Suara.com - Rasa frustrasi memuncak di kalangan pendukung Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) setelah pemerintahan Trump secara tiba-tiba menarik hampir seluruh staf badan tersebut dari lapangan. Keputusan ini memicu gelombang protes di Washington dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja bantuan di berbagai negara yang bergantung pada program-program USAID.
Perintah yang dikeluarkan pada hari Selasa tersebut mengakhiri enam dekade keberadaan USAID yang berperan dalam pendidikan, pemberantasan epidemi, dan pembangunan global. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa keputusan ini bertujuan untuk menyusun kembali bantuan luar negeri agar lebih selaras dengan kepentingan nasional AS.
“Ini bukan tentang mengakhiri bantuan asing. Ini tentang menyusunnya dengan cara yang memajukan kepentingan nasional Amerika Serikat,” ujar Rubio saat berkunjung ke Guatemala.
Namun, banyak pihak menilai langkah ini sebagai tindakan gegabah yang dapat menimbulkan dampak besar. Di Washington, ratusan orang, termasuk anggota parlemen dari Partai Demokrat, berunjuk rasa di luar Capitol menentang pembubaran USAID. Perwakilan Demokrat California Sara Jacobs menyebut langkah ini ilegal, sementara Senator Maryland Chris Van Hollen menganggapnya sebagai bentuk tawar-menawar politik yang korup.
“Kami menyaksikan secara langsung tawar-menawar paling korup dalam sejarah Amerika,” ujarnya di hadapan para demonstran.
Krisis ini berdampak luas terhadap bantuan global. USAID telah memainkan peran penting dalam mendanai program kesehatan dan pembangunan di lebih dari 120 negara. Pemberhentian massal staf USAID menyebabkan penghentian proyek-proyek bernilai miliaran dolar, termasuk program bantuan keamanan untuk Ukraina serta pendidikan bagi siswi di bawah kekuasaan Taliban di Afghanistan.
Kekhawatiran juga muncul di sektor kesehatan global. Jennifer Kates, direktur kebijakan kesehatan global di KFF, memperingatkan bahwa lebih dari 1.200 klinik ibu dan anak yang melayani lebih dari 630.000 wanita terancam tutup akibat penghentian dana USAID. Selain itu, Afrika Selatan, negara dengan jumlah pengidap HIV tertinggi di dunia, kini menghadapi ketidakpastian setelah pendanaan dari program PEPFAR AS dibekukan tanpa peringatan sebelumnya.
Di tingkat lapangan, pekerja USAID di berbagai negara menghadapi ketidakpastian besar. Banyak dari mereka yang tidak dapat mengakses sistem komunikasi pemerintah, kehilangan akses ke aplikasi darurat, dan mendadak harus mencari jalan sendiri untuk kembali ke negara asalnya. Di Suriah utara, Doctors of the World Turkey melaporkan bahwa mereka harus menutup 12 rumah sakit lapangan dan memberhentikan lebih dari 300 staf medis akibat penghentian bantuan USAID.
Keputusan pemerintahan Trump untuk membubarkan USAID tanpa koordinasi yang jelas menuai kritik luas, termasuk dari kedua partai politik. Pendukung USAID menekankan bahwa badan ini merupakan alat strategis AS dalam menghadapi pengaruh Rusia dan China di kancah global. Dengan masih banyaknya pertanyaan mengenai implikasi jangka panjang keputusan ini, dunia kini menantikan bagaimana nasib bantuan kemanusiaan AS ke depan.
Baca Juga: PBB Tegaskan Usulan Trump Ambil Alih Gaza Melanggar Hukum Internasional
Berita Terkait
-
PBB Tegaskan Usulan Trump Ambil Alih Gaza Melanggar Hukum Internasional
-
Perjanjian Damai Mesir-Israel Terancam Hancur Akibat Rencana Relokasi Warga Gaza dari Trump
-
Donald Trump Janji Gaza Akan Dibangun Ulang, Klaim Bisa Jadi Proyek Terbesar di Dunia
-
Menghadap Prabowo di Istana, Luhut Sampaikan Rekomendasi Terkait Kebijakan Donald Trump ke Indonesia
-
AS Hengkang dari Badan HAM PBB, Hentikan Aliran Dana untuk Palestina
Terpopuler
- Promo Superindo 17 Maret 2026, Diskon sampai 50 Persen Buah, Minyak hingga Kue Lebaran
- Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- 15 Tulisan Kata-kata Unik Mudik Lebaran, Lucu dan Relate untuk Anak Rantau
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
Pilihan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
-
Link Live Streaming Liverpool vs Galatasaray: Pantang Terpeleset The Reds!
-
Israel Klaim Tewaskan Menteri Intelijen Iran Esmaeil Khatib
Terkini
-
Prabowo dan Megawati Bertemu 2 Jam di Istana Merdeka, Bahas Isu Strategis hingga Geopolitik
-
Dekat Vatikan, Gema Takbir Idul Fitri 2026 Dirayakan Umat Muslim bersama Warga Lokal
-
Bos Djarum Michael Bambang Hartono Wafat, Ini Jadwal Lengkap Pemakamannya di Rembang
-
Komnas HAM akan Panggil Panglima TNI, Usut Keterlibatan Anggota BAIS di Kasus Air Keras Andrie Yunus
-
Lebaran di Neraka Dunia: Ketika Kue Idul Fitri Jadi Simbol Perlawanan Hidup di Gaza
-
Prabowo Ungkap Alasan Strategis Indonesia Gabung 'Board of Peace' Demi Kemerdekaan Palestina
-
Petaka Bangunan Tua SD Inpres Oepula: Siswa Kelas 1 Meninggal Dunia Usai Tertimpa Reruntuhan
-
Prabowo Sebut Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Tindakan Terorisme: Harus Diusut Aktornya
-
Menag Nasaruddin Umar Imbau Umat Jaga Ketertiban Saat Lebaran, Tekankan Pentingnya Ukhuwah
-
Idulfitri Berbeda, Menag Minta Muhammadiyah Toleransi ke Warga yang Masih Puasa Besok