"Rusia dan Belarus memiliki wilayah udara yang sama, sistem pertahanan udara yang sama, dan secara fakta, perlindungan perbatasan yang sama. Moskow tidak akan mengizinkan Belarus untuk melanjutkan operasi tanpa persetujuannya," ujar Andrei Soldatov.
Menurutnya, orang-orang Lukashenko bahkan tidak perlu meminta informasi secara terpisah, karena data terus-menerus dipertukarkan sebagai bagian dari tindakan bersama untuk melindungi perbatasan.
Apa tujuan Putin dan tugas Lukashenko?
Menurut pandangan Arkady Moshes, dengan adanya krisis ini Putin berusaha mengingatkan Barat bahwa mereka membutuhkan kehadiran Rusia bila berurusan dengan negara-negara yang disebut wilayah pasca-Soviet.
Selain itu, Putin juga ingin menunjukkan kepada publiknya di dalam negeri dan mereka yang "memahami Rusia" di Eropa betapa lemahnya Uni Eropa yang tidak mampu menyelesaikan masalah migrasi.
"Jika Anda tidak membiarkan migran masuk, Anda kejam dan munafik dan mengabaikan prinsip kemanusiaan Anda sendiri. Namun jika membiarkan mereka masuk, Anda adalah orang yang lemah."
Menurut Pavel Havlicek dari Association for International Affairs di Praha, Lukashenko memiliki beberapa tujuan.
Pertama, dia ingin bernegosiasi dengan Barat untuk mengakhiri krisis saat ini.
Kedua, dia ingin memperkuat isolasi internal Belarus, menghentikan emigrasi di Belarus, dan membawa masyarakatnya ke dalam kendali penuh.
Baca Juga: Anggota DK PBB Perdebatkan Nasib Pengungsi di Perbatasan Belarus-Polandia
Sementara Keir Giles, penasihat strategi di Royal Institute of International Affairs di London mengatakan bahwa tujuan sebenarnya yang ingin dicapai Minsk, terutama Moskow, tidaklah jelas.
Apalagi dengan adanya eskalasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan ini.
"Yang jelas ini adalah bentuk pemerasan. Tapi jika pemeras tidak mengatakan apa yang diinginkannya, Anda tidak bisa bernegosiasi dengannya," kata Giles.
Haruskah sanksi diperluas lagi?
Dalam situasi saat ini, Arkady Moshes percaya bahwa UE harus bertindak keras.
"Solusi terbaik adalah dengan tegas menolak migran yang didorong melintasi perbatasan oleh Lukashenko. Mereka datang ke Belarus secara legal, dengan visa, secara individu atau sebagai kelompok, dari negara yang secara resmi damai, tanpa perang atau bencana dan ada potensi ekonomi yang cukup. Maka mereka dapat meminta suaka di sana. Jika orang-orang ini kemudian ingin pergi ke Jerman atau Swedia, mereka bukan lagi pengungsi."
Tapi Pavel Havlicek tidak setuju. "Uni Eropa tidak boleh tampak kejam dan begitu saja mendorong para pengungsi melintasi perbatasan kembali ke tangan Lukashenko. Itu bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan Eropa. Selain itu, Belarus tidak akan membiarkan mereka kembali. Tapi tentu saja kita tidak bisa begitu saja membuka gerbang."
Baik Moshes, Havlicek, dan Keir Giles percaya bahwa UE harus memberikan sanksi yang keras. Menurut Havlicek, seharusnya tidak hanya rezim di Minsk yang diawasi, tetapi juga kepentingan Rusia.
"Tentu saja, pengiriman pupuk kalium dari Belarus ke UE harus segera dihentikan. Tetapi orang tidak boleh melupakan perusahaan-perusahaan Rusia yang juga berinvestasi di perusahaan Belarus. Kita juga harus mempertimbangkan sanksi terhadap mereka." (ae/yf)
Berita Terkait
-
Usai Bertemu Xi Jinping, AS akan Berunding Damai dengan Iran usai Idul Adha
-
Usai Ditemui Putin, Xi Jinping akan Melawat ke Korut: Barisan Anti Amrik Rapatkan Barisan
-
China dan Rusia Buka Rute Dagang Baru Lewat Kutub Utara, Apa Efeknya di Selat Malaka dan Indonesia?
-
Vladimir Putin Sebut Hubungan Rusia-China Capai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah
-
AS Keluar, Rusia Masuk: Intip Pertemuan Xi Jinping dan Putin di Beijing, Terusan Suez Bisa Tak Laku
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Banten Media Hub 2026: Ikhtiar Strategi Komunitas Media Lokal Bertahan di Era Digital
-
Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta
-
Mangkir dari Pemeriksaan Gas 'Whip Pink', Influencer ZNM dan Dua Saksi Lain Dijemput Paksa Polisi
-
Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil
-
Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili
-
Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas
-
Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi
-
Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon
-
Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah
-
Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang