Suara.com - China ingin jadi raksasa AI pada 2030. Ambisi ini bukan tanpa tantangan. DeepSeek, chatbot buatan China yang mencuri perhatian dunia Januari lalu. Tapi itu hanyalah awal.
Pemerintah menggelontorkan dana besar untuk perusahaan AI. Saat ini, lebih dari 4.500 perusahaan berlomba mengembangkan teknologi ini.
Di Beijing, sekolah-sekolah mulai mengajarkan AI ke anak-anak. Universitas pun menambah kuota mahasiswa jurusan AI.
Sejak 2017, Partai Komunis menegaskan AI sebagai "kekuatan pendorong utama" kemajuan negara.
Presiden Xi Jinping bertaruh besar di bidang ini, terutama di tengah perlambatan ekonomi dan ketegangan dagang dengan AS.
Beijing mengalokasikan 10 triliun yuan (Rp16 kuadriliun) untuk AI dalam 15 tahun ke depan. Pendanaan ini semakin digenjot setelah AS memperketat kontrol ekspor chip canggih dan menambah daftar hitam perusahaan China.
Namun, perusahaan China menunjukkan ketangguhannya.
DeepSeek membuktikan bahwa mereka bisa bersaing, bahkan mengejutkan Silicon Valley. Salah satu perusahaan yang mencuri perhatian adalah SenseRobot, milik Tommy Tang. Robot catur buatannya bahkan berhasil mengalahkan Grand Master.
Tang bercerita, banyak pelanggan mengira perusahaannya berasal dari AS atau Eropa. Mereka terkejut saat tahu SenseRobot buatan China.
Baca Juga: Perjalanan NeutraDC Menginjak 3 Tahun, Perkuat Inovasi Infrastruktur Digital AI
Kini, produknya sudah terjual lebih dari 100.000 unit dan masuk ke jaringan Costco di AS.
Di Balik Kesuksesan AI China?
Kesuksesan AI China tak lepas dari generasi mudanya. Pada 2020, lebih dari 3,5 juta mahasiswa lulus di bidang STEM—terbanyak di dunia. Beijing ingin memanfaatkan ini untuk memacu inovasi.
"Di era AI, kami punya banyak insinyur berbakat dan pekerja keras," kata Abbott Lyu, wakil presiden Whalesbot, perusahaan mainan AI di Shanghai.
Perusahaan ini mengembangkan mainan yang mengajarkan anak-anak belajar coding sejak usia tiga tahun.
Sementara itu, enam perusahaan AI terkemuka China kini dijuluki "Enam Naga Kecil," termasuk DeepSeek, Unitree Robotics, dan BrainCo.
Kekhawatiran Di Baliknya
Pameran AI di Shanghai baru-baru ini menjadi ajang unjuk gigi. Robot pencarian dan penyelamatan, hingga robot anjing yang bisa salto, tampil di sana. Bahkan, ada pertandingan sepak bola robot humanoid.
Namun, di balik euforia ini, ada kekhawatiran. AI butuh data, dan China punya keunggulan dengan satu miliar pengguna ponsel.
Negara-negara Barat khawatir data dari aplikasi China seperti DeepSeek dan TikTok bisa diakses pemerintah. Beberapa negara pun mulai melarang penggunaan aplikasi ini.
China menyadari tantangan ini. Meski begitu, perusahaan AI-nya tetap percaya diri. Mereka berfokus pada inovasi hemat biaya.
DeepSeek mengklaim bisa menyaingi ChatGPT dengan biaya lebih rendah—sebuah kejutan di industri AI.
Bagi Beijing, AI bukan sekadar teknologi. Ini adalah jalan menuju kemandirian.
Presiden Xi menekankan pentingnya "kemandirian teknologi," termasuk dalam produksi chip canggih. China tak ingin bergantung pada AS.
Namun, bagi China perjalanan ini masih panjang. Beijing Daily menegaskan, China belum jadi penguasa AI. Mereka masih dalam mode "mengejar ketertinggalan."
Xi Jinping tahu, ini bukan sprint. Ini maraton. Ia berharap bahwa kelak China akan menjadi juara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Merasa Dibohongi, Elza Syarief Mundur sebagai Pengacara Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya
Pilihan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
Terkini
-
Guru Besar UI Bongkar Keanehan Program MBG, Data Stunting dan Lokasi Dapur Tak Nyambung
-
ACSET Pastikan Proyek Dikerjakan dengan Tata Kelola yang Baik
-
Prabowo Tak Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Pilih Fokus Selesaikan Urusan Dalam Negeri
-
1,4 Juta Lansia Terancam Tak Dapat Bantuan, Gus Ipul Minta Tambah Anggaran Rp22 T
-
PT USU Diduga Redam Kasus Pemerkosaan Buruh Tuli, Korban Di-PHK dan Pelaku Dipindah ke Luar Provinsi
-
Polisi Disebut Sulit Memahami Korban, Kasus Pemerkosaan Buruh Tuli di Madina Berlarut-larut
-
Biar Nggak 'Minta-minta' di Jalan, DPR Minta Polri Hidupkan Lagi Dana Patroli
-
Sindir Polisi 'Ngumpet' di Lampu Merah, DPR Usul Dana Patroli Dihidupkan: Biar Nggak Nyetop Lagi!
-
Diperkosa di Tempat Kerja, Buruh Tuli di Sumatra Kini Menganggur dan Hidup dalam Trauma
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!