepsek SMA Negeri 10 Tanjabbar berawal dari penyitaan Hp siswa oleh pihak sekolah pada Rabu (4/3/2020). Di mana saat itu tengah diadakan ujian berbasis android (online).
Untuk memaksimalkan kerja wifi sekolah, kepala sekolah memutuskan untuk melarang seluruh siswa menggunakan Hp selama ujian berlangsung.
Siswa diminta mengumpulkan Hpnya secara sukarela. Namun setelah sesi pertama ujian, kepala sekolah menemukan seorang siwa yang tidak menyerahkan Hpnya. Namun ketika Hp itu diminta, siswa bersangkutan beralasan orang tuanya tidak mengizinkan Hp miliknya dikumpulkan.
Demi kebersamaan dan kesetaraan sesama siswa dalam penegakkan aturan. Kepsek kemudian meminta Hp tersebut dan meminta siswa menginformasikan kepada orang tuanya.
Sore harinya, saat sudah tidak ada kegiatan belajar dan Kepsek serta Waka Kurikulum masih di sekolah, tiba-tiba terdengar bunyi letusan keras (diduga berasal dari senjata api). Akibatnya orang-orang yang masih berada di sekolah langsung berhamburan keluar.
Saat di halaman sekolah, datang seorang laki-laki langsung membentak dan memukuli kepala sekolah. Tak hanya itu juga, pelaku juga menyingkapkan bajunya sembari memperlihatkan senpi yang terselip di pinggangnya. Sambil memaki, lelaki itu juga melemparkan sebuah batu bata, beruntung tak mengenai kepala sekolah.
Berita Terkait
-
Anak Dianiaya Bapaknya Pakai Kunci Motor, Muka hingga Matanya Memar
-
Akibat Gigit Telinga Kucing, Pria Ini Dilarang Pelihara Hewan Seumur Hidup
-
Bejat! Ayah Cabuli Anak Kandung di Samping Istri yang Tertidur
-
Warga Australia Jotos Pelajar Tiongkok karena Tak Bisa Bahasa Inggris
-
Diseret lalu Diikat di Dapur, Suami Tusuk Kelamin Istrinya Pakai Kayu
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Lingkaran Setan Kekerasan di Balik Seragam: Mengapa Polisi Junior Terus Jadi Korban Senior?
-
Bareskrim Ambil Alih Pengejaran Ko Erwin, Bandar Narkoba Terkait Kasus AKBP Didik
-
WNA Australia Terinfeksi Campak Usai Kunjungi RI, Kemenkes Percepat Imunisasi MR untuk Anak PAUDTK
-
Pramono Anung Instruksikan Perluasan Akses Jalan Guna Urai Kemacetan Flyover Latumenten
-
KPK Telusuri Pemilik Lima Koper Berisi Uang Rp5 Miliar dalam Kasus Bea Cukai
-
DPRD DKI Kritik Impor 3.100 Sapi oleh Pramono Anung, Dinilai Tak Sejalan UU Pangan
-
Habib Jafar: Ramadan Momentum Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan Sekadar Kaya Materi
-
Hakim Tetapkan Kerugian Negara Kasus Korupsi Minyak Pertamina Sebesar Rp9,4 Triliun
-
Divonis 9 Tahun Penjara, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Sebut Fakta Sidang Diabaikan
-
Ancaman Nyata dari AS hingga AI: Bagaimana RI Menjaga 'Benteng' Pembangunan Nasional di 2026?