Mereka tinggal di permukiman penduduk berpenghasilan rendah atau mohalla, di daerah pedesaan.
Biasanya dia berjalan sepanjang satu kilometer ke sumur terdekat untuk mendapatkan air bagi kebutuhan hari itu. Geeta kemudian ngobrol dengan para tetangga sambil menunggu kedatangan tukang sayur.
Setelah membeli kebutuhan makanan sehari itu, Geeta mulai mempersiapkan makan pagi.
Suaminya akan pergi pada jam tujuh pagi, kembali untuk makan siang dan tidur. Dia kemudian pergi kembali setelah dua anak tertua pulang sekolah.
"Tetapi berbagai hal berubah ketika sekolah ditutup pada tanggal 14,"katanya. "Anak-anak selalu ada di rumah dan suami saya mulai terganggu.
"Biasanya dia hanya menyalurkan kemarahan kepada saya, tetapi sekarang dia mulai meneriaki mereka karena hal-hal kecil seperti membiarkan cangkir di lantai. Saya kemudian mengatakan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya, agar dia marah kepada saya. Tetapi semakin lama kami bersama-sama, semakin sulit bagi saya untuk mengalihkan perhatiannya."
Geeta berencana, begitu suaminya berangkat bekerja dan setelah dirinya selesai membersihkan rumah, dia akan mengunjungi sebuah gedung yang letaknya agak di luar daerah permukimannya.
Di sana Geeta biasanya mengikuti kelas rahasia yang dijalankan pegiat masyarakat, dimana perempuan belajar menjahit, membaca dan menulis.
Geeta ingin memiliki cukup keterampilan agar dapat mandiri secara keuangan dan meninggalkan suaminya, pergi dengan anak-anaknya.
Baca Juga: Viral usai Main Tiktok, Sekeluarga Pasien Corona Covid-19 Dinyatakan Sembuh
Di kelas tersebut, dia juga bertemu para konselor yang terlatih dalam membantu korban KDRT.
Tetapi karantina wilayah 21 hari India, menghentikan semua hal ini. Kelas-kelas ditutup dan sulit bagi konselor untuk menjumpai para perempuan ini.
Vimlesh Solanki, sukarelawan di Sambhali Trust, organisasi yang membantu perempuan di Jodhpur, kota kedua terbesar di Rajashtan mengatakan virus corona membahayakan para perempuan.
"Karantina wilayah sepenuhnya berarti terjadi masalah setiap hari. Sekarang tidak ada tukang sayur sehingga mereka harus berjalan lebih jauh lagi ke toko serba ada untuk berbelanja makanan setiap hari.
"Keadaan meresahkan seperti ini berarti terdapat lebih banyak hal yang memicu KDRT."
KDRT di Inggris meningkat
Nicole Jacobs, komisaris KDRT Inggris dan Wales mengatakan polisi telah siap menangani peningkatan panggilan KDRT.
"Kami berusaha memastikan bahwa warga menyadari polisi telah memperkirakan terjadinya peningkatan KDRT, mereka telah memiliki rencana untuk mengatasinya," katanya kepada BBC.
"Dan mereka sangat menekankan bahwa ini adalah panggilan yang diprioritaskan. Jadi Anda dapat menelepon 999 tanpa mengeluarkan kata-kata, menunggu sampai petugas batuk atau menyuarakan hal lain, dan kemudian menekan angka 5 dan kemudian 5 lagi," katanya menambahkan.
Dia mengungkapkan bahwa para perempuan yang berstatus imigran tidak jelas seharusnya "tidak dikekang, tanpa ketakutan dideportasi, ketika melaporkan KDRT saat ini", dengan meningkatkan pendanaan bagi pekerja kunci untuk membantu para pengungsi.
Dia juga mendesak pekerja sosial dan layanan khusus untuk menerima peralatan yang melindungi mereka dari wabah.
*Nama perempuan yang diwawancara bukanlah nama sebenarnya
Berita Terkait
-
Menteri PPPA Sentil Pemkab Sampang Usai Kasus 27 Predator Anak: Perkuat Gugus Tugas!
-
Polisi Buru Terduga Penganiaya Kekasih di Bekasi, Korban Kabur Lewat Jendela
-
Kondisi Remaja Korban Rudapaksa 27 Pria di Sampang Membaik, Korban Mulai Berani Bercerita
-
Hukum dan Fenomena No Viral No Justice: Kritik atas Kasus KSBE
-
Derita Berlipat Ibu Korban Little Aresha: Berjuang Sembuhkan Trauma Anak Sekaligus Diri Sendiri
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam