Suara.com - Aktivis antikorupsi Alexei Navalny sejak lama sudah menjadi tokoh paling menonjol dari kelompok oposisi yang menentang Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Navalny tidak berhenti melontarkan kritik meski dia dijatuhi hukuman penjara, bahkan sempat nyaris mati tewas dibunuh.
Senin (26/04) ini, jaksa penuntut memerintahkan kantor-kantor Navalny menghentikan aktivitas di seluruh negara. Pekan ini, pengadilan di Moskow akan memutuskan apakah organisasi-organisasi yang dipimpin Navalny ditetapkan sebagai kelompok ekstremis.
Bila ditetapkan, para staf akan dapat menghadapi dakwaan kejahatan.
Tim Navalny menggambarkan langkah itu sebagai upaya menghancurkan oposisi politik yang damai di Rusia.
Kanselir Jerman, Angela Merkel melalui juru bicaranya mengatakan menggunakan instrumen anti-teror terhadap lawan politik tak pernah terjadi berdasarkan aturan hukum di manapun.
Akun media sosial laki-laki berusia 44 tahun itu diikuti jutaan pengikut orang di Rusia. Januari lalu, saat dia menggelar unjuk rasa anti-pemerintah, puluhan ribu orang menyatakan dukungan untuknya.
- AS ancam Rusia jika Alexei Navalny meninggal di penjara, mengapa Amerika berkepentingan atas nasib tokoh oposisi itu?
- Ribuan pendukung tokoh oposisi Rusia Navalny ditahan saat demo, apa saja yang kita ketahui sejauh ini?
- Kritikus Putin, Alexei Navalny ditahan 30 hari, AS dan Eropa tuntut ia dibebaskan
Navalny berkata, Partai Rusia Bersatu yang dipimpin Putin dipenuhi "penjahat dan pencuri". Dia menuduh Putin "menghisap darah keluar dari Rusia" melalui "negara feodal" yang memusatkan kekuasaan di Kremlin.
Navalny juga menuduh otoritas Rusia mencoba membunuhnya menggunakan racun saraf Novichok pada Agustus 2020.
Baca Juga: Sinopsis Film The Command, Kisah Nyata Tenggelamnya Kapal Selam Kursk Rusia
Dia selama ini memimpin protes berskala nasional terhadap pemerintahan Putin. Namun ia tidak mampu mengalahkan Putin dalam pemilihan umum.
Navalny dilarang mencalonkan diri pada pemilihan presiden tahun 2018 karena dinyatakan bersalah oleh pengadilan dalam kasus penggelapan.
Navalny dengan keras membantah dakwaan penggelapan itu. Menurutnya, putusan pengadilan tersebut adalah balasan Putin terhadap berbagai kritiknya.
Dalam kasus penggelapan ini, Navalny akhirnya dihukum penjara.
Selamat dari racun Novichok
Pertikaian Navalny dengan Putin bersifat sangat personal. Dia menuduh Putin memerintahkan agen intelijen Rusia untuk meracuninya.
Agustus 2020, Navalny nyaris tewas akibat keracunan. Dia pingsan saat pesawat yang ditumpanginya terbang di atas kawasan Siberia.
Setelah pesawat itu melakukan pendaratan darurat, Navalny dilarikan ke rumah sakit di Kota Omsk. Navalny mengalami koma.
Sebuah badan amal yang berbasis di Jerman waktu itu membujuk otoritas Rusia mengizinkan mereka menerbangkan Navalny ke Berlin untuk perawatan.
Pada 2 September 2020, pemerintah Jerman menyebut bahwa tes medis yang mereka lakukan menemukan "bukti tegas adanya racun saraf kimiawi" dalam tubuh Navalny.
Jerman menduga racun itu adalah Novichok.
Ini adalah senjata kimia yang hampir membunuh mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal, dan putrinya, Yulia, di Salisbury, Inggris, pada Maret 2018.
Seorang perempuan di kota itu belakangan meninggal karena terpapar racun Novichok.
