-
- IESR menilai draf NDC 3.0 Indonesia belum sejalan dengan target pembatasan suhu global di bawah 2°C sesuai Persetujuan Paris.
- Target penurunan emisi yang baru menunjukkan hasil signifikan setelah 2035, dinilai menunda aksi iklim dan berisiko mahal secara ekonomi.
- IESR mendorong percepatan pensiun PLTU batu bara, pembangunan energi terbarukan 100 GW, serta reformasi subsidi fosil agar target iklim lebih ambisius dan
Suara.com - Suhu panas dan anomali cuaca tengah melanda berbagai wilayah di Indonesia. Meski fenomena ini bersifat musiman, kenaikan suhu global akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) telah memperburuk intensitasnya.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai kondisi ini sebagai pengingat bahwa aksi iklim Indonesia harus segera ditingkatkan.
IESR mendorong Pemerintah Indonesia untuk memiliki target penurunan emisi yang lebih ambisius dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) 3.0 sebagai wujud komitmen mencegah bencana iklim global.
Lembaga ini juga meminta agar NDC 3.0 diserahkan ke UNFCCC sebelum COP 30 pada November 2025, sebagai bentuk kepemimpinan Indonesia di panggung internasional.
Menurut IESR, ada sejumlah kemajuan dalam draf NDC 3.0, seperti peningkatan target dibandingkan Enhanced NDC (ENDC), perubahan baseline emisi ke tahun 2019, serta perluasan cakupan sektor migas, kelautan, dan limbah.
Namun, CEO IESR Fabby Tumiwa menilai langkah itu belum cukup.
“Baik target bersyarat (conditional) maupun tidak bersyarat (unconditional) dalam draf NDC 3.0 belum konsisten dengan pembatasan kenaikan temperatur di bawah 2°C sesuai tujuan Persetujuan Paris,” ujar Fabby.
Ia menegaskan, menunda aksi iklim hingga setelah 2035 hanya akan menimbulkan risiko teknis dan ekonomi yang mahal serta menghambat ambisi Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, percepatan penurunan emisi masih bisa dilakukan dengan memensiunkan PLTU batu bara, membangun PLTS 100 GW dalam lima tahun, dan mengganti 3,4 GW PLTD yang dioperasikan PLN.
Baca Juga: Indonesia Genjot Energi Surya, Momentum atau Sekadar Janji?
Analisis Climate Action Tracker (CAT) menunjukkan Indonesia perlu menurunkan emisi hingga 850 juta ton CO pada 2030 dan 720 juta ton pada 2035 agar selaras dengan jalur 1,5°C.
Untuk mencapainya, IESR merekomendasikan empat langkah pensiun dini PLTU beremisi tinggi, reformasi subsidi bahan bakar fosil, percepatan efisiensi energi di industri dan bangunan, serta menindaklanjuti komitmen Global Methane Pledge dengan menurunkan emisi gas metana 30 persen pada 2030.
Di tengah penantian penerbitan NDC 3.0, pemerintah telah mengeluarkan Perpres No. 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Karbon. IESR menyambut baik langkah ini, namun menekankan pentingnya safeguard dan mekanisme transparan agar pasar karbon berjalan kredibel dan bebas dari praktik kecurangan.
“Menjaga integritas kebijakan iklim bukan hanya soal angka, tapi juga soal kepercayaan publik bahwa Indonesia serius menghadapi krisis iklim,” tutup Fabby.
Berita Terkait
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
Terkini
-
10 Hari Lagi Lebaran, Iran Mulai Terasa Seperti Neraka, Udara Beracun di Mana-mana
-
Geger! Trump Siapkan Langkah Ekstrem Lenyapkan Pemimpin Baru Iran Jika Tak Turuti AS
-
Harga Minyak Dunia Mulai Meroket, BBM Indonesia Kapan Naik?
-
Mojtaba Khamenei Pimpin Iran, Trump Klaim Siapkan Skenario Akhiri Perang Timur Tengah
-
Viral Video Menteri Jepang Lari-lari Telat Rapat Kabinet, Lalu Minta Maaf ke Publik
-
Bocoran Intelijen Amerika Serikat: AS Gagal, Rezim Iran Mustahil Tumbang
-
Disebut Blunder Diplomatik, PB Formula Minta Indonesia Keluar dari BoP
-
Chappy Hakim: Perang AS-Israel vs Iran Bisa Berhenti Jika 3 Pihak Ini Bergerak
-
Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Hambalang, Bahas Pangan, Energi, dan Idulfitri
-
Polda Metro Jaya Gerebek Pesta Narkoba di Bekasi saat Ramadan, 7 Pemuda Ditangkap