News / Internasional
Rabu, 10 Juni 2020 | 19:52 WIB
[BBC]

Juru Bicara Oposisi bidang Pendidikan, Tanya Plibersek menyatakan Australia memiliki rekor dalam sektor pendidikan internasional.

"Saya banyak bertemu pemimpin negara-negara di kawasan ini yang senantiasa mengingat masa-masa kuliah mereka di Australia," katanya.

"Australia merupakan negara paling aman di dunia bagi para mahasiswa asing," tambahnya.

Kronologi ketegangan diplomatik

Pertikaian diplomatik antara kedua negara semakin mencuat ketika Dubes Cheng Jingye melontarkan pernyataan bernada ancaman kepada Australia yang sebelumnya gencar ingin menyelidiki asal-usul penyebaran COVID-19.

Dubes Jingye pada April lalu menyatakan akibat desakan Australia itu, masyarakat China bisa saja berhenti mengonsumsi produk-produk serta berhenti mengirim anak-anaknya ke Australia untuk menempuh pendidikan.

"Mungkin saja orang awam (di China) akan bilang, mengapa kita harus minum anggur Australia atau makan daging sapi Australia?" katanya dalam wawancara dengan Australian Financial Review.

Tak berselang lama setelah itu, Pemerintah China mengambil langkah drastis dengan memberlakukan tarif bagi gandum Australia yang masuk ke negara itu.

Selain itu, China juga melarang impor daging sapi dari empat rumah potong hewan di Australia.

Baca Juga: Gandeng Polri, Kemenlu Dalami Kasus Dua ABK yang Lompat dari Kapal China

Pertikaian diplomatik Australia dan China telah merembes kemana-mana, mulai dari sektor perdagangan, pariwisata hingga pendidikan.

Kemudian akhir pekan lalu, Kementerian Budaya dan Pariwisata China mengeluarkan peringatan bagi warganya agar jangan berkunjung ke Australia dengan alasan "adanya peningkatan serangan rasis terhadap orang China dan keturunan Asia lainnya".

Media pemerintah China menyebut larangan ini hanyalah reaksi atas apa yang mereka sebut sebagai "kebijakan anti China di Australia".

Tindakan Pemerintah China di sektor pendidikan kali ini diharapkan tidak akan mempunyai dampak jangka panjang bagi Australia.

Menurut CEO Asosiasi Pendidikan Internasional, Phil Honeywood saat ini perbatasan Australia masih ditutup bagi kedatangan mahasiswa internasional. Butuh waktu sebelum dibuka sepenuhnya.

"Hal ini memberikan banyak waktu bagi para menteri untuk mengatasi kesalahpahaman dan isu yang dilontarkan Pemerintah China," katanya.

Namun upaya sejumlah pejabat Australia untuk berdialog dengan mitranya di China telah mengalami kegagalan.

Menteri Perdagangan dan Pariwisata Simon Birmingham misalnya, sampai kini belum berhasil melakukan pembicaraan dengan Menteri Perdagangan China.

"Sayang sekali, permintaan kami untuk mendiskusikan hal ini, tidak mendapat tanggapan," katanya kepada program radio ABC.

Dua orang mahasiswa asal China di Australia yang dihubungi ABC News mengaku sudah mendengar adanya peringatan dari Biro Pendidikan tersebut.

"Saya mendengar adanya kejadian rasis tapi saya jarang keluar selama pandemi sehingga secara pribadi tidak terpengaruh," kata Yu Yan, mahasiswa Sydney University.

"Diskriminasi terhadap warga keturunan Asia di Australia selalu ada, tapi kali ini mereka mendapatkan alasan untuk itu," katanya.

Mahasiswa lainnya, Michelle Ren yang kuliah di Hobar, Tasmania juga mengaku tidak pernah mengalami langsung serangan rasis.

"Tidak biasa terjadi. Hanya segelintir orang melakukannya dan hanya segelintir orang yang mengalaminya," ujarnya.

"Tapi banyak teman dan keluarga di China yang khawatir. Mereka menanyakan situasi sebenarnya di Australia," kata Ren.

"Mereka khawatir. Hubungan antara China dan Australia tidak begitu bagus sehingga mungkin berdampak secara negatif pada mahasiswa yang ingin kuliah di sini.

Pada April lalu, dua mahasiswa Melbourne University mendapatkan perlakuan rasis dari dua wanita yang meneriaki mereka "virus corona".

Kejadian tersebut, serta kejadian lainnya mulai dari sikap Australia terhadap isu HAM di China, Hong Kong, dan isu Laut China Selatan, menjadi bahan bagi media Pemerintah China untuk menyerang Australia.

Selain itu, juga isu larangan Australia bagi Huawei untik ikut tender jaringan 5G serta desakan untuk menggelar penyelidikan asal-usul penyebaran COVID-19.

Load More