Suara.com - Pemerintah India kembali melarang aplikasi buatan China, termasuk salah satu game favorit saat ini yaitu PUBG Mobile buatan Tencent.
Menyadur Gulf News, Rabu (3/9/2020) larangan aplikasi PUBG Mobile oleh pemerintah tersebut sudah ditunggu-tunggu oleh banyak orang tua di India, namun banyak anak-anak yang kecewa akan keputusan tersebut.
Banyak orang tua mengeluhkan video game buatan China tersebut dapat mengganggu studi anak-anak mereka dan beberapa laporan tentang kecanduan yang ekstrem terhadap game membuat banyak orang tua dan guru khawatir tentang kesehatan mental mereka.
Saat para orang tua lega ketika pemerintah menerbitkan daftar baru dari aplikasi yang dilarang, banyak pemain dari game tersebut masih mencoba menerima kenyataan baru.
Aniket Krishnatray, seorang mahasiswa BTech dari Delhi, mengatakan dia menerima keputusan itu karena ketegangan perbatasan India dengan China.
"Saya baru mengetahui berita mengejutkan tentang pelarangan PUBG di India. Meskipun orang tua saya cukup senang dengan keputusan ini, bagi saya itu mengecewakan, karena selama lockdown itu adalah satu-satunya alat saya untuk menyingkirkan begitu banyak hal yang monoton," ujar Krishnatray kepada IANS.
"Pemerintah telah melarang banyak aplikasi tetapi kami membutuhkan alternatif," tambahnya.
Berita larangan PUBG Mobile menyebar dengan cepat di platform media sosial dan dalam beberapa menit "PUBG Banned" menjadi trending topic di Twitter.
Banyak pencinta PUBG Mobile India menulis kesedihan karena mereka harus melewati hari-hari tanpa memainkan game tersebut.
Baca Juga: 78 Ribu Kasus Covid-19 Dalam Sehari, India Tetap Longgarkan Karantina
Aplikasi game PUBG yang sudah diunduh lebih dari 600 juta kali ini memiliki jutaan pengguna, terutama anak muda di India.
Langkah India untuk melarang PUBG Mobile dan 117 aplikasi China lainnya datang setelah agresi baru China di wilayah India di Pangong Tso di Ladakh timur.
"Langkah ini akan melindungi kepentingan jutaan pengguna seluler dan internet India. Keputusan ini merupakan langkah yang ditargetkan untuk memastikan keselamatan, keamanan dan kedaulatan dunia maya India," kata Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi (MeitY) dalam sebuah pernyataan.
Pengacara Mishi Choudhary mengatakan bahwa pemerintah India memiliki kekuasaan untuk membatasi akses ke aplikasi berdasarkan Pasal 69A dari Undang-Undang Teknologi Informasi.
"Apakah 59 aplikasi dilarang atau 118, semua ini menggarisbawahi bagaimana masalah teknologi dan geopolitik menjadi dua jalinan," kata Choudhary, yang juga Pendiri SFLC.in, sebuah organisasi layanan hukum yang bekerja di bidang teknologi. Ia mengungkapkan bahwa India perlu menyusun sebuah undang-undang perlindungan data.
Sementara itu, perusahaan startup India menyambut baik keputusan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Bagaimana Cara Menonton Film Pesta Babi? Ini Syarat dan Prosedurnya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Film Pesta Babi Viral, Haedar Nashir Wanti-wanti soal Dominasi Politik di Papua
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
APJII: Penetrasi Internet Indonesia 2026 Capai 81,72 Persen, Jawa Masih Mendominasi
-
RS Sumber Waras Bantah Rawat Selebgram Ansy Jan De Vries usai Diduga jadi Korban Begal
-
Pemindahan Ibu Kota Negara Masih Tunggu Keppres, Pakar Desak Pemerintah Segera Tetapkan Arah Jelas
-
Kondisi Masih Rawan, Pemerintah Terus Siaga Soal WNI Ditahan Israel
-
Imigrasi Palopo Terapkan 90 Persen Layanan Digital, Pemohon Paspor Makin Dimudahkan
-
Usai dari DPR, Prabowo Dijadwalkan Hadir ke Pameran Pengusaha Minyak
-
Ahmad Bahar Tegaskan Damai dengan GRIB Jaya Tak Berlaku untuk Kasus Putrinya
-
Dosen UPN Veteran Yogyakarta Dinonaktifkan Usai Dilaporkan Terkait Kasus Kekerasan Seksual