"Sepertinya pembunuhnya sangat kuat. Dan tidak ada yang mau mengidentifikasi mereka. Bahkan wartawan belum melakukan penyelidikan mendalam tentang itu," tambahnya.
Roman mengingat kembali, saat kejadian pembunuhan, hanya dua laptop dan telepon yang hilang, para pembunuh tidak mengambil barang berharga lainnya dari apartemen yang berada di tengah-tengah pemukiman padat.
Putra tunggal pasangan itu, sedang tidur di kamarnya saat tragedi itu terjadi.
"Para pembunuh membawa laptop dan ponsel Sarowar setelah pembunuhan. Secara misterius, mereka tidak mengambil ponsel Runi atau barang berharga lainnya dari apartemen," kata Roman.
"Sarowar menggunakan perangkat itu untuk pekerjaan jurnalistiknya," tambahnya.
Daniel Bastard, Kepala Organisasi Hak Asasi Reporters Without Borders (RSF) yang berbasis di Paris, yakin pemerintah negara mayoritas Muslim itu belum bertindak banyak untuk menyelesaikan kasus ini.
"Ada dua hipotesis yang tidak bertentangan: Di satu sisi, jelas ada kesalahan manajemen oleh kepolisian, kejaksaan, dan akhirnya, oleh pemerintah," katanya kepada DW.
"Di sisi lain, kecurigaan sangat tinggi mengenai motif di balik pembunuhan itu, dan hubungannya dengan pekerjaan investigasi kedua jurnalis itu, dimulai dengan [pekerjaan mereka] hingga pada korupsi tingkat tinggi," tambahnya.
Meningkatnya ketakutan di kalangan jurnalis
Baca Juga: Pimpinan Komisi III DPR Desak Kapolri Ungkap Pembunuhan Jurnalis di Sumut
Kebebasan pers di Bangladesh berubah secara signifikan selama dekade terakhir setelah pembunuhan pasangan itu.
Pekerja media menjadi takut karena pembunuhan tersebut masih belum terpecahkan, meskipun muncul protes menuntut keadilan bagi pasangan itu.
Sejumlah jurnalis membatasi pekerjaan investigasi mereka dan memilih swasensor selama beberapa tahun terakhir.
"Pihak berwenang harus memberikan penjelasan mengapa penyelidikan pembunuhan Sagar Sarowar dan Meherun Runi memakan waktu begitu lama dan tetap tidak memberikan hasil bahkan setelah lebih dari satu dekade," kata Smriti Singh, Wakil Direktur Regional Amnesty International untuk Asia Selatan, kepada DW.
"Kegagalan yang berulang untuk mengidentifikasi mereka yang bertanggung jawab tidak hanya mengikis kepercayaan orang-orang terhadap penegakan hukum dan sistem peradilan, tetapi juga menunjukkan kurangnya akuntabilitas pihak berwenang," kata Singh.
"Ketidakjelasan pengusutan kasus yang berkepanjangan, membuat rasa takut di kalangan jurnalis meningkat atas pekerjaan mereka, dan kurangnya perlindungan yang diberikan negara kepada jurnalis," tambah Singh.
Bastard menunjukan poin Bangladesh turun delapan posisi dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia RSF sejak 2013, dari 144 menjadi 152.
"Tentu saja, ini bukan hanya karena pembunuhan 11 Februari 2012. Namun, impunitas yang berlangsung selama kasus ini tidak terungkap menjadi kecenderungan merosotnya tingkat kebebasan pers di Bangladesh," kata Bastard.
Jurnalis terus menuntut keadilan
Jurnalis lokal terus menuntut keadilan bagi rekan-rekan mereka. Farida Yasmin, Presiden Klub Pers Bangladesh, mengatakan apa yang dia lihat sebagai budaya impunitas atas kelalaian pihak berwenang untuk menemukan petunjuk bukti pembunuhan.
"Tidak hanya kasus pembunuhan pasangan itu, tetapi banyak insiden penyerangan lainnya terhadap jurnalis juga masih belum terpecahkan. Jurnalis sering tidak mendapatkan keadilan," katanya kepada DW.
"Selain polisi, jurnalis investigasi bisa saja menyelidiki pembunuhan itu, tetapi mereka juga tidak melakukannya," tambah Yasmin.
Setelah kepolisian gagal menyelesaikan kasus tersebut, pasukan elit kepolisian Batalyon Aksi Cepat (RAB) mengambil alih tugas untuk menyelidiki pembunuhan tersebut.
Namun, sudah lewat 85 hari untuk menghasilkan laporan investigasi di hadapan pengadilan di Dhaka.
Juru bicara organisasi Hukum dan Media mengatakan perlu lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pembunuhan itu. "Kami telah menginterogasi sekitar 160 orang terkait pembunuhan itu dalam beberapa tahun terakhir.
Kami bahkan membawa delapan dari mereka untuk ditahan. Namun, motif di balik pembunuhan itu belum ditemukan," kata juru bicara itu kepada DW.
Sementara itu, Saleha Munir, ibunda Sagar Sarowar, mengaku kehilangan harapan untuk mendapatkan keadilan bagi putra dan menantunya. "Saya tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu. Saya hanya ingin tahu kebenarannya, apa pun itu, sebelum kematian saya," katanya. (bh/ha)
Berita Terkait
-
Tak Lagi Asal Jalan: Standar Keamanan Jip Bromo Akan Segera Diperketat
-
Pemerintah Diminta Perhatikan Dampak Ekonomi dalam Pembuatan Aturan soal Industri Rokok
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Hadirkan Jirayut, Film Cek Khodam Padukan Unsur Mistis Lokal dan Komedi Khas Thailand
-
Merdeka Gold Resources Ukir Sejarah, Saham EMAS Resmi Melantai di Bursa Hong Kong
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Dinilai Punya Kepribadian Baik, Uya Kuya Bakal Pimpin PAN Jakarta
-
Jawab Prabowo Soal Tidak Bisa Bikin Mobil Sendiri, UGM: Kuncinya di Keberpihakan Pemerintah
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Mahfud MD Soroti Kemunduran Demokrasi, Sebut Politik Uang Gerus Penegakan Hukum
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Jokowi Mulai Safari Politik, PAN Merasa Tak Terancam: Kami Tunggu PSI Lolos ke Senayan
-
Batas Penghasilan MBR Rp8 Juta Tak Cukup, Pemerintah Harus Tekan Biaya Hidup
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Open House Sekolah Rakyat Surabaya, Orang Tua Terharu Lihat Perkembangan Siswa
-
Tak Relevan, Aksi Reformasi Jilid II Dinilai Bukan Aspirasi Mahasiswa