- Color Revolution dapat dimanfaatkan aktor asing untuk menggoyang stabilitas politik Indonesia
- Ketidakpuasan publik akibat kesenjangan sosial jadi celah untuk delegitimasi pemerintah
- Ulta Levenia menyerukan kewaspadaan publik dan literasi politik sebagai pertahanan bangsa
Suara.com - Dalam wawancara tajam di kanal YouTube Deddy Corbuzier pada Selasa (9/9/2025), pakar terorisme Ulta Levenia mengungkap analisis kritis soal Color Revolution dan konsep relative deprivation, yang dinilai berpotensi menjadi alat intervensi asing terhadap stabilitas politik nasional, terutama di tengah gejolak ekonomi dan sosial.
Ulta menyoroti bahwa Color Revolution, seperti tercatat dalam berbagai peristiwa global, kerap dimotori oleh kelompok-kelompok yang merasa terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.
Mereka dipersatukan oleh simbol warna dan narasi ketidakadilan, yang sengaja dibentuk untuk menciptakan legitimasi moral dalam menentang kekuasaan yang sah.
Mengutip teori dari Ted Robert Gurr dalam buku Why Men Rebel, Ulta menjelaskan bahwa relative deprivation, yakni perasaan ketertinggalan meskipun secara material tidak miskin,bisa dimanfaatkan untuk memicu ketegangan sosial.
"Ketika masyarakat dibuat merasa menderita dengan membandingkan diri pada elit politik yang hidup mewah, itulah titik rawan dimulainya instabilitas," ujar Ulta.
Dalam konteks Indonesia, ia menyoroti tindakan pejabat publik yang "flexing" di media sosial dan menerima fasilitas negara secara berlebihan, di tengah badai PHK massal dan tekanan ekonomi sebagai contoh konkret penyebab meningkatnya ketidakpuasan publik.
Hal ini menurutnya bisa menjadi amunisi bagi aktor asing untuk mendeligitimasi pemerintahan yang dianggap tidak kooperatif dengan agenda global.
“Presiden yang menolak tunduk pada tekanan kekuatan asing akan jadi sasaran delegitimasi lewat instrumen keresahan rakyat,” katanya dengan nada serius.
Ulta juga memperingatkan tentang posisi strategis Indonesia dalam geopolitik internasional yang kerap membuatnya menjadi target berbagai operasi pengaruh.
Baca Juga: Prabowo Sebut Ada Makar dan Terorisme, Ferry Irwandi: Ibarat Kapal Tenggelam, Jangan Salahkan Air
Ia menyebut bahwa “Indonesia terlalu penting untuk dibiarkan netral,” dan oleh karena itu selalu ada upaya campur tangan dari kekuatan global.
Sebagai bentuk perlawanan, Ulta menyerukan agar publik meningkatkan literasi politik dan berpikir kritis terhadap narasi dominan, termasuk yang disebarluaskan oleh media arus utama.
Ia menegaskan pentingnya mempertanyakan segala informasi, sekalipun datang dari sumber yang tampak kredibel.
“Jangan telan mentah-mentah. Media bisa salah, opini publik bisa dibentuk. Kita harus cari kebenaran meski tak populer,” tegasnya.
Dalam konteks politik nasional yang saat ini tengah diwarnai isu reshuffle kabinet dan manuver elit, Ulta menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat adalah benteng terakhir dalam menjaga kedaulatan dan independensi bangsa dari ancaman proxy war dan infiltrasi ideologis berkedok perubahan.
Reporter: Maylaffayza Adinda Hollaoena
Berita Terkait
-
Cek Fakta: Penghancuran Masjid Tempat Teroris Menyusun Rencana
-
BNPT Ungkap Strategi Digital Lawan Ekstremisme: Libatkan NU, Muhammadiyah, dan LSM
-
BNPT Perkuat Strategi Anti-Terorisme, Gandeng Masyarakat Sipil di RAN PE Fase 2
-
Waspada! BNPT Ungkap Keresahan Sosial Jadi Celah Rekrutmen Teroris
-
Anggaran LPSK Dipotong 62 Persen, Korban Terorisme Protes ke Presiden Prabowo
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Houthi Hujani Arab Saudi dengan Rudal, Kilang Minyak Aramco Terbakar Hebat
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal