Suara.com - Pejabat Inggris mengecam pemberitaan media China mengenai penemuan virus corona baru yang lebih berbahaya dan menyebutnya "pulau yang terisolasi."
Menyadur Express, Jumat (25/12/2020) surat kabar Global Times, yang memiliki hubungan dengan pemerintah Partai Komunis China, mengatakan Inggris menjadi "pulau yang terisolasi". Sejumlah laporan media lain juga mengecap Inggris sebagai "orang sakit di Eropa".
Anggota parlemen Tobias Ellwood, ketua komite terpilih Pertahanan Pemerintah Inggris, mengecam China atas pemberitaan tersebut.
Ellwood menuduh China telah mencoba menyembunyikan wabah aslinya dan menambahkan bahwa mereka masih tetap mengkritik negara lain.
"Namun di sini mereka mengkritik kami karena secara terbuka berbagi pengetahuan kami tentang mutasi Covid-19." ujar Ellwood kepada The Sun.
Ellwood juga menyalahkan PKT karena "melepaskan" Covid-19 dan mengatakan harus "menunjukkan kerendahan hatinya" serta menyebut pandemi Covid-19 "menghancurkan".
The Global Times juga menyebut Inggris "terombang-ambing dan sendirian di Atlantik Utara" menyusul larangan penerbangan internasional karena dikhawatirkan akan menyebarkan virus.
"Wabah baru yang disebabkan oleh virus corona mutan ini mungkin telah mendorong prestise internasional negara itu ke level terendah sejak Kerajaan Inggris," ujar Elwood.
"Kondisi nasionalnya hampir tidak dapat mendukung mentalitas dan ambisi imperialistiknya." sambungnya.
Baca Juga: Sikap Mourinho Sudah 'Bunuh' Kepercayaan Diri Dele Alli
Pemberitaan tersebut muncul setelah China juga ikut menangguhkan penerbangan langsung dari dan menuju Inggris, seperti sejumlah negara lainnya.
"Setelah banyak pertimbangan, China telah memutuskan untuk mengambil referensi dari negara lain dan menangguhkan penerbangan ke dan dari Inggris." jelas Wang Wenbin, juru bicara kementerian luar negeri China
Strain virus Covid-19 baru, yang secara resmi disebut VUI-202012/01, terdeteksi di tenggara Inggris minggu lalu.
Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan strain tersebut kemungkinan telah menular warga Inggris hingga 70 persen.
Kepala ilmuwan pemerintah, Sir Patrick Vallance, mengatakan strain baru ini "menjadi varian dominan", meskipun tidak ada bukti bahwa lebih mematikan daripada sebelumnya.
Pada saat yang sama ketika China memberlakukan larangan perjalanan ke Inggris, Prancis membuka kembali perbatasannya dengan Inggris.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
La Ode Ahmad: Koperasi Merah Putih Harus Jadi Pusat Ekonomi Desa, Bukan Cuma Proyek Fisik
-
Kawal Visi Transparansi, Jaga Desa Beri Penghargaan bagi Pelopor Desa Bebas Korupsi
-
Prabowo Subianto dan Luhut Binsar Pandjaitan Bahas Strategi Jaga Stabilitas Ekonomi
-
Ketua API Kritik Pernyataan JK Soal Konflik Agama
-
KRL Mati Listrik di Lintas KebayoranSudimara, KAI Commuter Sebut Gangguan Gardu PLN
-
Dony Oskaria: Karyawan BUMN Harus Aktif Jelaskan Kebijakan Negara ke Publik
-
Kemlu Pastikan 13 WNI Selamat dari Kebakaran Besar di Malaysia, Begini Kondisinya
-
UU PPRT Disahkan: Menteri PPPA Pastikan Tak Ada Lagi Pekerja Tanpa Perlindungan
-
Lansia Tewas Tertabrak KRL di Rawa Buaya Jakarta Barat, Identitas Masih Misteri
-
Tak Cuma Berebut Minyak dan Rute Dagang: Siapa Saja Kubu yang Berebut Uranium Iran?