Rusia membantah keterlibatan mereka dalam upaya meracuni Navalny. Mereka juga mengelak dari tuduhan penggunaan racun Novichok.
Namun Putin mengakui bahwa pemerintah Rusia mengawasi Navalny. Menurutnya pengawasan itu dapat dibenarkan. Alasannya, kata Putin, intelijen Amerika Serikat membantu Navalny.
Kelompok investigator Bellingcat menyebut agen intelijen luar negeri Rusia adalah pihak yang meracuni Navalny.
Dalam proses investigasi yang dramatis, Navalny menyamar sebagai pejabat keamanan senior Rusia. Dia menelepon dan merekam pengakuan salah satu agen telik sandi lembaga tersebut.
Oktober 2020, Uni Eropa menjatuhkan sanksi pada enam pejabat tinggi Rusia dan pusat penelitian senjata kimia negara itu.
Uni Eropa menuduh mereka terlibat langsung dalam upaya meracuni Navalny. Sanksi lanjutan dijatuhkan Uni Eropa dan Amerika Serikat Maret lalu.
Sebelum ini, Navalny sudah dua kali menjadi target. Dia sempat hendak diracuni pewarna hijau antiseptik. Navalny juga pernah menderita luka bakar kimia di matanya.
Kembali ke Rusia dan penjara
Saat memulihkan diri dari keracunan Novichok di Jerman, Navalny bersikeras akan kembali ke Rusia setelah merasa cukup sehat.
Dia menyatakan tidak ingin menjalani pengasingan politik. Itu ditepatinya pada 17 Januari silam, saat dia terbang dari Berlin menuju Moskow.
Tujuan akhir penerbangannya Navalny itu dialihkan ke bandara lain oleh otoritas Rusia. Mereka ingin membatasi jumlah orang yang menyambut Navalny. Namun dia akhirnya masih bisa ditemui para pendukungnya.
Meski begitu, sekelompok polisi sudah menanti Navalny. Saat menjalani pemeriksaan paspor, dia ditangkap.
Saat ditahan, beberapa demonstrasi antipemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir terjadi di seluruh Rusia.
Puluhan ribu orang turun ke jalan. Ribuan pendemo ditahan polisi.
Navalny kemudian dibawa ke pengadilan. Walau menyebut peradilan itu sebagai pelecehan terhadap keadilan, Navalny akhirnya dijatuhi hukuman dua setengah tahun penjara.
Navalny, menurut putusan pengadilan, melanggar pembebasan bersyarat pada hukuman yang dia jalani sebelumnya.
Navalny lalu dikirim ke salah satu penjara paling berat di Rusia, yaitu Penal Colony No.2.
"Saya tidak menyangka bahwa sangat mungkin mendirikan kamp konsentrasi yang hanya berjarak 100 kilometer dari Moskow," tulis Navalny di akun Instagram miliknya, tak lama setelah tiba di sana.
"Ada kamera pengawas di mana-mana, semua orang diawasi dan atas pelanggaran sekecil apa pun, para sipir membuat laporan," ujarnya.
Navalny membandingkan kondisi penjara itu dengan kisah dalam novel karya George Orwell, 1984.
Navalny berkata, dia dibangunkan penjaga penjara setiap jam sepanjang malam. Mereka melarangnya tidur dengan dalih bahwa dia adalah tahanan "berisiko tinggi" yang bisa mencoba melarikan diri.
Pertengahan Maret lalu, Navalny mulai mengeluhkan masalah kesehatan. Dia mengalami sakit punggung. Lengan dan kakinya mulai mati rasa.
Navalny meminta agar dokter dari luar penjara memeriksa kondisinya, tapi permohonan itu ditolak. Dia kemudian mogok makan sebagai bentuk protes.
Pada 16 April lalu, puluhan selebriti dari seluruh dunia menandatangani surat terbuka untuk Putin. Mereka menuntut agar Navalny menerima perawatan medis yang dia butuhkan.
Dua hari setelahnya, para pendukungnya dan sejumlah dokter berkata bahwa hasil tes darah Navalny menunjukkan penurunan kesehatan yang serius.
