Suara.com - Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2025/2026 di Sumatera Barat (Sumbar), diwarnai insiden mengejutkan dan viral di media sosial. Dua sekolah di Sumbar disegel warga, masing-masing di Kota Padang dan Bukittinggi. Semoga gara-gara buntut dari kekecewaan terhadap proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB 2025).
Insiden pertama terjadi di SMP Negeri 34 Padang, Senin (14/7/2025) pagi. Ratusan siswa tertahan di luar gerbang karena sekolah digembok oleh oknum warga yang mengklaim sebagai kepala waris lahan sekolah tersebut. Aksi ini diduga dipicu oleh tidak diterimanya empat anak kemenakan pelaku sebagai siswa baru.
"Seorang warga menggembok sekolah karena anak kemenakannya tidak diterima masuk. Ia juga merupakan kepala waris atas lahan yang saat ini telah menjadi lokasi SMP 34," ujar Kepala SMP Negeri 34 Padang, Mimiati.
Proses belajar sempat terganggu selama dua jam, mulai pukul 07.00 hingga 09.00. Situasi akhirnya dapat dikendalikan setelah polisi dan Satpol PP turun ke lokasi untuk mediasi dan membuka kembali akses masuk.
Mimiati menegaskan, pihak sekolah tidak dapat menambah kuota karena sistem PPDB 2025 sudah dikunci secara nasional. "SPMB 2025 secara sistem tidak mengizinkan penambahan siswa. Kami mengikuti aturan pusat yang mengunci jumlah rombel sesuai dengan kapasitas dan zonasi," jelasnya.
Sementara itu, kejadian serupa juga terjadi di SMA Negeri 5 Bukittinggi pada hari yang sama. Puluhan warga dari Kelurahan Garegeh menggembok pintu gerbang sekolah. Aksi ini dipicu oleh 35 siswa lokal yang tak diterima, meski mereka berasal dari wilayah zona sekolah tersebut.
“Kami minta hak didik anak kemenakan kami sesuai Permendikbud. Mohon kepada dinas terkait agar tidak mempersulit anak masuk sekolah di Bukittinggi,” kata pengurus Parik Paga Kurai, Sutan Rajo Bujang.
Sutan menyebut, sekolah berdiri di atas tanah ulayat Kurai dan sebelumnya ada kesepakatan bahwa satu kelas akan diprioritaskan untuk siswa lokal. Namun, menurut warga, komitmen itu diabaikan. Bahkan, data tokoh masyarakat menyebutkan total ada 177 siswa lokal di Bukittinggi yang tidak diterima di sekolah negeri tahun ini.
Berita Terkait
-
Suara Siswa Sekolah Rakyat: Sekolah Gratis Beneran Tanpa Biaya Tersembunyi?
-
4 Parfum untuk Anak Sekolah yang Wangi Tahan Lama dan Murah di Minimarket
-
Ketika Pendidikan Menjadi Hak: Menagih Janji Konstitusi atas Sekolah Gratis
-
Ketika Buku dan Pena Jadi Kemewahan: Retaknya Janji Pendidikan untuk Semua
-
Pendidikan Gratis dalam Retorika, Mahal dalam Realita
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
-
'Kakak Saya Belum Bisa Dihubungi', Pilu Keluarga Cari Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Lewat Medsos
-
Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
Terkini
-
Analisis TAA Korlantas Polri: Argo Bromo Melaju 110 Km/Jam Saat Hantam KRL di Bekasi
-
Sofyan Djalil Sebut Adanya Kriminalisasi Kebijakan Bikin Pejabat Jadi Penakut dan Hilang Kreativitas
-
Titip Anak, Titip Trauma? Wajah Gelap Daycare Ilegal di Indonesia
-
Sopir Taksi Green SM Diperiksa Polisi Terkait Kecelakaan KRL di Bekasi Timur!
-
Korban Jiwa Berjatuhan, Lebanon Selatan Digempur Artileri Israel Meski Ada Kesepakatan Damai
-
Pemprov DKI Sampaikan Duka, Guru SDN Pulogebang 11 Jadi Korban Tabrakan KRL
-
Proses Identifikasi Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Terus Dilakukan, RS Polri Ungkap Kendalanya
-
Israel Bakar Rumah Warga Palestina di Jalud Nablus untuk Perluasan Pemukiman Ilegal
-
Tragedi Bekasi Timur, Alvin Lie Kritik Persimpangan Rel dan Jalan
-
Amien Sunaryadi: Niat Jahat Memang Nggak Kelihatan, Tapi Evidence-nya Bisa Dicari