- Wakil Ketua DPD RI Yorrys Raweyai menyoroti konflik Papua yang belum selesai selama delapan presiden.
- Yorrys mengkritik kunjungan Jokowi yang banyak namun tidak menurunkan eskalasi kekerasan di Papua.
- DPD RI sedang berkomunikasi dengan pemerintahan baru untuk mencari solusi konkret penyelesaian Papua.
Suara.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Yorrys Raweyai, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas konflik berkepanjangan di Tanah Papua yang tak kunjung menemui titik temu.
Hal ini disampaikan Yorrys saat menerima laporan terkait Tragedi Gearek 2025 yang mengakibatkan seorang anak laki-laki tewas dan 600 warga mengungsi akibat serangan helikopter militer pada Desember lalu.
Dalam audiensi yang dihadiri oleh Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid serta perwakilan masyarakat Papua, Yorrys menegaskan bahwa persoalan Papua telah melintasi masa kepemimpinan delapan presiden, namun solusi konkret belum juga ditemukan.
"Persoalan Papua ini agak rumit. Ini sudah delapan presiden, sudah 70 tahun Papua integrasi dengan Republik Indonesia. Dari awal sampai sekarang ini masalahnya itu-itu saja dan belum ada titik temu yang konkret, apa sebetulnya solusinya?," ujar Yorrys di Komplek Parlemen, Senayan, Senin (9/2/2026).
Yorrys menyoroti ironi yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden ke-7, Joko Widodo.
Meski Jokowi tercatat sebagai presiden yang paling sering mengunjungi Papua hingga 17 kali, Yorrys menilai intensitas kunjungan tersebut tidak berbanding lurus dengan rasa aman bagi masyarakat.
Ia mengenang bagaimana pada awal masa jabatan Jokowi di tahun 2014, masyarakat Papua menaruh harapan besar dan menganggapnya sebagai pembawa keselamatan. Namun, kenyataannya eskalasi kekerasan justru meningkat tajam.
"Beliau adalah presiden satu-satunya yang sudah datang 17 kali ke Papua, tetapi apa dampaknya? Pra dan pasca beliau datang, eskalasi kekerasan tinggi terus. Sampai Amnesty International memberikan ekspos bahwa angka pelanggaran HAM terbesar ada di periode beliau," tegasnya.
Yorrys bahkan secara blak-blakan mengungkapkan kekecewaan masyarakat.
Baca Juga: Ringankan Beban Orang Tua, Program Pendidikan Gratis Gubernur Meki Nawipa Disambut Positif
"Akhirnya kami merasa bahwa ini tukang bohong atau apa ya, datang memberikan janji kan," katanya.
Yorrys juga menceritakan upaya DPD RI melalui "MPR for Papua"—sebuah wadah yang terdiri dari anggota DPR dan DPD daerah pemilihan Papua—untuk mencari jalan keluar.
Namun, upaya tersebut kerap terbentur tembok birokrasi dan ego sektoral di tingkat kementerian.
Ia mencontohkan pengalamannya saat bertemu Menko Polhukam di era sebelumnya untuk membahas konsep penyelesaian Papua secara komprehensif.
Yorrys menilai dominasi unsur militer di lembaga sipil menjadi salah satu kendala dalam merumuskan pendekatan perdamaian.
"Kami merasa Menko Polhukam sudah tidak bisa lagi ikut menyelesaikan persoalan. Karena Bapak (Menteri) sendiri sipil, tapi enam dari tujuh deputinya adalah jenderal bintang tiga. Ego sektoral di dalam situ sangat besar sehingga membuat mereka kesulitan," ungkap Yorrys.
Berita Terkait
-
Ringankan Beban Orang Tua, Program Pendidikan Gratis Gubernur Meki Nawipa Disambut Positif
-
Teman Tegar Maira: Film Inspiratif tentang Cinta Alam dan Persahabatan
-
Terpopuler: Kronologi Jokowi Masuk Epstein Files, Apa Agama Jeffrey Epstein?
-
Kronologi Nama Jokowi Masuk Epstein Files, Apa Artinya?
-
Roy Suryo Cs Desak Polda Metro Bongkar Bukti Ijazah Palsu Jokowi, Kombes Budi: Dibuka di Persidangan
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Mahfud MD Soroti Kemunduran Demokrasi, Sebut Politik Uang Gerus Penegakan Hukum
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Jokowi Mulai Safari Politik, PAN Merasa Tak Terancam: Kami Tunggu PSI Lolos ke Senayan
-
Batas Penghasilan MBR Rp8 Juta Tak Cukup, Pemerintah Harus Tekan Biaya Hidup
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Open House Sekolah Rakyat Surabaya, Orang Tua Terharu Lihat Perkembangan Siswa
-
1 Tahun Sekolah Rakyat, Wamensos: Alhamdulillah Cukup Berhasil
-
Bukan Sekadar Kunjungan Biasa, Jokowi Ungkap Alasan Hadiri Rakorda PSI di Lampung
-
Penandaan APBD 2027: Langkah Strategis Kemendagri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
-
Mendagri: Parade Tenun Belu Jaga Warisan Budaya dan Gerakkan Ekonomi Daerah