-
Pemukim Israel memasang kawat berduri untuk menutup jalan menuju sekolah bagi anak-anak Palestina.
-
Siswa terpaksa belajar di jalanan terbuka sebagai bentuk protes atas penutupan akses pendidikan.
-
Kekerasan meningkat di Tepi Barat dengan korban jiwa mencapai ratusan anak sejak akhir 2023.
Suara.com - Akses pendidikan bagi puluhan siswa di Tepi Barat kini terputus total akibat blokade kawat berduri.
Tindakan sepihak pemukim Israel ini memaksa anak-anak belajar di pinggir jalan sebagai bentuk protes.
Dikutip dari Al Jazeera, blokade tersebut menjadi simbol nyata sistematisasi penghambatan hak dasar warga Palestina di wilayah pendudukan.
Kawat berduri di Umm al-Khair bukan sekadar pembatas fisik, melainkan alat penindasan akses intelektual.
Kondisi ini memperparah trauma psikologis anak-anak yang sudah berbulan-bulan tidak menyentuh bangku sekolah.
Sebanyak 55 anak kini kehilangan hak belajar mereka selama sepuluh hari berturut-turut di sekolah.
Keluarga dan guru di wilayah Hebron merespons situasi ini dengan menggelar kegiatan belajar di ruang terbuka.
Namun, perjuangan damai ini justru dibalas dengan intimidasi berupa tembakan gas air mata.
Anak-anak sekolah dilaporkan terpapar polusi kimia tersebut saat mencoba mempertahankan hak mereka.
Baca Juga: Soal Kasus Guru Atun Dihina Siswa di Kelas, Komisi X DPR: Ini Tamparan Keras Dunia Pendidikan
Lembaga kemanusiaan menyoroti pola serangan yang kian agresif terhadap fasilitas sipil di Palestina.
Jalur yang ditutup tersebut berada di dekat pos terdepan pemukim yang baru saja didirikan.
Pos ini muncul tak lama setelah pembunuhan aktivis Palestina, Awdah Hathaleen, pada pertengahan 2025.
Banyak siswa sebenarnya baru akan kembali ke sekolah setelah penutupan panjang akibat konflik regional.
Namun, hambatan fisik di jalanan membuat mereka terisolasi dari lingkungan pendidikan selama dua bulan.
Dunia internasional melalui dokumenter "No Other Land" telah menyoroti wilayah ini tanpa hasil signifikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Biaya Perang Amerika Serikat Lawan Iran Tembus Rp 1.000 Triliun
-
Ketum Parpol Dibatasi 2 Periode, Eks Penyidik KPK: Cegah Kekuasaan Terlalu Lama dan Rawan Korupsi
-
Praka Rico Gugur Usai Dirawat, Korban Kedua TNI dalam Serangan ke Pos UNIFIL Lebanon
-
Bangun Iklim Kompetitif, Mendagri: Ajang Penghargaan Pemda Pacu Kinerja Kepala Daerah
-
Profil Praka Rico Pramudia, Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon
-
Circle Korupsi Sulit Dibongkar? Eks Penyidik KPK Ungkap Peran Loyalitas dan Skema Berlapis
-
Daftar 4 TNI Gugur di Lebanon, Terakhir Praka Rico Pramudia
-
AS Siapkan Imbalan Rp172 Miliar Buru Hashim Al-Saraji Tokoh KSS Terduga Penyerang Fasilitas Diplomat
-
KPK Usul Capres Harus dari Kader Partai, Golkar: Ideal, Tapi Jangan Tutup Pintu untuk Figur di Luar
-
Rudy Masud Didemo di Kaltim, Sekjen Golkar Ingatkan Kader: Peka ke Rakyat, Hindari Gaya Hidup Mewah