Suara.com - Pada Senin (2/9/2024) atau sehari sebelum Yang Mulia Sri Paus Fransiskus mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Provinsi Banten, pada Selasa (3/9/2024), Komsos Keuskupan Agung Semarang mengunggah Misa Akbar Sri Paus Santo Yohanes Paulus II di Yogyakarta dalam bentuk full dokumentasi sepanjang 2 jam 44 menit dan 56 detik.
Hasilnya viral, telah mendapatkan 65.767 views, dengan 1,2 juta likes, dan tentu saja, banjir komentar. Serunya lagi, dari berbagai komentar yang dilayangkan tidak sedikit umat peserta Misa Suci Yogyakarta pada 10 Oktober 1989 hadir lagi dalam Misa Suci Jakarta pada 5 September 2024.
Atau paling tidak, pada saat misa 35 tahun lalu, umat yang datang di Misa Suci di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta masih berada di dalam rahim ibu mereka, sehingga ayah dan kerabat mereka yang turut serta, namun sang ibu tinggal di rumah.
Kemudian dalam misa suci terbaru di Tanah Air mereka hadir langsung, bahkan mendampingi orangtua mereka, yang 35 tahun lalu berada di venue Yogyakarta dalam Perayaan Ekaristi bersama Sri Paus Santo Yohanes Paulus II.
Dengan situasi seperti ini, rasanya penantian 35 tahun tidak terasa. Justru menjadi berkah, utamanya mereka yang mengalami dua kali, sehingga telah bertatap muka dengan dua Bapa Suci yang mengadakan Apostolic Journey atau Papal Visit ke negeri kita tercinta.
Beberapa catatan dari penyelenggaraan Perayaan Ekaristi bersama Sri Paus Santo Yohanes Paulus II di Yogyakarta pada 1989 dan bersama Sri Paus Fransiskus di Jakarta pada 2024, terdapat sederet kesamaan dan perbedaan yang sama-sama indah serta agung.
Terpaut 35 tahun, tentu saja kemajuan teknologi turut berbicara banyak dalam pelaksanaannya. Antara lain penggunaan gelang tiket berisi kode tempat duduk, mulai baris sampai sektor, tata cara dan pelaksanaan perayaan Ekaristi secara lengkap untuk versi 2024.
Sedangkan versi 1989, umat berdiri dan berbaris di tempat terbuka tanpa penutup atap, dialasi rumput, serta datang menggunakan bus sampai jalan kaki lebih dari 15 km.
Akan tetapi, warna kuning sebagai warna bendera Sancta Sedes atau Takhta Suci Vatikan mendominasi kedua venue yang berbeda 35 tahun.
Baca Juga: Misa Suci Bersama Sri Paus Fransiskus: Keberagaman Bahasa yang Menyatukan Iman
Demikian pula seruan "Viva il Papa" tetap ada, dan di Yogyakarta terdengar menyatu dalam gending khas Jawa. Sedangkan terbaru, lebih kepada seruan bersemangat.
Ada pun busana tradisional berbagai suku bangsa di Indonesia tetap ada dalam Perayaan Ekaristi 1989 mau pun 2024.
Pada 1989, bisa disimak selain beskap dan blangkon, serta kain kebaya, dan bermacam lagi, seperti baju bodo khas Makassar, serta topi ti' ilangga dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Hal senada juga ditemui tahun ini.
Kemudian, soal venue. Lokasi penyelenggaraan di Jakarta pada 2024 menggunakan gelanggang olah raga atau Gelora, yaitu Gelora Bung Karno atau GBK, di Senayan, dan memfungsikan baik stadion utama bagi yang berusia dewasa dan lanjut, serta stadion madya bagi remaja serta orang muda. Diperkirakan angka umat mencapai 90 ribuan.
Seluruhnya duduk di bangku stadion yang biasa digunakan terutama untuk olah raga sepak bola. Bangunan yang digunakan adalah bangunan permanen, dengan altar non-permanen di atas panggung yang dilengkapi salib corpus Yesus serta patung Bunda Maria Segala Suku.
Sedangkan di Yogyakarta memfungsikan lapangan udara militer milik Angkatan Udara RI yaitu Bandara Adi Sucipto, dengan umat ditempatkan di lapangan rumput yang ada di sekeliling landas pacu. Ada pula yang mendapatkan lokasi istimewa, yaitu berada di bawah sayap pesawat yang tengah parkir di lokasi.
Berita Terkait
-
Misa Suci Bersama Sri Paus Fransiskus: Keberagaman Bahasa yang Menyatukan Iman
-
Dari Renungan Bersama Sri Paus Fransiskus di Gereja Katedral: Hati-Hati dengan Kerja Setan!
-
Sri Paus Fransiskus Tiba di Gereja Katedral: Beliau Ayah yang Kunjungi Semua Anak-Anaknya
-
Viral Mobil Sri Paus Fransiskus di Jakarta Bikin Terperangah: Bukan Cuma Ini, Cuci Kaki Narapidana Juga Dilakoni
-
Inilah Negara Terkecil di Dunia, Penduduk di Bawah 1000 Orang: Termasuk Paling Dulu Mengakui Kedaulatan Indonesia
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Indeks FTSE Russell Pertahankan IHSG di 'Secondary Emerging Market'
-
Banjir Rendam 40 Titik Palembang, Dua Lansia Sakit Tak Berdaya hingga Dievakuasi dari Rumah Terendam
-
Baru 17 Tahun, Siti Khumaerah Sudah Diterima di 5 Kampus Dunia
-
Sidoarjo Mencekam! Tim Jibom Turun Tangan Selidiki Ledakan Maut di Pabrik Baja Waru
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Dari Diskusi hingga Room Tour, Pelajar Kini Bisa Belajar Langsung di Istana
-
Takut Jadi 'Macan Ompong', Komjen Suyudi Cemas Nomenklatur BNN Dihapus dalam RUU Narkotika Baru
-
Donald Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran, Ahli Hukum Sebut Berpotensi Kejahatan Perang
-
Hilangnya Hutan Bikin Air Mengalir Lebih Cepat ke Sungai, Apa Dampaknya bagi Kita?
-
Peneliti UGM Ungkap Bahaya Domino Kenaikan Harga Plastik: Dari Inflasi Hingga Ancaman PHK
-
Disiram Air Keras, Andrie Yunus Jalani Operasi Kelima Hari Ini
-
DPR Ungkap Persiapan Haji 2026 Belum 100 Persen Maksimal: Tenda di Arafah-Mina Masih Bermasalah
-
Kesiapan Air Irigasi Menyambut El Nino Godzilla, Optimalisasi Waduk hingga Modifikasi Cuaca
-
Pemerintah akan Renovasi 400 Ribu Rumah Masyarakat Miskin Tahun Ini
-
PM Australia Terbang ke Singapura, Amankan Pasokan BBM di Tengah Lonjakan Harga