Suara.com - Kepolisian menyebut pelaku teror di Mabes Polri dan pelaku bom bunuh diri di Makassar meninggalkan pesan tertulis kepada keluarga mereka.
Walau pihak keluarga pelaku belum mengonfirmasi kebenaran pesan atau yang kini banyak disebut sebagai surat wasiat itu, isinya sudah viral di media sosial.
Pola meninggalkan pesan sebelum melakukan aksi teror bukan baru kali ini muncul, kata mantan anggota Jemaah Islamiyah.
Para pelaku Bom Bali yang tergabung dalam organisasi teror itu dulu meninggalkan pesan lewat rekaman video.
Bukannya menyebar atau merundung pelaku teror, masyarakat, terutama muda-mudi, didorong berempati dan menyelamatkan orang yang berpotensi terjerumus terorisme.
Adapun Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendesak Kementerian Komunikasi dan Informasi membatasi peredaran pesan pelaku teror.
- 'Saya hampir jadi teroris': Kisah perempuan yang 'dicuci otak' agar bergabung kelompok Islam ekstrem
- 'Milenial' terlibat bom bunuh diri Makassar, bagaimana antisipasi perekrutan via media sosial?
- 'Terduga teroris berideologi ISIS', polisi ungkap identitas perempuan 25 tahun pelaku 'serangan tembakan' di Mabes Polri
Ali Fauzi, mantan pembuat bom yang pernah bergabung dengan organisasi teror Jemaah Islamiyah, menyebut sejumlah pelaku Bom Bali meninggalkan pesan untuk keluarga sebelum melakukan aksi.
Pesan dalam bentuk video itu, kata Ali, hampir sama dengan pesan Zakiah Aini, pelaku teror di Jakarta dan Lukman Alfariz, yang meledakkan bom di depan Gereja Katedral Makassar.
"Mereka membuat pesan audio visual untuk orang tua, istri, anak, dan saudara-saudaranya. Banyak narasi dalam pesan itu adalah harapan kenikmatan surga," ujar Ali, Kamis (01/04).
Baca Juga: Ular Piton Teror Permukiman di Gunungkidul, Warga Takut Ternak Jadi Korban
"Jadi ini lebih dulu dilakukan para pelaku bom yang digalang Jemaah Islamiyah," ucapnya.
Menurut Ali, lewat pesan terakhir itu para pelaku teror berharap ada orang-orang lain yang meniru perbuatan mereka.
"Kalau dibaca oleh orang-orang yang berpikiran pendek, pesan itu bisa sangat berbahaya. Jadi sangat penting membuat generasi muda yang kebal terhadap paham ekstrem," kata Ali.
Tren dan tujuan di balik pesan pelaku teror itu juga diamati Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris, bahwa surat wasiat itu dibuat untuk menggaet pelaku baru serta menyebarkan wacana soal surga yang mereka yakini.
Menurut Irfan, menyebarluaskan pesan itu ke publik justru akan membantu para pelaku teror mencapai tujuan mereka, terutama ke sesama orang muda.
Pelaku aksi teror di Makassar dan Jakarta rata-rata berumur pertengahan dua puluhan tahun.
"Jangan sampai yang sudah bercita-cita melakukan teror terpicu dengan beredarnya pesan seperti itu," kata Irfan.
"Generasi muda satu paket dengan militansi. Militansi itu seperti bensin, bisa setiap saat terbakar jika ada yang memicu.
"Yang tidak punya persiapan apa-apa saja bisa mengikuti perbuatan itu, apalagi orang yang sudah menekuni paham ekstrem," ujarnya.
Irfan menduga, Zakiah sudah terpapar radikalisme sejak memutuskan berhenti kuliah. Ia yakin Zakiah terdorong menyerang markas besar Polri setelah membaca surat Lukman Alfariz.
Pesan Lukman beredar di media sosial setelah dia tewas meledakkan diri di Gereja Katedral Makassar. Kini giliran pesan Zakiah yang viral.
Irfan berpendapat, Kominfo adalah otoritas terdepan yang perlu mencegah peredaran dan glorifikasi pesan pelaku teror.
Selama ini kementerian tersebut secara rutin menutup situs yang mereka anggap mengandung konten ekstremisme.
BBC Indonesia sudah berusaha menghubungi Kepala Humas Kominfo, Ferdinandus Setu, untuk mendapat keterangan soal peredaran pesan pelaku teror itu.
Namun hingga berita ini diterbitkan, Ferdinandus belum menanggapi permintaan wawancara.
