-
Setahun Prabowo: Amnesty sebut erosi HAM terparah era reformasi.
-
Ribuan orang jadi korban kekerasan aparat, 10 tewas.
-
Penyebabnya: kebijakan otoriter dan remiliterisasi ruang sipil.
Suara.com - Genap setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Amnesty International Indonesia merilis laporan suram terkait kondisi hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.
Mereka menyimpulkan bahwa selama setahun Pemerintahan Prabowo Subianto justru mengalami 'erosi terparah sepanjang masa reformasi' yang dipicu oleh maraknya kebijakan dan praktik otoriter.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyatakan bahwa tidak ada sedikitpun kemajuan dalam pemenuhan hak asasi, baik bebas dari rasa takut maupun dari rasa kekurangan, sejak Prabowo dilantik.
"Sebaliknya, terjadi erosi terparah sepanjang masa reformasi. Kebijakan yang pada masa pemerintahan lalu melanggar hak asasi justru berlanjut. Polanya sama, tanpa partisipasi aktif warga," jelas Usman dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/10/2025).
Catatan paling kelam datang dari penanganan unjuk rasa. Amnesty mengungkap, sebanyak 5.538 orang menjadi korban penggunaan kekuatan berlebihan saat memprotes UU TNI, menuntut kesejahteraan buruh, dan menolak kenaikan tunjangan DPR.
Rinciannya mencakup 744 korban kekerasan fisik dan 341 korban water cannon serta gas air mata.
Buntut dari demo Agustus, 12 aktivis kini ditahan sebagai tersangka penghasutan, dan dua orang dilaporkan masih hilang.
Negara juga dinilai tidak serius mengusut tewasnya 10 korban jiwa dalam periode tersebut.
“Tim Gabungan Pencari Fakta juga batal dibentuk. Padahal itu amat penting untuk membongkar aktor yang paling bertanggungjawab,” ujar Usman.
Baca Juga: YLBHI Desak Tim Independen Komnas HAM Dkk Usut Dugaan Pelanggaran HAM Berat pada Kerusuhan Agustus
Respons pemerintah, menurut Usman, justru memperkeruh suasana.
“Bukannya mengevaluasi kebijakan... Presiden malah memunculkan label negatif anarkis, makar, asing, bahkan teroris kepada pengunjuk rasa. Padahal mereka adalah mahasiswa, pelajar sekolah, pegiat literasi, dan warga biasa,” ucapnya.
Kekerasan aparat tidak hanya terjadi saat demo. Amnesty mencatat ada 119 korban kekerasan lain, termasuk 42 kasus pembunuhan di luar hukum dan 27 kasus penyiksaan.
Serangan terhadap pembela HAM juga berlanjut dengan 268 kasus, di mana jurnalis (112 korban) dan pegiat adat (81 korban) menjadi target utama.
Represi di Papua pun terus terjadi, mulai dari penangkapan sewenang-wenang hingga penggunaan gas air mata yang menewaskan warga.
Menurut Usman, semua kekacauan ini berakar pada kebijakan yang populis, tidak partisipatif, dan cenderung otoriter.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Shin Tae-yong Gabung FC Bekasi City, Ini Jabatannya
Terkini
-
Kisah Pak Minta: Curi Labu Siam Demi Menu Buka Puasa Ibu yang Renta hingga Tewas Dipukuli Tetangga
-
Pezeshkian Telepon Putin, Minta Rusia Mendukung Hak-hak Sah Rakyat Iran
-
Vidi Aldiano Berpulang, Wapres Gibran: Indonesia Kehilangan Talenta Muda Berbakat
-
Ingatkan Pemerintah, JK Minta Indonesia Jangan Hanya Menjadi Pengikut Donald Trump
-
Kini Minta Maaf, Terungkap Pekerjaan Pengemudi Konvoi Zig-zag yang Viral di Tol Becakayu
-
Presiden Iran: Negara-negara Arab Tak Akan Lagi Diserang, Asal Tak jadi Alat Imperialis AS
-
Golkar 'Sentil' Bupati Fadia: Fokus Proses Hukum di KPK, Tak Perlu Alasan Tak Paham Birokrasi
-
Trump Minta Iran Menyerah Tanpa Syarat, Balasan Presiden Pezeshkian: Tak Akan Pernah
-
Vila di Bali Disulap Jadi Pabrik Narkoba, Bea Cukai-BNN Tangkap Dua WN Rusia dan Sita Lab Rahasia!
-
Kecam Dugaan Pelecehan di Panjat Tebing, DPR Bakal Segera Panggil Menpora