Keesokan harinya, otoritas penjara menyatakan Navalny telah dipindahkan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan, kata mereka, menunjukkan bahwa kondisi kesehatan Navalny "memuaskan".
Dalam wawancara dengan BBC, Duta Besar Rusia untuk Inggris, Andrei Kelin, mengatakan bahwa Navalny tidak dalam bahaya.
"Tentu saja dia tidak akan diizinkan mati di penjara, tapi saya dapat berkata bahwa Navalny berperilaku seperti fans sepak bola yang brutal, yang berusaha melanggar setiap aturan yang telah ditetapkan," kata Kelin.
Menurutnya, Navalny sedang berusaha menarik perhatian.
Kampanye antikorupsi
Munculnya Navalny sebagai salah satu kekuatan dalam perpolitikan Rusia dimulai tahun 2008.
Ketika itu dia menulis dugaan penyalahgunaan kewenangan dan korupsi di beberapa perusahaan besar yang dikendalikan pemerintah Rusia.
Salah satu taktik Navalny untuk mengetahui itu adalah dengan menjadi pemegang saham minoritas di perusahaan minyak dan bank.
Dia lalu mengajukan pertanyaan aneh tentang lubang dalam keuangan negara.
Di media sosial, Navalny menjangkau pengikutnya yang sebagian besar anak muda dengan bahasa yang tajam. Dia juga mencela sejumlah korporasi yang setia kepada Putin.
Navalny berbicara dengan bahasa jalanan khas generasi muda Rusia. Dia menggunakannya untuk memberi pengaruh yang kuat di media sosial.
Yayasan Anti Korupsi (FBK) miliknya sejauh ini sudah membuat tuduhan yang rinci tentang korupsi sejumlah pejabat Rusia.
Salah satu tuduhan itu dia kemas dalam video yang baru-baru ini dia unggah ke YouTube. Video itu tentang istana mewah yang luas milik Putin di tepi Laut Hitam.
Navalny menuduh, istana itu dihadiahkan sejumlah konglomerat Rusia kepada Putin. Dia menyebutnya sebagai "suap terbesar dalam sejarah".
Video yang diterbitkan setelah penangkapan Navalny itu sudah ditonton lebih dari 100 juta kali.
Kremlin menyangkal tuduhan itu dan menyebutnya sebagai "penyelidikan palsu".
Putin pun menyangkal klaim tersebut dan menyatakan tuduhan itu "membosankan".
Konglomerat sekaligus teman dekat Putin, Arkady Rotenberg, mengatakan istana itu adalah miliknya.
Biodata Alexei Navalny
- Lahir 4 Juni 1976 di Butyn, di wilayah Moskow
- Lulus bidang hukum di Universitas Persahabatan Moskow pada tahun 1998
- Menjadi anggota komunitas peneliti tamu di Univeristas Yale tahun 2010
- Tinggal di Moskow bersama istrinya Yulia. Mereka memiliki dua anak, yaitu Daria (kini sekolah di AS) dan Zakhar.
Navalny ditangkap dan dipenjara selama 15 hari setelah unjuk rasa pada Desember 2011. Juli 2013, dia kembali dipenjara dalam kasus penggelapan di kota Kirov. Hukuman lima tahun penjara terhadapnya secara luas dipandang politis.
Navalny tiba-tiba diizinkan keluar dari penjara untuk berkampanye dalam pemilihan wali kota Moskow. Meraih 27% suara, dia duduk di peringkat kedua, kalah dari sekutu Putin, Sergei Sobyanin.
Walau begitu, pencapaian Navalny tersebut dianggap kesuksesan yang dramatis karena dia tidak memiliki akses ke televisi pemerintah. Dia hanya mengandalkan internet dan kampanye dari mulut ke mulut.
Hukuman penjara bagi dia akhirnya dibatalkan Mahkamah Agung Rusia, menyusul keputusan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa bahwa Navalny tidak menjalani persidangan yang adil.
Dalam persidangan ulang tahun 2017, dia divonis untuk kedua kalinya dan dijatuhi hukuman percobaan lima tahun.
