Suara.com - Jangan pernah melupakan sejarah, merupakan satu frasa dengan kekuatan yang luar biasa dalam bernegara di Indonesia ini. Salah satu artikel dari bbc.com yang diunggah pada tahun 2018 lalu membahas tentang dokumen rahasia milik AS yang mengungkap kasus Prabowo Subianto.
Mengingat tahun yang akan datang, Prabowo Subianto telah diusung partai Gerindra menjadi calon presiden dalam Pemilu 2024. Nah, isu-isu seperti ini pasti akan kembali dibahas. Kasus Prabowo Subianto terkait aktivis 98 ketika masa pemerintah Presiden Soeharto pun akan kembali mencuat seperti Pemilu sebelumnya.
Agar tidak salah informasi dan termakan berita bohong yang tersebar nantinya, maka kita perlu mengetahui sumber yang terpercaya terkait kasus Prabowo ini. Salah satu arsip dan dokumen sejarah yang mencatat kejadian dan kasus ini bersumber dari dokumen rahasia Amerika Serikat.
Nama Prabowo Subianto dalam Dokumen Rahasia AS
Nama Prabowo Subianto sejatinya merupakan nama lama di negara ini. Sejak era prareformasi, namanya cukup dikenal banyak orang dengan berbagai predikatnya.
Namun salah satu yang paling lekat di ingatan kala itu, adalah mengenai isu penghilangan paksa sejumlah aktivis 1998, dan perpecahan di tubuh militer.
Arsip tertanggal 7 Mei 1998, dikutip dari BBC News Indonesia dalam artikel berjudul Dokumen Rahasia Amerika Serikat Diungkap: ‘Prabowo Perintahkan Penghilangan Aktivis 1998’, mengungkapkan hal tersebut. Di dalam catatan yang telah dirilis ke publik oleh lembaga Arsip Keamanan Nasional (NSA) ini memuat bahwa para aktivis yang menghilang boleh jadi ditahan di fasilitas Kopassus. Tepatnya di jalan lama yang menghubungkan Jakarta dan Bogor.
Dokumen rahasia Amerika Serikat ini berisi berbagai jenis laporan pada periode Agustus 1997 sampai Mei 1999. Salah satunya merupakan transkrip percakapan staf Kedubes AS dengan pemimpin organisasi mahasiswa.
Catatannya berbunyi:
Baca Juga: Survei Terbaru IPN: Elektabilitas Prabowo Subianto Tertinggi, Ungguli Ganjar dan Anies
‘5. ( C ) SEPARATELY, A LEADER OF A MASS STUDENT ORGANIZATION TOLD POLOFF THAT HE WAS INFORMED BY A KOPASSUS SOURCE THAT THE DISAPPEARANCES WERE CARRIED OUT BY “GROUP FOUR” OF KOPASSUS, UNDER THE COMMAND OF “CHAIRMAN.” HE SAID THAT HIS SOURCE (NOT PART OF GROUP FOUR) SAID THERE ARE CONFLICTS AMONG KOPASSUS DIVISIONS, AND THAT GROUP 4 IS STILL UNDER THE EFFECTIVE CONTROL OF PRABOWO. DISAPPEARANCES WERE ORDERED BY PRABOWO, WHO WAS FOLLOWING AN ORDER FROM PRESIDENT SOEHARTO.’
Percakapan ini dilakukan oleh seorang staf politik Kedutaan Besar AS di Jakarta dengan seorang pemimpin organisasi mahasiswa yang kemudian memunculkan nama Prabowo Subianto.
Sang narasumber mengaku memperoleh informasi dari Kopassus, bahwa penghilangan paksa dilakukan oleh Grup 4 Kopassus, dan menyebutkan terjadi konflik di antara divisi Kopassus bahwa Grup 4 masih dikendalikan Prabowo.
Seperti yang disebutkan dalam potongan di atas, bahwa penghilangan diperintahkan Prabowo yang mengikuti perintah dari Presiden Soeharto.
Mungkin dokumen ini memang sudah menjadi salah satu dokumen yang banyak beredar sejak lama. Namun demikian fakta bahwa terjadi percakapan tersebut dan ada keterlibatan satu dan lain pihak dalam penghilangan aktivis tentu tidak boleh dikesampingkan.
Tentu saja, artikel ini ditulis tanpa bermaksud mendiskreditkan pihak manapun, dan tanpa maksud apapun selain membagikan informasi. Setiap poin yang ada di artikel ini mengacu pada artikel yang telah diunggah, dan tanpa menambahkan opini atau argumen untuk menghindari tendensi tertentu.
Itu tadi sekilas mengenai kasus Prabowo Subianto yang berhasil terekam dalam dokumen rahasia AS. Sekali lagi, artikel ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan pihak manapun, dan sekedar menyampaikan apa yang didokumentasikan pada berkas sebelumnya.
Kontributor : I Made Rendika Ardian
Tag
Berita Terkait
-
Survei Terbaru IPN: Elektabilitas Prabowo Subianto Tertinggi, Ungguli Ganjar dan Anies
-
Elektabilitas Prabowo Kangkangi Ganjar-Anies, Siapa Cocok Jadi Cawapresnya?
-
Isi Pembicaraan Tertutup Prabowo dan Cak Imin Diungkap Dasco
-
Effendi Simbolon Beri Salam Metal Nyatakan Tegak Lurus Dukung Ganjar Pranowo
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Perbedaan Tinted Sunscreen vs Skin Tint vs BB Cream, Ini Fungsinya
-
3 Fakta Bomber Anyar Persija Alexander Jeremejeff, Eks Tandem Viktor Gyokeres
-
wondrX 2026 Jadi Pre-Event Danantara Housing Expo, BNI Perluas Akses Pembiayaan Hunian
-
Fenomena Lifestyle Inflation: Saat Pendapatan Bertambah Tapi Dompet Tetap Menjerit
-
Empat Orang Tewas, Polisi Selidiki Kecelakaan Beruntun di Puncak-Cipanas
-
Tembus Rp103,81 Triliun, Ekonom Puji Konsistensi BRI Salurkan KUR Tepat Sasaran
-
Di Antara Pelarian, Prasangka, dan Cinta dalam Novel Honor Bound
-
Mas Botok Pati di DPR: Kami Tak Suka Anarkis, Datang ke Jakarta Tuntut RUU Perampasan Aset Disahkan!
-
Polisi Telusuri Aliran Dana Bisnis Benih Lobster Ilegal di Garut, 3 Orang Jadi Tersangka
-
Poin Penting Instruksi Tegas Prabowo Tangani Karhutla Kalbar, 1.500 Personel TNI Dikerahkan