Suara.com - Sengketa maritim di Blok Ambalat kembali memanas setelah pemerintah Malaysia secara sepihak mulai menggunakan nomenklatur "Laut Sulawesi" untuk merujuk pada wilayah yang disengketakan tersebut. Manuver diplomatik ini memicu respons keras dari Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, yang mendesak pemerintah untuk tidak hanya berfokus pada perundingan, tetapi juga memperkuat kehadiran fisik di lapangan sebagai penegasan kedaulatan.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menegaskan bahwa Indonesia akan tetap berpegang pada istilah Laut Ambalat. Menurutnya, ini bukan sekadar perang terminologi, melainkan sebuah pernyataan yuridis dan politis yang tak bisa ditawar. "Komisi I DPR RI memandang bahwa penyebutan istilah Laut Ambalat bukan sekadar soal nama, melainkan bagian dari penegasan klaim wilayah yang sah dan telah menjadi bagian dari proses diplomatik dan teknis yang panjang," kata Dave, dalam pemberitaan Suara.com pada hari ini.
Ia menilai langkah Malaysia mengubah nama wilayah di Blok ND6 dan ND7 adalah upaya sistematis untuk melemahkan posisi hukum Indonesia, yang didasarkan pada Perjanjian Landas Kontinen 1969 dan Hukum Laut UNCLOS 1982.
Dave Laksono mengingatkan bahwa setiap perubahan istilah bisa memengaruhi persepsi publik dan posisi tawar dalam negosiasi. Oleh karena itu, Komisi I mendorong pemerintah untuk mengambil langkah yang lebih konkret di luar jalur diplomasi. Menurutnya, sudah saatnya Indonesia menunjukkan kontrol de facto atas wilayah tersebut.
"Sebagai bagian dari strategi tersebut, perlu diperkuat kehadiran fisik dan simbolik Indonesia di Ambalat melalui patroli TNI Angkatan Laut, pembangunan fasilitas navigasi, serta eksplorasi migas oleh BUMN seperti Pertamina Hulu Energi," jelasnya.
Selain itu, kegiatan ekonomi dan sosial di wilayah sengketa juga harus digalakkan sebagai bukti nyata bahwa Indonesia memiliki kontrol efektif.
Meskipun demikian, Dave menghargai komitmen Malaysia untuk menyelesaikan sengketa secara damai. Namun, ia menekankan agar pemerintah Indonesia tetap waspada dan melakukan langkah antisipatif melalui penguatan posisi hukum, diplomasi bilateral, dan pengawasan di lapangan. Komisi I juga mendukung opsi kerja sama melalui Joint Development Authority (Otoritas Pembangunan Bersama), tetapi dengan syarat adanya kejelasan batas wilayah serta mekanisme pengelolaan yang adil dan transparan.
Pernyataan Perdana Menteri Malaysia
Di sisi lain, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menegaskan dirinya siap melindungi habis-habisan wilayah Sabah yang bersengketa dengan Indonesia. Dalam kunjungannya ke Kota Kinabalu, Minggu (3/8), Anwar mengatakan Malaysia akan bernegosiasi tanpa menyerah dan akan melindungi setiap inci wilayah Sabah.
Baca Juga: PCO Sebut Presiden Merasa Kabinet Sudah Solid Dan Bantah Isu Resuffle
Pernyataan ini muncul setelah ia dan Presiden Prabowo Subianto bertemu pada 27 Juni di Jakarta dan sepakat untuk bersama-sama mengembangkan area tersebut. Namun, ketiadaan singgungan tentang batas laut dalam pernyataan bersama mereka pada 29 Juli menimbulkan pertanyaan di kalangan parlemen Malaysia.
Sengketa ini semakin rumit karena melibatkan klaim tumpang tindih tidak hanya di perbatasan maritim, tetapi juga kedaulatan dua pulau, Sipadan dan Ligitan, yang pada tahun 2002 diputuskan oleh Mahkamah Internasional (ICJ) sebagai milik Malaysia meski akhirnya menuai protes karena tanpa pertimbangan menafsirkan perjanjian antara Belanda dan Inggris pada tahun 1891. Putusan tersebut tidak menyelesaikan masalah batas maritim yang juga tumpang tindih.
Penempatan Rudal KHAN di Perbatasan dan Sikap Indonesia
Di tengah ketegangan ini, langkah strategis pemerintah Indonesia menempatkan sistem rudal balistik taktis (ITBM) KHAN di Kalimantan Timur juga menjadi sorotan. Meskipun penempatan alutsista canggih ini bertujuan utama untuk melindungi Ibu Kota Nusantara (IKN) dan wilayah perbatasan, keberadaannya dianggap sebagai sikap tegas Indonesia di tengah sengketa wilayah.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menegaskan bahwa kehadiran rudal KHAN merupakan cerminan pendekatan baru kebijakan pertahanan yang lebih adaptif. Ia menekankan bahwa langkah ini bersifat defensif dan bukan merupakan bentuk agresi terhadap negara tetangga, melainkan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional.
Tag
Berita Terkait
-
Tak Mesti Lewat Jakarta! Begini Rencana Rute Penerbangan Versi Prabowo Demi Dongkrak Devisa Negara
-
Duh, Transaksi di GIIAS 2025 Diperkirakan Turun, Penjualan Mobil Indonesia Kalah dari Malaysia
-
Manuver Malaysia Ganti Nama Ambalat, DPR Desak Pemerintah Tegaskan Kedaulatan di Lapangan
-
Prabowo Siapkan Pasukan Perdamaian dan Hercules untuk Gaza: Indonesia Siap Terlibat Langsung
-
Senyum Semringah Jay Idzes di Sesi Latihan Venezia, Kode Pamit ke Torino
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
Terkini
-
Tekan Peredaran Obat-obatan Terlarang, Polres Jakarta Pusat Lakukan Razia di Titik Rawan
-
Arus Balik Lebaran, Ribuan Penumpang Tiba di Jakarta Lewat Terminal Kampung Rambutan
-
Transjakarta Perbanyak Armada di Stasiun dan Terminal Selama Arus Balik Lebaran
-
Keliling Pesantren saat Lebaran, Gus Ipul Minta Doa untuk Sekolah Rakyat
-
Iran Umumkan Kapal Boleh Lewat Selat Hormuz, Kecuali Teman Israel dan Amerika Serikat
-
Jepang Krisis Energi karena Perang AS - Israel vs Iran, Cadangan BBM Mulai Dilepas
-
Gus Yaqut Dibawa ke Rutan Tanpa Borgol, KPK Sebut Aman
-
Sempat Jadi Tahanan Rumah, Gus Yaqut Disebut Derita Gerd Hingga Asma
-
KPK Ungkap Alasan Gus Yaqut Dikembalikan ke Rutan
-
Siang Ini, Wilayah Jabodetabek Berpotensi Diguyur Hujan Lebat dan Angin Kencang