Suara.com - Sebanyak 80.000 anak jadi gelandangan dan mengungsi di Lebanon setelah rumah mereka rusak dalam ledakan besar Selasa di Beirut, kata Unicef.
Tim penyelamat masih mencari mayat di puing-puing pelabuhan Beirut untuk mayat setelah hampir tiga hari setelah ledakan mengirimkan gelombang kehancuran di sekitar kota.
Dilansir dari Metro UK, hingga saat ini sedikitnya 154 orang meninggal dan melukai ribuan lainnya. Lusinan masih hilang dengan jumlah yang terluka berdiri di lebih dari 5.000 kemarin.
Sekitar 300.000 orang atau lebih dari 12 persen populasi Beirut - tidak dapat kembali ke rumah mereka karena ledakan, yang meledakkan pintu dan jendela di seluruh kota dan menyebabkan banyak bangunan tidak dapat dihuni.
Lebih dari seperempatnya diyakini adalah anak-anak. Kemarin UNICEF menyatakan prihatin bahwa banyak anak yang mengalami trauma dan tetap shock.
Violet Speek-Warnery, Deputy Representative UNICEF di Lebanon, mengatakan: `` selama 48 jam terakhir, pihaknya terus berkoordinasi erat dengan pihak berwenang dan mitra di lapangan untuk menanggapi kebutuhan mendesak keluarga yang terkena dampak, dengan fokus pada kesehatan, air dan kesejahteraan anak-anak.
Organisasi tersebut menambahkan kemarin bahwa ada banyak laporan tentang anak-anak yang telah dipisahkan dari anggota keluarga. Beberapa di antaranya masih hilang, dan rumah sakit anak-anak di daerah Karantina, yang memiliki unit khusus merawat bayi yang baru lahir kritis, hancur.
Ledakan itu juga menghancurkan lingkungan di dekat pelabuhan, merusak sekolah dan membuat beberapa blok kota berserakan dengan kaca dan puing-puing.
Para pejabat memperkirakan kerugian mencapai $ 10 miliar menjadi $ 15 miliar. Menteri Kesehatan Lebanon Hamad Hasan mengatakan hari ini bahwa satu dari lima dari sekitar 5.000 orang yang terluka harus dirawat di rumah sakit, dan 120 berada dalam kondisi kritis.
Baca Juga: Demonstran Minta Presiden Prancis Lengserkan Presiden Libanon
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Skandal Suap BEM UBK Usai Bertemu Gibran di Istana, Siapa Bermain?
-
2 Calon Manajer Kopdes Merah Putih Tewas saat Latihan Militer, Ini Penyebabnya
-
Teriak 'Kaki Saya Patah' saat Jaga Demo di DPR, Ternyata Ini Diagnosis Medis AKBP Adri Desas
-
Kritik Pedas Mobilisasi Siswa Batam Demi Program MBG: Menyesatkan dan Tak Mendidik
-
Buntut Kasus Gus Yaqut, KPK Periksa Dirjen PHU Kemenag Hilman Latief
-
Suap Ketua BEM UBK Coreng Wajah Gerakan Mahasiswa, Aktivisme Bayaran Jadi Penyakit Akut
-
Dini Hari Mencekam di Duren Sawit: Api Lahap Warung Kelontong, 18 Jiwa Nyaris Terpanggang
-
Anak Sekolah Rawan Terinjak di Demo Makan Gratis Batam: Siapa yang Harus Diseret ke Hukum?
-
Kecelakaan Truk di Flyover Tomang, Material Besi Berserakan Lumpuhkan Jalur
-
Perpecahan di Partai Republik? Kongres AS Desak Trump Hentikan Agresi Militer ke Iran