Suara.com - Sikap pesimistis Wakil Ketua Komisi II DPR fraksi PDIP Aria Bima dikritik oleh Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito. Pasalnya, Aria Bima sebelumnya menyatakan bahwa DPR tidak bisa melakukan fungsinya sebagai pengawas terhadap pemerintah dan lembaga eksekutif saat ini.
Kondisi itu terjadi akibat 80 persen partai di DPR telah menjadi tim koalisi atau pendukung pemerintah. Sementara menurut Aria, kini hanya tersisa 2 partai yang bisa dibilang sebagai oposisi untuk leluasa mengkritik pemerintah.
Namun, pernyataan tersebut direspons Arie dengan sikap tegas. Pakar sosiologi politik UGM itu mengingatkan bahwa DPR tidak punya alasan apa pun untuk tidak menjalankan salah satu tugasnya sebagai pengawas eksekutif.
"Sebetulnya tidak ada alasan ya untuk mengatakan tidak ada oposisi. Kalau kita percaya pada demokrasi, maka blok politik itu kita bisa lihat, bukan hanya soal representasi formal, representasi simbolik, tapi yang paling penting adalah representasi substantial," kata Arie kepada Suara.com, ditemui usai acara seminar Kagama 'Prospek Demokrasi Indonesia' di Jakarta, Selasa (12/11/2024).
Pernyataan kalau oposisi di DPR hanya tersisa 20 persen, menurut Arie, hal tersebut juga tidak semestinya dijadikan alasan.
"Itu artinya fungsi 20 persen kalau dia (DPR) mampu untuk berkomunikasi kepada publik kan bisa menjadi kekuatan dukungan. Apalagi era di media sosial yang makin terbuka," imbuhnya.
Arie menambahkan, saat ini peran oposisi tidak hanya bisa dilakukan oleh DPR tetapi juga masyarakat sipil. Kritik dan pengawasan dari masyarakat diperlukan untuk membangun politik keluarga negara. Hal itu dilakukan dengan cara mengangkat isu-isu publik agar menjadi olahan dalam kesadaran masyarakat untuk merasa penting ikut bertanggungjawab atas isu negara yang berkaitan dengan sehari-hari
Akan tetapi, diakui Arie bahwa peran oposisi masyarakat sipil tentu ada kelemahannya juga. Terutama ketika pengawasan itu berkaitan dengan pembuatan Undang-Undang. Oleh sebab itu, Arie tetap menekankan kalau DPR tetap harus berani jadi pengawas bagi pemerintah.
"Tetap butuh hal-hal yang strategis ketika menyangkut tentang keputusan undang-undang, keputusan peraturan-peraturan yang mengenai publik. Nah, kalau dia mampu membuat jembatan penghubung kekuatan di parlemen, sekalipun cuma 20 persen, tapi komunikasi politik ke publik itu sangat membantu untuk didukung," jelasnya.
Baca Juga: Sebut Prabowo Politisi Lugu, Mahfud MD: Banyak Nolong Orang tapi Dikhianati
Berita Terkait
-
Dukung Gibran Buka Posko "Lapor Mas Wapres," Pimpinan DPR: Tak Usah Berburuk Sangka, Suudzon!
-
Sebut Prabowo Politisi Lugu, Mahfud MD: Banyak Nolong Orang tapi Dikhianati
-
Mahfud MD Bongkar Kisah Prabowo Bagi-bagi Duit usai Marahi Anak Buah: Prajurit Kopassus Malah Ingin Ditempeleng Beliau
-
Sebut Kasus Tom Lembong Membingungkan, Mahfud MD: Kasihan Dia Gak Dapat Apa-apa
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- 31 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 10 Maret 2026: Sikat Diamond, THR, dan SG Gurun
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- Pelatih asal Spanyol Sebut Persib Bandung Kandidat Juara, Kedalaman Skuad Tak Tertandingi
Pilihan
-
AS Bunuh Ali Khamenei, Menteri Olahraga Iran: Kami Mundur dari Piala Dunia 2026
-
Angkasa Pura: Penerbangan Umrah Dihentikan Imbas Perang di Timur Tengah
-
Yaqut Diperiksa KPK Pekan Ini Usai Praperadilannya Ditolak, Langsung Ditahan?
-
Dua Kali Blunder Kiper Tottenham Antonin Kinsky Bikin Igo Tudor Kehabisan Kata-kata
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
Terkini
-
Kali Kedua Rapat Bareng Presiden, Hasan Nasbi Hadir di Istana, Sinyal Comeback ke Kabinet?
-
5 Fakta Al-Aqsa Diblokade Israel saat Ramadan: Pancing Amarah Negara Muslim
-
Jalur Pantura Weleri-Kendal Diperkuat Beton Rigid demi Mudik Aman
-
Lantunkan Shalawat, Banser Dukung Gus Yaqut di KPK: Kami Tak Terima Kader Terbaik NU Dikriminalisasi
-
Kakorlantas Ingatkan Pemudik: Mudik Itu Rindu, Jangan Terburu-buru!
-
Iran Terus "Cekik" Selat Hormuz, Harga Minyak Ditaksir Tembus 200 Dolar AS per Barel
-
Rudal AS Bunuh 170 Siswi dan Guru Iran, PBB Masih Ada atau Sudah Bubar Sih?
-
Panglima TNI Minta MK Tolak Uji Materiil UU Peradilan Militer, Kuasa Hukum Bilang Begini
-
Presiden Ini Dituding Memuja Mantan Diktator: Publik Kecewa, Mirip Negara Mana ya?
-
RUU Hak Cipta Baka Atur Perlindungan Karya Jurnalistik, Ambil Berita Wajib Izin dan Bayar Royalti