Suara.com - Deputi Bidang SDM Aparatur Kementerian PAN RB, Alex Denni mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam mendukung visi Indonesia Maju. Sehingga kata Denni perlu ada strategi dan akselerasi bagi ASN untuk menghadapi tantangan saat ini.
Tantangan yang pertama kata dia yakni disrupsi teknologi.
"Kami sering sekali berdiskusi tentang distrupsi teknolog, distrurpsi teknogi ini tidak mengenal batas ruang, waktu geografis dan lain-lain. Dia datang kemudian berkembang lebih cepat yang kita perkirakan," ujar Denni yang mewakili Menteri PAN RB Tjahjo Kumolo dalam acara Sosialisasi PP No. 94/2021 Tentang Disiplin PNS & PP No. 79/2021 Tentang Upaya Administrasi dan BPASN secara virtual, Rabu (6/10/2021).
Kemudian tantangan kedua yakni disruspi milenal. Kata Denni, pada tahun 2030, angkatan kerja di Indonesia 70 persen akan diisi oleh kaum milenial.
"Sebentar lagi kita dihadapkan disrupsi oleh milenial yang notabene adalah digital native. 70 persen angkatan kerja di Indonesia akan diisi oleh milenial (2030). Artinya ASN kita mungkin majority juga nanti milenial sekarang mungkin baru 45 persen, tetapi diperkirakan ke depan majority milenial. milenial akan melayani milenial," ucap dia.
Alex menuturkan milenal sekarang ini sebagai digital native yang sudah dimanjakan oleh produk-produk digital. Dari mulai memesan makanan, memesan ojek online, memesan buku dan kolaborasi dilakukan secara online.
"Bayangkan kalau di luar sana milenial kita dimanjakan oleh produk-produk digital, tetapi begitu berinteraksi dengan lembaga kementerian dan daerah, lalu mereka dihadapkan pada proses-proses yang ribet yang konvensional dan lain-lain bayangkan bisa frustasi milenial kita yang sudah dimanjakan oleh solusi solusi digital," kata dia.
"Tetapi begitu berhubungan dengan Kementerian lembaga mereka berhadapan dengan birokrasi yang lambat dan tentunya ini tantangan besar bagi kita," sambungnya.
Tantangan yang ketiga yakni Covid-19 yang membuat disrupsi menjadi combo. Kata Alex, tantangan yang diperkirakan akan terjadi 5 sampai 15 tahun kedepan, terjadi lebih cepat yang diperkirakan. Sehingga pemerintah perlu melakukan akselerasi transformasi digital.
Baca Juga: Menaker Ingin ASN Pengawas Ketenagakerjaan dan Penguji K3 Tingkatkan Integritas
"Kami tentu melakukan akselerasi dalam transformasi digital karena bagaimanapun juga 1 setengah tahun ini kita sudah dipaksa bekerja secara remote mobile kalau kita tidak memanfaatkan perkembangan teknologi digital tentu kita akan kehilangan momentum transformasi ini," kata A
lex.Namun kata Alex yang perlu dikhawatirkan adalah job shifting. Yakni adanya perubahan jabatan karena ada disrupsi.
Alex menyebut World Ekonomi Forum mempekirakan ada 85 juta pekerjaan akan hilang dalam 5 tahun ke depan. Namun 97 juta lebih pekerjaan baru akan lahir.
"97 juta lebih job baru akan lahir. job baru ini ini tentu membutuhkan skill yang baru knowledge dan behaviour yang baru," kata Alex.
Ia mencontohkan seperti pelayanan di Bank, begitu sudah disediakan layanan digital, masyarakat semakin berkurang mendatangi bank.
"Pertanyaannya karyawan yang di kantor cabang itu dikemanakan, jangan sampai ASN nanti juga terkaget-kaget pada waktu kita melakukan transformasi SPBN misalnya sistem pemerintahan berbasis elektronik digitalisasi, kemudian kita lupa menyiapkan ASN kita, yang tadinya mengerjakan pekerjaan manual itu ASN melakukan pekerjaan apa," ucap dia.
Berita Terkait
-
Menaker Ingin ASN Pengawas Ketenagakerjaan dan Penguji K3 Tingkatkan Integritas
-
ASN Kirim Narkoba Dalam Buku di Bandara Pekanbaru, Transaksi Pakai Bitcoin
-
Berapa Gaji PNS Lulusan SMK atau SMA? Ini Besaran Lengkapnya
-
Ungkap Isi Pertemuan dengan Polri, Eks Pegawai KPK: Baru Perkenalan dan Cerita soal TWK
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Pascabanjir Sumatra, Penanganan Beralih ke Pemulihan Layanan Kesehatan dan Kebutuhan Dasar
-
Indonesia Tancap Gas Jadi Pusat Halal Dunia lewat D-8 Halal Expo Indonesia 2026
-
Literasi Halal Dinilai Masih Lemah, LPPOM Siapkan Pelajar Jadi Agen Perubahan
-
Jepang Studi Banding Program MBG di Indonesia
-
Kasus Korupsi LPEI Berkembang, Kejati DKI Tetapkan 4 Tersangka Baru dan Sita Aset Rp566 Miliar
-
Merasa Tak Dihargai, Anggota DPR Semprot Menteri KKP: Kami Seperti 'Kucing Kurap'
-
Korban Bencana Boleh Manfaatkan Kayu Hanyut, Kemenhut Juga Stop Penebangan Hutan
-
Politisi PDIP Ingatkan Prabowo: Jangan Buru-buru Bangun IKN, Siapkan Dulu Ekosistemnya
-
Bukan Sekadar Banjir: Auriga Desak KLHK dan KPK Usut Dugaan Korupsi di Balik Perusakan Lahan PT TPL
-
BNI Bersihkan Masjid Darul Aman Pascabanjir di Agam