Suara.com - Setidaknya empat orang tewas di kota Chittagong Bangladesh pada hari Jumat (26/3) saat ikut aksi demonstrasi menolak kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke negara tersebut.
Menyadur Straits Times, Sabtu (27/3/2021) Kepolisian Bangladesh menembaki pengunjuk rasa selama demonstrasi menentang kunjungan Narendra Modi selama dua hari tersebut.
"Kami harus menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan mereka saat mereka memasuki kantor polisi dan melakukan vandalisme ekstensif," kata Rafiqul Islam, seorang pejabat polisi Bangladesh.
Narendra Modi tiba di ibu kota Dhaka untuk berkunjung selama dua hari untuk merayakan ulang tahun ke-50 kemerdekaan Bangladesh.
Para pengunjuk rasa di Chittagong berasal dari Hefazat-e-Islam Bangladesh, sebuah kelompok Islam garis keras yang menentang kunjungan Modi, yang menurut para kritikus telah mendorong agenda pertama Hindu di India.
Ruhul Amin, administrator pemerintah Hathazari mengatakan hingga 1.500 pendukung Hefazat menyerang kantor polisi dan meneriakkan slogan anti-Modi. "Mereka menyerang kami secara tiba-tiba," katanya.
"Kami menemukan empat mayat. Mereka semua terkena peluru. Tiga di antaranya adalah siswa madrasah dan satu lagi penjahit," kata Alauddin Talukder, seorang inspektur polisi di Rumah Sakit Universitas Kedokteran Chittagong kepada AFP.
Dia mengatakan setidaknya empat pengunjuk rasa lainnya terluka parah, tetapi tidak mengatakan siapa yang melepaskan tembakan.
Hathazari adalah kota bagi salah satu madrasah terbesar di Bangladesh dan merupakan markas besar Hefazat, yang dibentuk pada tahun 2010 dan diyakini sebagai organisasi Islam garis keras terbesar di Bangladesh.
Baca Juga: Masih Misterius, Pengungsian Rohingya Terbakar, 15 Tewas dan 400 Hilang
Juru bicara Hefazat Mir Idris menuduh polisi "melepaskan tembakan" ke demonstran "damai" mereka.
"Ada sekitar 5.000 pengunjuk rasa. Mereka semua adalah pendukung Hefazat dan sebagian besar adalah pelajar madrasah. Mereka memprotes kunjungan Modi dan tindakan polisi terhadap pengunjuk rasa di Dhaka," katanya.
Dia merujuk pada bentrokan kecil yang terjadi di kompleks masjid terbesar di kota Dhaka setelah salat Jumat. Setidaknya sembilan dari pengunjuk rasa ini terluka, katanya.
Selain Hefazat, berbagai kelompok, termasuk pelajar, kelompok kiri dan kelompok Islam lainnya juga ikut ambil bagian melakukan protes selama beberapa hari terakhir menentang kunjungan Modi.
Mereka menuduh Modi memicu ketegangan agama dan menghasut kekerasan anti-Muslim di negara bagian Gujarat, India pada tahun 2002, yang menewaskan sekitar 1.000 orang. Modi adalah menteri utama Gujarat pada saat itu.
Pada hari Kamis, lebih dari 40 orang terluka, termasuk empat petugas polisi, selama aksi demonstrasi yang digelar oleh mahasiswa. Sedikitnya 33 orang ditahan atas insiden tersebut.
Bentrokan juga terjadi di Universitas Dhaka yang dikelola negara pada Kamis malam, ketika aktivis mahasiswa pro-pemerintah diduga memukuli puluhan pengunjuk rasa mahasiswa anti-Modi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Parigi Moutong Diguncang Gempa M 6,2 Tengah Malam, BMKG Minta Warga Waspada
-
Pengibaran Bendera Bulan Bintang Picu Bentrok di Masjid Raya Baiturrahman
-
Air Laut Surut Lalu Masuk Permukiman, Warga Pasimarannu Panik Mengungsi Mandiri
-
Soroti Manuver Politik di Kasus Eks Jampidsus, Sejumlah Akademisi Minta Prabowo Turun Tangan
-
Dua Pidato di DPR Tunjukkan Arah Ekonomi Prabowo Semakin Jelas
-
Gempa NTT, Selly Gantina Minta Pemerintah Segera Tembus Daerah Berdampak
-
PTBA Kembali Hadirkan BIDIKSIBA, Buka Jalan Generasi Muda Menuju Pendidikan Tinggi
-
Spot 17-an Kekinian di Blok M: Dari Secret Gig sampai Tantangan Senyum!
-
Beras Fortifikasi Jadi Pelarian Produsen Akibat Melonjaknya Harga Gabah
-
Hendardi Singgung Manuver Hukum Eks Jampidsus, Dinilai Kelabui Publik Soal Substansi Perkara