Agung Sandy Lesmana | Ria Rizki Nirmala Sari
Selasa, 07 Juli 2020 | 18:04 WIB
Ilustrasi-- Penampakan tulisan lockdown kawasan wajib pakai masker di RW Zona Merah di Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit. (Suara.com/Arga).

Suara.com - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) melakukan survei terkait kondisi ekonomi rumah tangga kepada 8.000 responden yang tinggal di kawasan zona merah Covid-19.

Hasilnya, sebagian besar responden khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok.

Kekhawatiran itu muncul akibat adanya dampak ekonomi yang diakibatkan pandemi Covid-19. Dengan berada di zona merah, maka segala kegiatan penduduknya pun harus dibatasi demi menahan penularan virus yang makin meluas.

Peneliti LSI Adrian Sopa mengatakan setidaknya ada 84,2 persen responden yang merasa sangat atau cukup khawatir tidak mampu membeli kebutuhan sehari-hari. Namun di samping itu ada 15,1 persen responden yang mengaku tidak khawatir atau sangat tidak khawatir dan 0,7 persen memilih tidak tahu atau tidak menjawab.

"Mereka yang menyatakan khawatir juga merata di semua segmen. Baik mereka yang pendidikan tinggi maupun rendah, kelas ekonomi atas maupun bawah, laki-laki maupun perempuan, semua penganut agama, muda maupun tua dan di semua segmen konstituen partai," kata Sopa dalam paparan yang dijelaskan secara virtual, Selasa (7/7/2020).

Dari hasil survei lainnya ditemukan bahwa kategori wong cilik lah yang paling khawatir tidak mampu membeli kebutuhan sehari-hari. Setidaknya ada 89,6 persen dari 29,3 persen base responden berpendapatan di bawah Rp 1,5 juta yang mengaku khawatir. 9,8 persen lainnya mengaku tidak khawatir dan 0,6 persen responden memilih tidak menjawab atau tidak tahu.

Kemudian sebanyak 87,4 persen dari 35,6 persen base responden berpendapatan Rp 1,5 juta - Rp 3 juta juga memiliki kekhwatiran yang sama. Begitu pula terjadi pada 81,9 persen dari 21,1 persen responden yang memiliki pendapatan Rp 3 juta - Rp 4,5 juta mengaku sangat khawatir.

Kekhawatiran tersebut juga nyatanya dirasakan oleh 67,7 persen dari 14 persen base responden yang memiliki pendapatan di atas Rp 4,5 juta.

LSI pun memberikan rekomendasi agar kekhawatiran masyarakat tersebut tidak memiliki efek buruk ke depannya. Salah satunya ialah menjaga tidak terjadinya krisis sosial.

"Dengan persepsi publik terhadap ekonomi yang berada di zona merah, maka saat ini publik seperti rumput kering yang mudah dibakar," ujarnya.