-
Delapan orang tewas di Lebanon menambah total korban jiwa menjadi 2.491 orang.
-
Korban luka mencapai 7.719 jiwa akibat serangan udara Israel yang terus berlanjut.
-
Gencatan senjata diperpanjang tiga minggu meskipun pelanggaran militer terus terjadi setiap hari.
Suara.com - Aksi militer Israel yang terus berlanjut di wilayah Lebanon kini memicu lonjakan angka kematian warga sipil hingga mencapai ribuan jiwa.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan delapan nyawa melayang dalam rangkaian serangan udara yang diluncurkan dalam kurun 24 jam terakhir.
Dikutip dari Anadolu, insiden berdarah ini menambah akumulasi jumlah korban tewas menjadi 2.491 orang sejak kekerasan pecah pada Maret tahun lalu.
Tren kekerasan yang konsisten ini menunjukkan kegagalan diplomasi dalam menghentikan pertumpahan darah di kawasan perbatasan tersebut.
Fakta ini mengungkap realitas pahit di lapangan yang sangat kontras dengan pembicaraan damai di tingkat internasional.
Selain menelan korban jiwa, gempuran terbaru militer Israel juga menyebabkan sedikitnya 12 orang mengalami luka-luka serius.
Data terbaru menunjukkan total warga yang menderita luka-luka kini telah menyentuh angka 7.719 orang di seluruh Lebanon.
Petugas medis terus berjuang menangani korban yang berjatuhan di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan akibat konflik berkepanjangan.
Skala kerusakan infrastruktur dan dampak psikososial terhadap penduduk lokal semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Benyamin Netanyahu Menderita Kanker Prostat
Setiap ledakan yang terjadi tidak hanya merusak bangunan namun juga menghancurkan harapan warga untuk hidup tenang.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan baru antara Israel dan Lebanon untuk memperpanjang gencatan senjata.
Kesepakatan tersebut mencakup perpanjangan masa damai selama tiga minggu setelah negosiasi tingkat tinggi dilakukan di Gedung Putih.
“Israel dan Lebanon setuju untuk memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu menyusul putaran kedua negosiasi tingkat tinggi di Gedung Putih,” ujar Presiden Donald Trump pada hari Kamis.
Meskipun diplomasi dijalankan, komitmen di atas kertas tersebut tampak rapuh karena konfrontasi fisik masih terus terjadi secara nyata.
Pertemuan para duta besar di Oval Office tersebut belum mampu meredam ketegangan senjata yang terjadi di wilayah konflik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Biaya Perang Amerika Serikat Lawan Iran Tembus Rp 1.000 Triliun
-
Ketum Parpol Dibatasi 2 Periode, Eks Penyidik KPK: Cegah Kekuasaan Terlalu Lama dan Rawan Korupsi
-
Kawat Berduri Blokade Anak-anak Palestina Sekolah ke Tepi Barat
-
Praka Rico Gugur Usai Dirawat, Korban Kedua TNI dalam Serangan ke Pos UNIFIL Lebanon
-
Bangun Iklim Kompetitif, Mendagri: Ajang Penghargaan Pemda Pacu Kinerja Kepala Daerah
-
Profil Praka Rico Pramudia, Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon
-
Circle Korupsi Sulit Dibongkar? Eks Penyidik KPK Ungkap Peran Loyalitas dan Skema Berlapis
-
Daftar 4 TNI Gugur di Lebanon, Terakhir Praka Rico Pramudia
-
AS Siapkan Imbalan Rp172 Miliar Buru Hashim Al-Saraji Tokoh KSS Terduga Penyerang Fasilitas Diplomat
-
KPK Usul Capres Harus dari Kader Partai, Golkar: Ideal, Tapi Jangan Tutup Pintu untuk Figur di Luar