Dia menyebut putusan itu konyol dan menuding itu semua adalah upaya untuk menghambatnya mengikuti pemilu 2018.
Navalny berkata kepada BBC, hal terbaik yang bisa dilakukan negara-negara Barat untuk keadilan di Rusia adalah menindak "uang kotor".
"Saya ingin orang-orang yang terlibat dalam korupsi dan penganiayaan terhadap aktivis dilarang memasuki negara-negara [Barat] ini karena visa mereka ditolak."
Kritik terhadap Navalny
Navalny telah berbicara di ajang ultra-nasionalis sehingga mencemaskan kaum liberal.
Setelah hukumannya, dia menjadi fokus kontroversi baru atas komentar xenofobia yang dia buat di masa lalu, yang tidak dia sangkal.
Amnesty International mencabut statusnya sebagai "tahanan hati nurani" atas dasar video yang berasal dari tahun 2007.
Dalam video itu Navalny membandingkan konflik etnis dengan kerusakan gigi dan menyamakan imigran dengan kecoak.
Amnesti masih menyerukan pembebasannya, tapi menganggap dia dianiaya karena berkampanye melawan Presiden Putin.
Navalny juga menyebut Semenanjung Krimea "secara de facto adalah milik Rusia". Itu dia katakan meski ada kecaman internasional atas pencaplokan wilayah Ukraina oleh Rusia tahun 2014.
Terlepas dari jaringan antikorupsinya yang terorganisir dengan baik, ada keraguan tentang kemampuannya untuk memobilisasi dukungan yang signifikan di luar Rusia dan beberapa kota lainnya.
Berita Terkait
-
Panas! Presiden FIFA Gianni Infantino Ingin Cabut Sanksi Rusia, UEFA Lawan Mati-matian
-
Analis Rusia Prediksi Nikel Surplus 275.000 Metrik Ton, Singgung Indonesia
-
Pelabuhan Karimun Masuk Radar Sanksi Uni Eropa terkait Distribusi Minyak Rusia
-
Infantino Buka Pintu untuk Rusia, Sanksi FIFA Segera Dicabut
-
Epstein Gigih Dekati Vladimir Putin Selama Satu Dekade, Tawarkan Informasi 'Rahasia AS'
Terpopuler
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- Bukan Hanya Siswa, Guru pun Terkena Aturan Baru Penggunaan Ponsel di Sekolah Sulbar
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
Pilihan
-
Resmi! Kemenag Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Pada Kamis 19 Februari 2026
-
Hilal Tidak Terlihat di Makassar, Posisi Bulan Masih di Bawah Ufuk
-
Detik-detik Warga Bersih-bersih Rumah Kosong di Brebes, Berujung Temuan Mayat dalam Koper
-
Persib Bandung Bakal Boyong Ronald Koeman Jr, Berani Bayar Berapa?
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
Terkini
-
Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026, Ini Penjelasan Kemenag
-
Kemenag Tetapkan 1 Ramadan Pada Kamis 19 Februari, Mengapa Beda dengan Muhammadiyah?
-
Bertemu Wakil Palestina di PBB, Menlu Sugiono Tegaskan Dukungan Indonesia
-
Getok Tarif Parkir Rp100 Ribu, Polisi Ciduk 8 Jukir Liar di Tanah Abang
-
Resmi! Kemenag Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Pada Kamis 19 Februari 2026
-
Komdigi Siapkan Aturan Penggunaan AI, Lokataru Endus Motif Kepentingan Bisnis dan Politik
-
Sambangi Kelenteng Bio Hok Tek Tjeng Sin, Rano Karno Gaungkan Pesan Keadilan di Tahun Baru Imlek
-
Lokataru Minta Masalah Kebocoran Data Nasional Dievaluasi Sebelum Bahas RUU KKS
-
Intimidasi Makin Meluas, Ibu Ketua BEM UGM dan 30 Pengurus Jadi Sasaran Teror Digital
-
Lokataru Foundation: RUU KKS Berpotensi Jadi Alat Represif Baru