Serangan negatif yang bertubi-tubi justru bisa dikelola menjadi keuntungan politik.
Dengan memposisikan diri sebagai pihak yang terzalimi oleh sebuah agenda besar, simpati publik berpotensi diraih.
Narasi negatif diubah menjadi narasi positif untuk mendongkrak kembali popularitas.
"Isu yang tadinya negatif menyerang ini, untuk Pak Jokowi akan menjadi positif. Sehingga popularitasnya, elektabilitasnya semakin meningkat, kemudian kesukaan masyarakat kepada Pak Jokowi terus meningkat juga, kembali meningkat. Itulah yang mau dimainkan Pak Jokowi dalam hal ini. Dan itu sah-sah saja, gitu lho," tambahnya.
Analisis ini sejalan dengan pandangan bahwa setiap serangan dalam politik dapat menjadi pedang bermata dua.
Bagi seorang politisi ulung, serangan yang datang bukan hanya untuk ditangkis, tetapi juga untuk dimanfaatkan sebagai momentum untuk membangun kembali citra dan dukungan.
Jokowi, dengan pengalamannya selama satu dekade lebih di panggung politik nasional, dinilai sangat memahami dinamika ini.
Pernyataannya soal "agenda besar" bisa jadi adalah sebuah langkah catur yang telah diperhitungkan dengan matang, sebuah upaya untuk tidak hanya bertahan dari serangan, tetapi juga keluar sebagai pemenang dalam pertarungan persepsi publik.
Baca Juga: Curhat Jokowi Merasa Didowngrade, Serangan Politik atau Momen Dongkrak Popularitasnya Jelang 2029?
Berita Terkait
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Aset PT MASI Rp 14,5 Triliun Dibekukan, Korban Ilegal Akses Desak Kepastian Uang Kembali
-
Ahmad Muzani: Indonesia Bisa Kapan Saja Keluar BoP, Tapi Butuh Hal Ini
-
Turkiye Tangkis Rudal Iran, Kirim Peringatan ke Teheran
-
Timur Tengah Memanas, DPR Segera Panggil Kementerian Haji Bahas Nasib Jemaah Umrah
-
Ketegangan Memuncak: Korban Jiwa di Iran Tembus 1.145 Orang
-
Pengamat: BHR untuk Mitra Ojol Bentuk Kebijakan Perusahaan Berbasis Produktivitas
-
Gaji Guru PPPK Paruh Waktu Sering Telat, DPR Desak Pemerintah Pusat Turun Tangan
-
Kubu Yaqut Pertanyakan Keabsahan Kerugian Negara Rp622 M: Nilainya Berubah-ubah
-
Hak Korban Kekerasan Seksual Terabaikan, LBH APIK Kritik Penerapan RJ dan Pemotongan Anggaran
-
Kerugian Korupsi Kuota Haji Rp622 Miliar, KPK Beberkan Bukti Audit BPK di Praperadilan Yaqut