Suara.com - Arab Saudi menyatakan kesiapannya menyambut rencana pembangunan kembali Gaza, namun menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan dengan menggusur warga Palestina dari tanah mereka. Pernyataan ini disampaikan oleh Duta Besar Saudi untuk Inggris, Pangeran Khalid bin Bandar, dalam sebuah wawancara dengan London Broadcasting Company (LBC) pada Rabu (XX/XX).
Pernyataan ini menanggapi usulan terbaru Presiden AS Donald Trump yang mengusulkan agar Amerika Serikat mengambil alih Gaza dan mengembangkannya menjadi Riviera Timur Tengah.
"Posisi pemerintah saya adalah kami akan menyambut baik adanya riviera di Gaza. Saya pikir itu akan sangat bagus," ujar Pangeran Khalid.
"Namun, kami tidak akan melakukannya dengan memindahkan orang-orang Palestina, tentu saja tidak memindahkan mereka ke Saudi; mereka tidak ingin pindah. Itu tanah mereka, wilayah mereka. Mereka berhak mendapatkan semua yang terbaik yang dapat kami berikan untuk mereka di sana, dan kami akan menyambut baik upaya Amerika untuk memperbaiki situasi mereka di lapangan," katanya lagi.
Usulan Trump ini telah memicu kecaman luas di dunia Arab dan sebagian besar Eropa. Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu minggu lalu, Trump menyebut Gaza sebagai lokasi pembongkaran dan menyarankan agar warga Palestina direlokasi ke negara lain demi kehidupan yang lebih baik.
Israel dan Netanyahu bahkan mengusulkan agar Arab Saudi mendirikan negara bagi Palestina di dalam Kerajaan. Usulan ini mendapat reaksi keras dari dunia Arab yang menegaskan bahwa tanah Palestina harus tetap menjadi milik rakyat Palestina.
Ketika ditanya apakah Arab Saudi akan menyediakan relokasi sementara bagi warga Palestina, Pangeran Khalid menegaskan bahwa keputusan tersebut harus diambil oleh warga Palestina sendiri.
"Kami senang menerima orang dan kami adalah negara yang ramah. Jika ada situasi yang mengharuskan mereka datang ke Saudi, maka mereka dipersilakan untuk datang, tetapi saya rasa mereka tidak ingin pergi," katanya.
"Mereka ingin mempertahankan tanah yang selama ini diancam akan dirampas. Dan menurut saya itu yang terpenting," ungkapnya.
Baca Juga: Macron Kecam Rencana Relokasi Warga Palestina yang Diusulkan Donald Trump
Pangeran Khalid juga menekankan bahwa sebelum Gaza dapat dibangun kembali, perlu ada pembersihan wilayah serta mekanisme perdamaian dengan pemerintah Palestina yang diakui oleh semua pihak, termasuk Israel.
"Anda tahu, 75 tahun yang lalu, banyak warga Palestina meninggalkan rumah mereka dan kehilangannya. Saya rasa mereka tidak ingin melakukannya lagi," katanya.
Sikap Saudi Tetap pada Solusi Dua Negara
Diplomat Saudi itu menegaskan kembali posisi Arab Saudi dalam konflik Israel-Palestina yang konsisten selama beberapa dekade. "Sangat sederhana, solusi dua negara berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya," katanya.
Namun, ia menekankan bahwa keputusan akhir harus melibatkan Palestina dan Israel. "Dari sudut pandang kami, kami tidak melihat pilihan lain. Namun perspektif yang penting adalah perspektif Palestina dan Israel. Mereka berdua perlu sepakat tentang solusi yang tepat."
Hubungan Trump dan MBS
Dalam perkembangan lain, laporan menyebutkan bahwa Presiden Trump dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dijadwalkan bertemu dalam beberapa bulan mendatang. Trump juga menyatakan rencana untuk mengunjungi Arab Saudi dan negara-negara lain di Timur Tengah.
Pangeran Khalid mengatakan bahwa MBS dan Trump cukup sering berkomunikasi melalui jalur diplomatik dan panggilan telepon.
Berita Terkait
-
Macron Kecam Rencana Relokasi Warga Palestina yang Diusulkan Donald Trump
-
Erdogan Desak Kemerdekaan Palestina, Yerusalem Timur Jadi Ibu Kota!
-
Israel Tarik Mundur Pasukan dari Tubas, Akankah Kekerasan di Tepi Barat Berakhir?
-
Serangan Drone Gaza: Israel Targetkan 2 Operator, 1 Tewas
-
200.000 Orang Dukung Denmark Beli California, Mickey Mouse Pakai Helm Viking?
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Misi Kemanusiaan Miss Cosmo 2025: Perkuat Akses Operasi Bibir Sumbing Gratis di Indonesia
-
Amerika Serikat Perluas Blokade Iran ke Selat Hormuz Hingga Samudra Pasifik dan Hindia
-
Perang AS - Iran Bikin Eropa Boncos, Biaya Impor Bahan Bakar Bengkak Rp 505 Triliun
-
Halalbihalal Tokoh Sumbagsel: Mendagri Tito Ajak Rumuskan Program Nyata 2027-2029
-
Gaji Jurnalis Pemula Disorot: Idealnya Rp 9,1 Juta, Faktanya Masih Banyak di Bawah UMR
-
PERKUPI Lantik Pengurus Jakarta, Tegaskan Peran Jaga Kerukunan Umat Beragama di Ibu Kota
-
Alasan KPK Dorong Capres hingga Cakada dari Kader Parpol: Demi Cegah Mahar Politik
-
Hadirkan Raisa hingga Yura Yunita, Pagelaran Sabang Merauke 2026 Siap Guncang Indonesia Arena!
-
Terseret Pusaran Narkoba, Pemprov DKI Jakarta Segel Permanen Whiterabit PIK
-
Swadaya Warga Matraman Lindungi Ibu Hamil dan Anak dari Asap Rokok