Suara.com - Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu mengungkapkan kekesalannya terhadap permasalahan tumpang tindih lahan yang berulang terjadi di Indonesia. Presiden menyinggung, pemerintah daerah di kabupaten, kota, provinsi, di pusat, tidak bekerja secara terintegrasi, masih jalan sendiri-sendiri.
“Kalau diterus-teruskan, enggak akan rampungnya persoalan negara, persoalan bangsa ini, enggak akan rampung. Persoalannya, mencari tahu, tapi tidak bisa dilaksanakan hanya gara-gara ego sektoral. Itulah persoalan kita,” kata Jokowi di saat membuka pertemuan puncak Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Summit di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada Kamis (9/6/2022).
Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK sekaligus Koordinator Pelaksana Stranas PK, Pahala Nainggolan mengatakan permasalahan lahan ini sebenarnya sudah disadari oleh Stranas PK sejak beberapa tahun belakangan dimana permasalahan lahan ini masuk ke dalam rencana aksi Stranas PK 2021-2022 dengan mendorong implementasi One Map Policy atau Kebijakan Satu Peta.
Aksi ini merupakan salah satu upaya pencegahan korupsi yang fokusnya mengatasi tumpang tindih perizinan lahan yang kerap terjadi baik di sektor pertambangan, perkebunan dan kehutanan. Dalam pelaksanaannya rentan terjadi korupsi karena juga terkait erat dengan pihak ketiga. Dengan Kebijakan Satu Peta ini, seluruh data lahan di Indonesia bisa terintegrasi.
“Baik itu kawasan hutan, lahan perkebunan, lahan milik rakyat hingga daerah pesisir. Jika seluruh data lahan ini sudah terintegrasi maka tak ada lagi konflik agraria, masyarakat yang tidak memiliki sertipikat atas tanahnya sendiri, bahkan perilaku-perilaku koruptif yang mengeluarkan izin penggunaan lahan yang tidak semestinya dapat diberantas dengan implementasi Kebijakan Satu Peta. Sayangnya, permasalahan ego sektoral masih menjadi ganjalan dalam implementasi Kebijakan Satu Peta,” papar Pahala.
Ia menuturkan, untuk menerabas kendala ini, Stranas PK sudah melakukan Kick Off Meeting pada 22 Mei 2022 bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN dan juga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kerangka kerja sama ini mengedepankan solusi dengan mengesampingkan ego sektoral. Hal tersebut perlu dilakukan agar tanah milik masyarakat, perusahaan, Pemda, ataupun Pemkot yang berada dalam kawasan yang tumpang-tindih mendapat kepastian hukum. Hal ini juga dalam rangka melakukan upaya sinkronisasi untuk mewujudkan Kebijakan Satu Peta.
“Jadi banyak kepentingan yang sebenarnya bisa selesai dengan adanya one map policy itu. Kalau di Stranas PK kenapa itu dimasukkan ke pencegahan karena kalau petanya one map jadi, terbuka, investor masuk, tidak usah cari-cari dan minta izin karena sudah jelas dengan adanya one map tersebut,” jelas Pahala.
Ia juga menambahkan jika Kebijakan Satu Peta ini tak juga diimplementasikan maka permainan izin lahan ini bisa menjadi bancakan, terutama di daerah-daerah yang memiliki sumber daya alam. “Kita melihat banyak praktik-praktik di daerah yang menerbitkan perizinan lahan yang tidak pada tempatnya. Kawasan hutan diberikan izin untuk penanaman kebun sawit misalnya. Bahkan ada istilah, IUP izin untuk Pilkada. Biasanya kepala-kepala daerah yang akan maju Pilkada terbitkan saja izin perkebunan hanya untuk kepentingan pribadi,” terang Pahala.
Konflik agraria yang selama ini terjadi juga bisa diselesaikan dengan adanya Kebijakan Satu Peta ini. “Konflik juga jadi salah satu produk ikutan dari ketidaksinkronan peta ini, maka menjadi penting urusan satu peta ini diperbaiki dengan koordinasi yang intens antar kementerian dan lembaga terkait,” imbuh Pahala.
Baca Juga: Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin-angin Didakwa Terima Suap Proyek Rp572 Juta
Semangat kerja sama ini yang harus dijaga agar seluruh data lahan ini dapat terintegrasi dari seluruh kementerian dan juga pemerintah daerah, sehingga dapat mewujudkan tujuan yang sama untuk menyelesaikan permasalahan lahan di masyarakat.
Berita Terkait
-
Stranas PK Dorong Penguatan Partai Politik Lewat Penambahan Dana Parpol dan Sistem Integritas Partai Politik
-
Dinilai Kooperatif, Dalih KPK Tak Tahan Tersangka Kasus Korupsi Pembangunan Gereja Mile 32 Papua
-
Pelaksana Tugas Bupati Bogor Iwan Setiawan Diperiksa KPK Sebagai Saksi, Kapasitas sebagai Wakil Bupati Bogor
-
Kasus Suap Dana Insentif, Eks Bupati Tabanan Bali Ni Putu Jalani Sidang Perdana Hari Ini di PN Denpasar
-
Jalani Sidang Vonis, Nasib Dua Eks Pemeriksa Pajak Wawan Ridwan Dan Alfred Diputus Hakim Hari Ini
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
BGN Sebut MBG Gerakkan Ekonomi Hingga Rp16,8 Miliar per Hari di Kalbar
-
Hilmar Farid: Ada Gap Pengetahuan Antara Jaksa dan Nadiem Makarim di Kasus Chromebook
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Jabar Sudah Bisa Bayar Pajak Kendaraan via WhatsApp, Jakarta Kapan?
-
Bukan 3 Orang, Ternyata Kejagung Kasasi 8 Bankir yang Divonis Bebas di Kasus Sritex
-
Kunjungi Lampung Selatan, Staf Ahli TP PKK Yane Ardian Apresiasi Komitmen Daerah Tangani Zero Dose
-
Kasus PRT Benhil: Pernyataan Penyidik Dinilai Reduksi Kesalahan Pelaku
-
15 Tahun Jaga Rel Tanpa Status, Penjaga Perlintasan Minta Palang Kereta Resmi yang Layak
-
Masuk Kelompok Ekonomi Terbawah, 11 Ribu Nama Dibuang dari Daftar Penerima Bansos