News / Internasional
Senin, 03 Maret 2025 | 17:48 WIB
Kondisi di Gaza akibat serangan Israel kepada Hamas. [ANTARA/Anadolu/py/am]

Suara.com - Warga Palestina di Jalur Gaza yang mengungsi akibat serangan militer Israel mengalami kekurangan tempat tinggal yang serius, menurut laporan Kantor Media Pemerintah Gaza pada hari Minggu (2/3).

Salama Maarouf, kepala kantor tersebut, menyatakan bahwa jumlah truk bantuan yang masuk ke wilayah itu dalam tahap pertama gencatan senjata antara Israel dan Hamas hanya mencapai 75 persen dari yang diharapkan.

Krisis kemanusiaan semakin parah,” ujar Maarouf.

Ia menjelaskan bahwa Gaza membutuhkan 200.000 tenda, namun jumlah yang dikirimkan kurang dari setengahnya.

Di samping itu, dari kebutuhan 60.000 unit rumah mobil untuk menampung keluarga pengungsi, hanya 15 unit yang berhasil tiba di Gaza.

Maarouf juga menambahkan bahwa Gaza tidak hanya kekurangan tenda dan hunian sementara, tetapi juga barang-barang penting lainnya seperti genset, baterai, sistem tenaga surya, dan alat berat.

Gaza memerlukan 500 kendaraan untuk mendukung upaya bantuan dan rekonstruksi, tetapi sampai saat ini, hanya sembilan buldoser yang berhasil masuk sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata.

Israel menghentikan aliran bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina itu pada Minggu pagi, hanya beberapa jam setelah fase pertama perjanjian gencatan senjata berakhir.

Gencatan senjata tersebut memberikan jeda sementara dari perang genosida yang dilancarkan Israel di Gaza, yang telah merenggut lebih dari 48.380 jiwa, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Konflik tersebut juga menyebabkan kehancuran luas di wilayah tersebut.

Baca Juga: Masuk Program Quick Wins, Pramono-Rano Bidik Jakarta Bebas Krisis Air 2030

Load More