Suara.com - Ketua Relawan Jokowi Mania (Joman) Immanuel Ebenezer menilai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno layak dicopot dari jabatan. Pernyataan tersebut menyusul mencuatnya isu reshuffle. Pun dia menilai ada sejumlah nama yang dirasa cocok menggantikan Pratikno.
Pertama, kata Immanuel, sosok yang dirasa tepat menjabat sebagai Mensesneg ialah Yusril Ihza Mahendra.
"Dari pengalaman-pengalaman yang ada, yang menguasai ketatanegaraan dan berkenaan dengan negara saya rasa Pak Yusril layak untuk menggantikan Pak Pratikno," kata Immanuel dalam diskusi daring yang tayang di kanal YouTube Republik Merdeka TV, Selasa (13/4/2021).
Immanuel kemudian menyebutkan satu nama lagi yang ia nilai pantas menggantikan Pratikno, apabila memang kocok ulang menteri dilakukan di pos Kemensesneg.
"Selain Yusril ada juga mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie. Itu kan mereka orang-orang yang secara keilmuan atau secara apa gitu mereka mumpuni gitu dua orang itu," kata Immanuel.
Sebelumnya, Immanuel Ebenezer menilai setidaknya ada lima menteri di kabinet yang harus dikocok ulang. Salah satunya ialah Menteri Sekretaris Negara Pratikno.
Pratikno dianggap Immanuel memiliki pengaruh yang terlalu berbahaya bagi Presiden Joko Widodo. Karena itu Joman menilai Pratikno layak digeser dari jabatannya.
"Menurut saya lima menteri ini juga harus menjadi perhatian khusus bapak presiden karena bahaya. Apalagi Pratikno. Menurut kita Pratikno ini menteri yang selalu menjerumuskan presiden dalam jurang politik yang menurut saya bahaya sekali," kata Immnanuel.
Immnuel mengatakan kocok ulang menteri atau reshuffle sudah menjadi kebutuhan bagi Presiden Jokowi.
Baca Juga: Disebut Berbahaya Jerumuskan Jokowi, Mensesneg Pratikno Layak Di-Reshuffle
Terlebih menyusuk langkah Jokowi yang meleburkan Kemenristek menjadi satu dengan Kemendikbud, ditambah pembentukan Kementerian Investasi.
Immanule menyebutkan empat menteri lainnya yang perlu dilakukan perombakan ialah Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menkominfo Jhonny G Plate, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, dan Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil.
"Jadi ya menurut saya presiden harus peka kalau tidak peka ini bahaya. Bahayanya begini karena ini kan semua sudah pada konsentrasi di 2024. Nah makanya yang saya khawatirkan menteri-menteri yang ikut-ikutan atau coba ketularan dengan penyakit Pemilu saya rasa lebih baik mundur atau ya presiden harus mencopot, ini bahaya sekali buat legacy presiden itu sendiri," katanya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
Terkini
-
Polisi Sebut WFH ASN Bikin Jalanan Jakarta Lebih Lengang Hari Ini
-
Geledah Rumah PNS dan Pihak Swasta, KPK Amankan Bukti Kasus Pemerasan dan Gratifikasi di Madiun
-
Ogah Santai Saat WFH Jumat, Pramono Anung Pantau Pengerukan Kanal Banjir Barat
-
Ngaku Bisa Atur Kasus Korupsi, 4 Petugas KPK Gadungan Ditangkap
-
WFH Jumat Perdana, Sebagian Kursi ASN Jakarta di Balai Kota Tak Terisi
-
Indonesia Lebih Dulu, Kenapa Donald Trump Pilih Pakistan Jadi Mediator Damai?
-
Iran Endus Rencana Licik AS: Curiga Sabotase Perundingan dan Jadikan Israel Tameng
-
BRIN Kembangkan Teknologi Plasma, Mungkinkah Produksi Pupuk Lebih Ramah Lingkungan?
-
Gencatan Senjata Terancam Batal, Iran Bersumpah Bakal Hanguskan Seluruh Aset AS di Timur Tengah
-
Netanyahu Siap Negosiasi Langsung dengan Lebanon Usai Serangan Maut