Demokrasi digital menjadi segampang ujung jempol manusia tiranik melemparkan isi hati dan benak kepala melalui kedipan layar ponsel pintar jutaan warganet. Menurut rohaniwan dan akademisi Dr. A. Setyo Wibowo (Basis, 2019), generasi cebong, kampret, dan golput adalah wujud manusia tiranik. Mereka tak saling berkomunikasi. Mereka hidup dalam dunianya masing-masing.
Literasi Demokrasi Digital
Dalam demokrasi digital, ruang publik seharusnya dapat dipertahankan sebagai kebebasan dan kesetaraan untuk bersama-sama membicarakan dan memutuskan persoalan-persoalan publik secara argumentatif.
Kehadiran manusia tiranik adalah ekses demokrasi itu sendiri. Berargumentasi dengan golongan ini akan menjadikan warganet hanyut dalam perlombaan ujaran kebencian dan banjir kabar bohong. Namun, tak jarang, aspirasi dan kritik di ruang digital berubah menjadi lelucon, parodi, dan yang penting viral.
Meskipun begitu, menurut Setyo, sejauh manusia tiranik tidak melanggar hukum, mereka harus dilindungi hukum. Namun, bila terjadi tindakan kriminal, tentu hukum harus ditegakkan. Kenyataannya, hukum belum mampu mencegah lahirnya manusia tiranik.
Oleh karena itu, diperlukan pendidikan demokrasi digital agar dalam kebebasan dan kesetaraan itu hadir etika dan sopan santun sehingga melahirkan manusia yang adil dan beradab. Inilah yang dapat menjadi wajah Indonesia di masa depan saat warganet tidak hanya cerdas berdemokrasi, melainkan juga bijak bermedia sosial.
Literasi demokrasi digital perlu menyasar generasi Z yang akan menjadi generasi emas tepat saat Indonesia genap berusia 100 tahun. Pada saat itu, tahun 2045, Indonesia diyakini mendapatkan bonus demografi yang mana 70 persen jumlah penduduk merupakan usia produktif.
Dengan prosentase begitu besar, generasi emas ini akan memberikan pengaruh yang teramat kuat atas arah ekonomi, politik, dan sejarah Indonesia nantinya.
Dalam kontek politik dan pemerintahan, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika berupaya melakukan literasi demokrasi digital.
Baca Juga: Pemerintah Terus Dorong Pemulihan UMKM dari Dampak Pandemi
"Pemerintah melancarkan komunikasi publik yang mengandung konten-konten positif yang membangun harapan dan optimisme," kata Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Usman Kansong di sela-sela penyelenggaraan PON XX Papua 2021.
Ruang publik perlu diisi dengan konten positif dengan tujuan membangun harapan, mendorong optimisme, dan meningkatkan nasionalisme. Berkembangnya peralatan digital dan akses informasi tentu menjadi tantangan sekaligus peluang. Pemerintah mesti memikirkan cara terbaik dalam menanggulangi hoaks, ujaran kebencian, dan perilaku intoleran di media sosial.
Literasi demokrasi digital difokuskan dan diwujudkan melalui pendekatan inklusif dan tematik.
“Maka dari itu, pemerintah melalui program transformasi digital berupaya menginklusikan seluruh lapisan masyarakat dalam pembangunan teknologi informasi dan komunikasi,” ungkap Usman.
Pembangunan teknologi informasi dan komunikasi menjadi ekosistem bagi tumbuhnya iklim demokrasi digital bagi generasi emas. Konten positif menjadi support system bagi literasi demokrasi digital yang menawarkan harapan, optimisme, dan nasionalisme.
Advertorial Direktorat Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum, dan Keamanan,
Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Oktober 2021
Berita Terkait
-
Bangun 500 Ribu Tower BTS, Pemerintah Fokus Pemerataan Akses Internet
-
Penuhi Kebutuhan Industri Digital, Binus Luncurkan Program-program Baru
-
KPI: Siaran TV Digital Hadirkan Banyak Channel Baru, Berkah untuk Ibu-ibu
-
Google Ajak Pengguna Peduli Kesehatan Digital lewat Beberapa Fitur Ini
-
Bukan Cuma Modal, UMKM Go Digital Juga Perlu Dukungan Platform Berjualan Online
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Kemasan Rokok Seragam Berisiko Tabrak UU Merek, Wamenkum: Jangan Over Regulation!
-
Sebut Polri Paling Korup, Burhanuddin Muhtadi Bongkar Kelemahan Survei IndexMundi
-
Jalan Cinta Amblas Nyaris 90 Derajat, DKI Bongkar Pemicunya: Tanggul Kali Sunter Retak!
-
Isi Amplop Menhut Raja Juli Masih Misteri, KPK Duga Suap Hutan Kuansing Pakai Dolar Singapura
-
Jokowi Mau Jadikan Jateng 'Kandang Gajah', Gerindra: Bagus, Kompetisi Politik Makin Sehat!
-
Bupati Kuansing Diduga Kumpulkan Duit dari 914 Anggota KUD untuk Suap Pelepasan Hutan
-
Aksi Bersih-bersih atau Cari Aman, Kenapa Menhut Raja Juli Baru Lapor Amplop Usai OTT KPK?
-
Eks Pimpinan KPK Sebut Menhut Raja Juli Akal-akali Balikin Amplop: Tetap Suap, Bisa Jadi Tersangka
-
Kader PSI Kalsel Desak Jokowi Segera Dilantik Jadi Ketua Dewan Pembina, Begini Respons Kaesang
-
Duet 'Indonesia Emas 2045' dan 'India Maju 2047', PM Narendra Modi: Kita Mitra Alami