Suara.com - Lantunan langgam Sluku Sluku Bathok di pengajian Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi Al-Maliki di Hay Al Rashifah, Mina, Arab Saudi, seketika membuat kami merinding. Kami seperti berada di rumah, Tanah Air kami.
Melalui jalan darat selama sekitar 1,5 jam, kami mengaspal dari Jeddah ke Makkah. Kami menempuh jarak sekitar 90 kilometer hanya untuk satu tujuan: sowan ke ulama besar Sunni yang tinggal di pinggiran Mina, Makkah, Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani.
Sayyid Ahmad bukan orang sembarangan. Dia ikut membesarkan Islam moderat yang menyebarkan kemaslahatan bagi sesama hingga ke Indonesia. Sang ayah, Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani, yang sedo pada 10 Mei 2004, merupakan guru banyak habib dan ulama besar di Indonesia.
Seketika, benak kami bergetar ketika dikabari Kepala Kantor Urusan Haji Nasrullah Jasam bahwa Sayyid Ahmad menerima undangan kami. Dia mau meluangkan waktu untuk menerima tamu di siang hari. Momen yang jarang terjadi. Tanpa pikir panjang, kami pun bergegas ke pinggiran Mina.
Pesantren Al Maliki yang dikelola Sayyid Ahmad siang itu sepi. Ketika memasuki gerbang, kami disambut dengan hangat. Tampak, beberapa santri, yang umumnya berasal dari Indonesia, berseliweran di halaman pesantren. Cuaca panas tak menghalangi mobilitas mereka.
Kami dipersilahkan menuju ke sebuah ruangan yang berada di sisi kanan bangunan. Kami melewati rak penuh dengan buku. Ketika memasuki ruangan, hawa dingin langsung menumpas panasnya cuaca di luar.
Ruangan itu terasa adem. Beralaskan karpet berwarna hijau, segelintir santri tampak berada di ruangan itu. Mereka terdengar melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Beberapa di antaranya merapikan buku-buku dan ruangan. Terlihat pula tumpukan buku kajian.
Foto lawas bangunan Masjidil Haram dan pintu Raudhah, makam Rasulullah, menempel di dinding putih ruangan itu.Bau khas memenuhi paviliun. Di ruangan itu, kami diminta menunggu kedatangan Sayyid Ahmad. Terlihat pula, singgasana Sayyid Ahmad, tempat dia biasa memberikan kajian ke santrinya.
"Ayo duduk, duduk," ujar Habib Assegaf, asisten Sayyid Ahmad, yang kali pertama menyambut kami.
Baca Juga: Tips Cegah Masalah Pernapasan pada Jemaah Haji, Jangan Kendor Pakai Masker
Tadinya, kami dipersilakan duduk di kursi yang berderet menempel di sekeliling dinding. Habib Assegaf memaksa, karena menganggap kami adalah tamu. Tapi kami enggan. Lebih ke sungkan, tepatnya. Kami pun memilih untuk mendeprok di atas karpet.
Sayyid Ahmad masih bersiap. Kami menunggu kedatangannya sambil mengobrol dan mengobservasi seisi ruangan tersebut. Satu per satu santri berdatangan. Mereka kompak mengenakan baju thawb. Ada yang langsung duduk membaca Alquran, ada pula yang menunaikan salat sunnah.
Tak lama berselang, Sayyid Ahmad datang. Dia mengenakan thawb dan peci berwarna putih bersih. Kami kompak berdiri. Secara bergiliran, kami mencium tangan Sayyid Ahmad. Berulang kali saat bertemu kami, Sayyid Ahmad berucap, "Masya Allah." Senyumnya sungguh khas dan hangat.
Tampak di belakang, para santri berbondong-bondong mengikuti sang guru. Lalu, Sayyid Ahmad duduk di singgasananya. Kami dipaksa untuk duduk di kursi. Tapi kami tetap sungkan, enggan duduk sejajar di Sayyid Ahmad. Akhirnya, Nasrullah Jasam yang duduk di kursi, perwakilan kami.
Sebelum kajian dimulai siang itu, kami diminta untuk maju satu persatu. Seorang santri terlihat menyediakan banyak siwak, batang atau ranting dari pohon arak untuk membersihkan gigi. Melalui tangan Sayyid Ahmad sambil didoakan, satu per satu siwak dibagikan ke kami.
Kami kembali duduk. Sebelum kajian, Sayyid Ahmad memberikan kata pengantar untuk menyambut rombongan yang dipimpin Nasrullah Jasam. Lalu, kajian pun dimulai. Sayyid Ahmad meminta santri untuk membedah Surat Al Hujurat. Kami mendengarkan dengan seksama.
Berita Terkait
-
Tips Cegah Masalah Pernapasan pada Jemaah Haji, Jangan Kendor Pakai Masker
-
Pengalaman Jemaah Naik Bus Shalawat: Setia Antarkan ke Masjidil Haram
-
Gadis Usia 25 Tahun Jadi Pemimpin KBIHU: Kali Pertama Berhaji, Bawa Puluhan Jemaah
-
Jadwal Kepulangan Jemaah Haji Indonesia 26 Juli 2022, Ini Daftar Kloternya
-
Kisah Zurni Jemaah Haji dengan Alat Kruk di Lintasan Shafa Marwah
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Dirut KAI Respons Usulan Gerbong Perempuan Dipindah ke Tengah: Keselamatan Tak Bedakan Gender
-
Bantah Indonesia Gelap, Prabowo Sindir Pihak yang Ingin Kabur: Silakan...
-
Bangkai Gerbong KRL Pasca Tabrakan Masih di Pinggir Rel, KAI Jelaskan Alasan Belum Dipindahkan
-
5 Realita Pahit Krisis Air di TTS NTT: Dari Ancaman Stunting hingga Beban Berat Anak Perempuan
-
Tim SAR Lebanon Jadi Korban Rudal Israel saat Misi Penyelamatan Sipil
-
Misteri Kasus Andrie Yunus: Tak Ada SP3 Polda Metro, Tapi Masuk Sidang Militer
-
Prabowo Targetkan Swasembada Energi 2029: Kalau Bisa Lebih Dulu, Kita Kerja Cepat
-
Prabowo Dijadwalkan Hadir di Puncak Peringatan Hari Buruh, Ini yang Bakal Ditegaskan
-
Pakar UGM Nilai Pemindahan Gerbong Wanita Tak Sentuh Akar Masalah
-
Minta Polda Metro Jaya Lanjutkan Penyidikan, TAUD Ajukan Praperadilan Terkait Kasus Andrie Yunus