Suara.com - Kasus pagar laut sepanjang 30 kilometer di Banten hanya puncak gunung es dari masalah kapling laut yang melanda Indonesia.
Pengamat politik Rocky Gerung menilai, kasus ini mencerminkan pola korupsi yang melibatkan elite politik dan bisnis di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
"Sepanjang pantai yang punya potensi untuk dijadikan resor, pasti ada masalah yang sama," ungkap Rocky seperti yang dikutip dari Youtube Rocky Gerung Official, Selasa (21/1/2025).
Rocky menyebut bahwa skandal pagar laut harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, termasuk proyek-proyek lain yang melibatkan penyelundupan hukum dan tukar tambah kekuasaan.
Ia kemudian menyoroti keterlibatan sejumlah pihak yang dianggap memanfaatkan kebijakan strategis untuk kepentingan pribadi dan politik.
"Wilayah kekuasaan itu masuk di semua era di zaman Pak Jokowi. Bahkan, ada spekulasi bahwa Proyek Strategis Nasional (PSN) dipakai untuk tukar tambah politik demi kepentingan tertentu, seperti mendorong dinasti politik Jokowi," tambahnya.
Tak hanya itu, ia juga mengkritik proses legalitas yang memungkinkan pemberian Hak Guna Bangunan (HGB) pada laut.
"Pemberian sertifikat dengan sengaja untuk kepentingan seseorang itu adalah korupsi. Ini harusnya jadi fokus sidang kabinet atau pembahasan khusus di DPR,” ucapnya.
Rocky menilai, negara tidak sekadar lalai, tetapi aktif terlibat dalam pembiaran sistemik ini.
Baca Juga: Heboh Pagar Laut Tangerang, AHY Buka Suara: HGB Terbit Sebelum Jabatan Saya
Meski Presiden Prabowo telah memerintahkan pembongkaran pagar laut oleh TNI AL untuk membuka akses nelayan, akar masalah hukum dan kebijakan belum terselesaikan.
"Pembiaran itu sendiri sudah merupakan pelanggaran hukum. Kenapa negara membiarkan ini terjadi? Kenapa sertifikat bisa keluar untuk sesuatu yang jelas-jelas tidak boleh dijadikan hak milik?” ujarnya.
Rocky turut menyoroti spekulasi publik tentang bagaimana korupsi sistemik ini melibatkan aktor-aktor kekuasaan dan bisnis.
“Pasti ada tukar tambah kekuasaan, penyelundupan hukum, dan keterlibatan calo di balik semua ini. Dinasti politik pun disinyalir memanfaatkan situasi ini,” katanya.
Rocky mendesak pemerintah untuk segera memberikan kejelasan melalui langkah-langkah transparan. Ia menyarankan perlunya penyelidikan khusus untuk mengungkap skandal ini.
Reporter: Kayla Nathaniel Bilbina
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Resmi Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Tani dan Wisata Pegunungan
- 5 Rekomendasi HP Layar Besar untuk Orang Tua Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Rekomendasi Cream Memutihkan Wajah dalam 7 Hari BPOM
Pilihan
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
Terkini
-
Pelindo Siap Layani Arus Mudik Lebaran di 63 Terminal Penumpang
-
DTSEN Rayakan Satu Tahun, Pemutakhiran Data Terus Diperkuat
-
Pelaku Percobaan Pemerkosaan Lansia di Gunungkidul Ternyata Pelajar, Kini Dititipkan ke LPKA
-
Bukan Kasus Biasa: Tersangka Pembakar Mushola di Maluku Tenggara Terancam 9 Tahun Penjara
-
Satpol PP Sita Ribuan Botol Miras dari Sejumlah Warung dan Gudang di Jakarta Barat
-
Pasca OTT Bea Cukai, KPK Gandeng Inspektorat Kemenkeu Bahas Pencegahan Korupsi
-
Eks Pimpinan KPK Bingung Soal Dakwaan di Perkara Pertamina: Ini Apa Sih Esensinya?
-
KPK Telusuri Dugaan Aliran Dana Kasus Impor Barang KW ke Dirjen Bea Cukai
-
Dinamika Kepemimpinan Kampus di Sulsel Uji Netralitas dan Independensi Akademik
-
Eks Jubir Tessa Mahardhika Sugiarto Resmi Dilantik Jadi Direktur Penyelidikan KPK