Suara.com - Sebelum dinyatakan mundur dari Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina ternyata pada pagi hari melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi di negara tersebut untuk membahas berbagai persoalan, salah satunya yakni peristiwa demo hingga berdarah yang menewaskan ratusan orang.
Berdasarkan pemberitaan di NDTV menyebutkkan, bahwa Sheikh Hasina tidak ingin mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Bangladesh dan ingin pasukan keamanan mengintensifkan tindakan keras terhadap protes nasional.
Namun pimpinan keamanan mengatakan protes tidak dapat dibendung dengan kekerasan, menurut laporan di surat kabar Prothom Alo.
Laporan tersebut merinci apa yang terjadi di kediaman resmi Perdana Menteri sebelum dia melarikan diri dengan pesawat militer pada menit-menit terakhir, tidak lama sebelum ratusan pengunjuk rasa menyerbu masuk dan mengamuk.
Sementara itu, menurut laporan Prothom Alo, pemimpin Liga Awami memanggil pejabat tinggi lembaga keamanan dan kepolisian ke kediamannya. Jumlah korban tewas terus meningkat, dan beberapa penasihatnya telah mencoba membujuknya untuk mengalihkan kekuasaan kepada Angkatan Darat.
Namun Perdana Menteri berusia 76 tahun yang pernah lima kali menjabat itu bersikeras. Dia meminta aparat untuk memperketat jam malam yang sudah diberlakukan. Namun di jalanan, situasinya berubah dengan cepat. Meskipun ada jam malam, pengunjuk rasa mulai berkumpul di berbagai tempat di Dhaka.
Dalam pertemuannya dengan para petinggi keamanan, dia mempertanyakan mengapa mereka tidak mampu membendung protes. Dia menunjuk pada visual pengunjuk rasa yang naik ke atas kendaraan polisi dan bertanya mengapa pasukan tidak melakukan tindakan lebih keras. Pada satu titik, dia mengingatkan mereka bahwa mereka diangkat ke posisi ini karena dia memercayai mereka.
Dalam pertemuan tersebut, Sheikh Hasina memuji tanggapan polisi terhadap protes tersebut. Namun Kapolres menyampaikan, situasi yang ada membuat polisi tidak bisa menahannya lama-lama.
Pasukan keamanan, kata laporan itu, mencoba menjelaskan kepadanya bahwa kekerasan yang lebih besar bukanlah jawabannya. Namun pemimpin veteran itu tidak bergeming. Kemudian petugas tersebut berbicara dengan saudara perempuan Syekh Hasina, Rehana, di ruangan lain dan mendesaknya untuk meyakinkan Perdana Menteri agar mundur.
Rehana berbicara kepada Hasina, tapi itu tidak membantu. Pada titik ini, putra Syekh Hasina, Sajeeb Wazed Joy, turun tangan. Berbasis di AS, Joy berbicara dengan ibunya dan berhasil meyakinkan ibunya untuk mengundurkan diri.
Baca Juga: Geger! Virus West Nile Ancam Kesehatan Masyarakat
Berbicara kepada NDTV, Joy kemarin mengatakan ibunya tidak ingin meninggalkan Bangladesh. "Dia ingin tinggal, dia tidak ingin meninggalkan negara itu sama sekali. Tapi kami terus bersikeras bahwa itu tidak aman baginya. Kami lebih mengkhawatirkan keselamatan fisiknya; jadi kami membujuknya untuk pergi," katanya.
“Saya berbicara dengannya pagi ini. Situasi di Bangladesh, seperti yang Anda lihat, adalah anarki. Dia bersemangat, tapi dia sangat kecewa. Ini sangat mengecewakan baginya karena mimpinya adalah mengubah Bangladesh menjadi negara maju. dan dia bekerja sangat keras selama 15 tahun terakhir, menjaganya tetap aman dari militan dan juga dari terorisme dan terlepas dari semua itu, kelompok minoritas yang vokal, oposisi, militan kini telah merebut kekuasaan,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Danantara Gandeng Arm Limited, Indonesia Siap Jadi Produsen Chip!
-
Balita 3 Tahun di Sragen Dianiaya Ayah Kandung, Pemerintah Asesmen Pengasuhan KakekNenek
-
Kronologi Penangkapan Komplotan Curanmor Bersenpi di Jakbar: Polisi Sita Senjata Rakitan
-
KPK Ajukan Penundaan Sidang Praperadilan Gus Yaqut, Ini Alasannya
-
LLDIKTI Wilayah IX Tekankan Pemanfaatan Bijak Dana Beasiswa di ITB Nobel Indonesia
-
Daftar Tempat Menarik untuk Menunggu Maghrib di Wilayah Bandung Barat
-
Kasus Suap Impor Barang KW, KPK Buka Peluang Panggil Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama
-
Kasatgas Tito Terus Perkuat Koordinasi Percepatan Penanganan Pascabencana Sumatera
-
Bripda Mesias Dipecat Tidak Hormat Usai Kasus Tewaskan Pelajar di Tual
-
DPR: Perjanjian Transfer Data RI-AS Harus Seimbang dengan Kedaulatan Digital dan Perlindungan Warga