Sementara saat dikonfirmasi tentang peradaran pesan itu, juru bicara Mabes Polri Irjen Argo Yuwono berkata, "Kami lakukan soft power dengan edukasi kepada masyarakat."
Bagaimanapun, di tingkat akar rumput, publik semestinya menunjukkan empati saat membaca pesan pelaku teror. Ini dikatakan Mohammad Aan Anshori, Ketua Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD).
Berempati, menurut Aan, bukan berarti mendukung paham dan terorisme.
"Pelaku seperti Zakiah ini harus dilihat sebagai korban. Setelah melihat pesannya, kita merundung dan mengecam," kata Aan.
"Jika dia masih hidup, apakah pemikirannya akan sembuh atau dia justru semakin yakin bahwa pemikirannya benar?
"Jadi kita harus menghentikan aneka hujatan dan berempati pada pelaku dan calon pelaku yang sebenarnya korban ekstremisme," ujar Aan.
Lebih dari itu, Aan mendorong agar generasi muda membiasakan diri berbaur dengan penganut agama dan keyakinan lain.
Merujuk sejumlah survei dan penelitian, Aan menyebut masyarakat Indonesia lebih memilih hidup dalam kelompok homogen.
Padahal hidup dalam komunitas homogen disebut Aan justru menyuburkan pandangan bias, stereotip negatif, dan prasangka.
"Generasi muda non-Islam, terutama yang Kristiani, jangan takut dengan aksi teror ini dan justru semakin membaur dengan generasi muda Islam," kata Aan.
"Kalau orang muda Islam dibiarkan hidup dalam komunitas mereka sendiri, maka mereka tinggal tunggu waktu untuk bisa terprovokasi.
"Kita perlu silang integrasi, lebih saling berbaur. Mulailah menambah teman yang berbeda agama.
"Jika kita takut berbaur, kita akan semakin hidup secara homogen dan friksi di antarkelompok malah akan semakin tajam," ujar Aan.
Menurut survei BNPT yang dipublikasi Desember 2020, 85% generasi milenial Indonesia disebut rentan terpapar radikalisme.
Sementara setahun sebelumnya, kajian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian mengungkap bahwa 52% pelajar mendukung radikalisme berbasis agama.
Berita Terkait
-
Khawatir Teror, Rumah Koordinator AMPB Botok dan Teguh Dijaga Warga Pati
-
Serangan Beruntun Guncang Thailand Selatan, Narathiwat Terapkan Jam Malam
-
"Paket Santet" Hadirkan Teror Lewat Kiriman Online dan Dendam Masa Lalu
-
Bom Bunuh Diri Meledak Tewaskan 14 Orang di Lembah Swat
-
Ulasan Film Unlocked: Ketika Kehilangan Ponsel Jadi Awal Teror Paling Nyata
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
Pilihan
-
Massa Bikin Barikade di Jalan Palmerah Utara, Hadapi Polisi yang Tembakkan Gas Air Mata
-
Palmerah Dihujani Gas Air Mata oleh Polisi, Massa Terus Melawan
-
Dua Sepeda Motor yang Dibakar Massa di Pos Polisi Pejompongan Diduga Milik Intel
-
Sepeda Motor Dibakar Dekat Pos Polisi Pejompongan, Bentrok Pecah
-
Tolak MBG dan Kopdes, FMN: Anggaran Hanya Lari ke Prabowo dan Kroni-kroninya!
Terkini
-
Momen Hangat Rudy Susmanto di Balai Kesejahteraan Sosial: Dari Beri Makan Warga hingga Cek Fasilitas
-
Massa Pati Dikecam Ojol usai Tinggalkan Aksi DPR, Botok Buka Suara
-
Palmerah Dihujani Gas Air Mata oleh Polisi, Massa Masih Terus Melawan
-
Cerita Suara Dentuman Kagetkan Warga Pandeglang: Rumah Hancur Meledak, Penghuni Berhamburan
-
AMPB Akhirnya Minta Maaf ke Ojol Usai Dikecam karena Tinggalkan Massa Aksi di Jakarta
-
Perang 400 Anggota Gangster Pecah di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Satu Orang Terluka Bacok
-
Massa Bikin Barikade di Jalan Palmerah Utara, Hadapi Polisi yang Tembakkan Gas Air Mata
-
Revaldo Kembali Tergiur Narkoba Setelah Bertemu Pemasok di Bogor
-
Demo DPR Ricuh, Polisi Bubarkan Massa dengan Gas Air Mata
-
Palmerah Membara: Pospol Petamburan Dikabarkan Dibakar Massa, Gas Air Mata Pecah Berkali-kali