Suara.com - Bumi kian panas, cuaca makin tak menentu. Banjir, kekeringan, hingga gelombang panas kini jadi keseharian. Krisis iklim sudah terjadi kini tengah terjadi.
Gas rumah kaca, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, terus menumpuk di atmosfer. Sumbernya datang dari mana-mana, kendaraan bermotor, listrik yang boros, limbah rumah tangga, hingga kebocoran AC dan kulkas di rumah kita.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, emisi nasional Indonesia pada 2023 mencapai 1.360,35 juta ton COe. Angka yang mencemaskan, tapi sering kali terasa jauh dari kesadaran kita sehari-hari.
Dalam forum “Ruang Gagasan: Net Zero Emission – Aksi Hari Ini, Investasi Masa Depan”, peneliti dari CORE Indonesia, Sahaya Aulia Azzahra, membuka diskusi dengan penjelasan tentang bagaimana gas rumah kaca bekerja, dan seberapa panjang umur mereka di atmosfer.
“Beberapa jenis bisa bertahan hingga ribuan tahun. Artinya, apa yang kita buang hari ini, akan membebani generasi setelah kita,” ujar Sahaya.
Tapi, siapa yang seharusnya bergerak? Dan bagaimana caranya?
Itulah yang kemudian dijawab melalui diskusi kelompok yang melibatkan para peserta forum. Mereka bukan hanya menyimak, tapi juga membedah persoalan, dari yang terjadi di rumah tangga, hingga kebijakan negara.
Kelompok pertama mencoba menelusuri jejak emisi dari aktivitas harian. Mereka menyadari bahwa gaya hidup kita, yang sering dianggap sepele, ikut menyumbang panas bumi. Misalnya, kebiasaan menyalakan kipas angin, TV, atau charger sepanjang hari, penggunaan plastik saat belanja, dan enggan naik transportasi umum.
Mereka mengusulkan sejumlah langkah kecil yang bisa dilakukan membuka jendela untuk pencahayaan alami, memilah sampah, memperbaiki kendaraan, dan mengurangi konsumsi listrik.
Baca Juga: Core Indonesia Ungkap Industri Manufaktur Tetap Lesu Sepanjang Tahun Ini
Namun, mereka juga menyadari bahwa perubahan perilaku individu saja tidak cukup. Tantangannya besar: dari regulasi yang membatasi penggunaan panel surya, sistem pengelolaan sampah yang belum mendukung pemilahan dari rumah, hingga ruang kota yang belum ramah bagi pejalan kaki.
Infrastruktur dan kebijakan belum berpihak pada gaya hidup rendah emisi.
Kelompok kedua membawa diskusi ke level yang lebih struktural. Bagi mereka, tanggung jawab pengurangan emisi tidak bisa dibebankan hanya pada masyarakat.
Pemerintah, industri, dan institusi juga harus ikut bergerak. Mereka mendorong adanya regulasi yang tegas soal ambang batas emisi, insentif untuk energi terbarukan, hingga kolaborasi lintas sektor yang melibatkan NGO, akademisi, dan bahkan influencer.
Bagi mereka, perubahan hanya mungkin terjadi jika seluruh pihak merasa terlibat. Mulai dari keluarga kecil yang memilih membawa tumbler dan naik angkutan umum, hingga perusahaan besar yang beralih ke energi bersih dan pemerintah daerah yang menyusun roadmap transisi energi secara konkret.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?
-
Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo
-
Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis
-
Kisah Yunita Bangun Dear June Official, Dari Satu Penjahit Hingga Tembus Pasar Singapura
-
Rantai Hingga Alat Bor Jadi Bukti, Ini Sederet Alat Siksa Penyekapan di Percetakan Senen