News / Nasional
Sabtu, 01 Januari 2022 | 14:30 WIB
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Profesor Amin Subandriyo. (Suara.com/Ria Rizki)

Suara.com - Tugas tim waspada Covid-19 Lembaga Biologi Molekuler Eijkman diambil alih Badan Riset dan Inovasi Nasional mulai 1 Januari 2022.

"Bersama kita pulih kembali, kami pamit," kata Eijkman dalam akun media sosial @eijkman_inst. 

Tim waspada Covid-19 dibentuk 16 Maret 2020 untuk menghadapi pandemi.

Pelayanan pemeriksaan Covid-19 untuk publik yang dilakukan tim waspada Covid-19 tidak memungut biaya.

Tim waspada Covid-19 ikut andil dalam deteksi serta penelitian SARS-Cov-2, termasuk penelitian plasma konvalesen. Mereka juga ikut dalam pengembangan vaksin Merah Putih.

tim waspada Covid-19 telah mendistribukan lebih dari 155 ribu Viral Transport Medium ke 33 provinsi di Indonesia.

Memeriksa lebih dari 95 ribu sampel Covid-19 dari 351 fasyankes dan submit 2.345 whole genome sequence SARS-Cov-2 ke GISAID dengan 550 sequence tambahan yang sedang dianalisis.

Tim waspada Covid-19  pernah memperoleh penghargaan Top 5 Kategori Replikasi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2021 dari Kemenpan RB. Tim waspada Covid juga mendapatkan penghargaan Gold Award dalam kategori Inovasi IT Kesehatan Indonesia Healthcare Innovation Award V 2021.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman periode 2014-2021 Amin Soebandrio menyerahkan pengelolaan lembaga Lembaga Biologi Molekuler Eijkman kepada Pelaksana Tugas Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN Wien Kusharyoto, beberapa waktu yang lalu.

Baca Juga: BRIN Targetkan Laboratorium Animal BSL 3 dan CPOB Beroperasi Awal 2022

"Mulai hari ini saya menyerahkan hak, tanggung jawab dan kewajiban pengelolaan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman kepada Pelaksana tugas Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman Wien Kusharyoto," kata Amin.

Amin mengemukakan bahwa beberapa penyesuaian akan dilakukan setelah penggabungan Lembaga Eijkman ke BRIN.

"Kita berharap dengan perubahan ini tidak akan menyurutkan semangat kita untuk terus berkarya dan bekerja," katanya.

Ia berpesan kepada para periset di Lembaga Eijkman agar tidak berhenti berkarya karena peneliti bisa melakukan penelitian dan berkarya di mana saja.

"Karena yang penting bukan tempat, fasilitasnya, tapi manusianya yang akan menentukan keberhasilan dari suatu usaha," tutur Amin.

Wien Kusharyoto menjelaskan, setelah integrasi Eijkman ke BRIN secara otomatis semua periset yang sebelumnya bekerja di Lembaga Eijkman harus menjalankan aktivitas riset sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang baru.

Load More