Suara.com - Sebuah skandal korupsi berjamaah yang diduga terjadi di parlemen dibongkar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dua anggota Komisi XI DPR RI periode 2019-2024, Satori dari Fraksi NasDem dan Heri Gunawan dari Fraksi Gerindra, ditetapkan sebagai tersangka kasus gratifikasi dan pencucian uang atau TPPU.
Modusnya sangat licik. Mereka diduga 'memalak' dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) senilai puluhan miliar rupiah, lalu memasukkannya ke yayasan pribadi dengan kedok program bantuan sosial fiktif.
"Tentunya, nanti akan dilakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan (Satori dan Hergun)," kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo, Senin (11/8/2025), mengonfirmasi bahwa keduanya akan segera dipanggil sebagai tersangka.
Plt Deputi Penindakan KPK, Asep Guntur Rahayu, membeberkan bagaimana kedua legislator ini diduga menyalahgunakan kewenangan mereka di Komisi XI, komisi yang menjadi mitra kerja BI dan OJK dan memiliki kuasa atas anggaran mereka.
Setiap tahunnya, dalam rapat-rapat tertutup, Komisi XI diduga membagi-bagi alokasi kuota dana program sosial dari BI dan OJK kepada masing-masing anggotanya.
"BI dan OJK memberikan dana program sosial kepada masing-masing anggota Komisi XI DPR RI, dengan alokasi kuota yaitu dari BI sekitar 10 kegiatan per tahun dan OJK sekitar 18 sampai dengan 24 kegiatan per tahun,” kata Asep di Gedung Merah Putih KPK, Kamis (7/8).
Untuk mencairkan jatah tersebut, Heri Gunawan dan Satori menggunakan tangan kanan mereka—tenaga ahli dan orang kepercayaan—untuk membuat proposal fiktif melalui belasan yayasan yang terafiliasi dengan Rumah Aspirasi mereka.
Namun, program sosial yang diajukan dalam proposal tersebut hanyalah kedok.
"Bahwa pada periode tahun 2021 sampai dengan 2023, yayasan-yayasan yang dikelola oleh HG dan ST telah menerima uang dari mitra kerja Komisi XI DPR RI, namun tidak melaksanakan kegiatan sosial sebagaimana dipersyaratkan," tegas Asep.
Baca Juga: Merasa Dirugikan, Ari Lasso Desak KPK hingga Bareskrim Periksa WAMI
Bangun Restoran Hingga Showroom
Dari praktik lancung ini, keduanya diduga meraup keuntungan pribadi yang fantastis, yang kemudian dicuci melalui berbagai aset.
- Heri Gunawan (Gerindra): Menerima total Rp 15,86 miliar. Uang haram ini digunakannya untuk membangun rumah makan, mengelola outlet minuman, hingga membeli tanah, bangunan, dan mobil.
- Satori (NasDem): Menerima total Rp 12,52 miliar. Uangnya dipakai untuk deposito, membeli tanah, membangun showroom, membeli motor, dan aset-aset lainnya.
Bahkan, Satori diduga melakukan rekayasa perbankan yang lebih canggih untuk menyamarkan jejak uangnya agar tidak terdeteksi di rekening koran.
KPK kini bergerak cepat. Sebelum memanggil kedua tersangka, penyidik akan terus memeriksa saksi-saksi kunci dari BI dan para pengurus yayasan bodong tersebut untuk menelusuri aliran dana.
Kasus ini berpotensi menjadi bola salju yang lebih besar. Sebelumnya, Satori sendiri pernah mengakui bahwa praktik ini lumrah terjadi.
"Semuanya sih, semua anggota Komisi XI programnya itu dapat," kata Satori di Gedung KPK, Jumat (27/12/2024) lalu.
Pengakuan ini bisa menjadi pintu masuk bagi KPK untuk membongkar dugaan praktik korupsi berjamaah yang lebih luas di Komisi XI DPR RI. Apalagi, penyidik KPK sebelumnya juga telah menggeledah Kantor BI, termasuk ruang kerja Gubernur BI Perry Warjiyo, untuk mencari bukti dalam skandal ini.
Publik kini menanti, siapa lagi wakil rakyat yang akan terseret dalam pusaran korupsi dana sosial ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Koalisi Sipil Kritik Draf RUU HAM, Sebut Ada Pasal Karet hingga Ancam Independensi Komnas HAM
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM