- Menteri Kehutanan memaparkan deforestasi nasional per September 2025 menurun 23,01% dibanding tahun 2024.
- Kerusakan lahan masif 2019–2024 di hulu DAS menjadi jawaban atas bencana banjir dan longsor terkini.
- Aceh dan Sumut menunjukkan deforestasi signifikan di kawasan hulu, memicu tingginya angka lahan kritis.
Suara.com - Sebuah data yang memicu tanda tanya besar dipaparkan oleh Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di hadapan para wakil rakyat. Di satu sisi, pemerintah mengklaim laju kerusakan hutan atau deforestasi di seluruh Indonesia, termasuk di Sumatra, menunjukkan tren penurunan yang signifikan.
Namun di sisi lain, bencana banjir dan longsor justru semakin ganas menerjang. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Dalam Rapat Kerja krusial bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/12/2025), Menhut Raja Juli Antoni membeberkan angka terbaru yang menjadi sorotan. Secara nasional, laju kehilangan hutan hingga September 2025 berhasil ditekan.
"Pada tahun 2025, deforestasi di Indonesia hingga bulan September menurun sebesar 49.700 hektare jika dibandingkan tahun 2024, atau menurun 23,01 persen," ujar Raja dalam rapat.
Tren positif ini, menurutnya, juga tercermin di tiga provinsi yang baru saja luluh lantak akibat bencana hidrometeorologi.
Tercatat, deforestasi di Aceh turun 10,04 persen, Sumatera Utara turun 13,98 persen, dan Sumatera Barat mengalami penurunan 14 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024.
Namun, di balik angka-angka yang tampak menggembirakan itu, tersembunyi sebuah 'bom waktu' ekologis. Menhut menyoroti fakta yang jauh lebih mengkhawatirkan yakni adanya akumulasi kerusakan atau perubahan tutupan lahan secara masif yang telah terjadi dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dari 2019 hingga 2024.
Kerusakan ini terkonsentrasi di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), area yang berfungsi sebagai 'kepala' bagi sistem sungai dan menjadi benteng pertahanan alami dari bencana.
Berdasarkan analisis citra satelit yang dilakukan Kementerian Kehutanan, terungkap potret kerusakan yang menjadi jawaban atas amukan banjir baru-baru ini.
Baca Juga: Dasco: Anak Korban Bencana Sumatera Jangan Dipaksa Sekolah Dulu, Wajib Trauma Healing
Di Provinsi Aceh, tim mengidentifikasi 70 titik banjir yang tersebar di 31 DAS. Di area hulu DAS tersebut, telah terjadi perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi non-hutan seluas 21.476 hektare hanya dalam waktu lima tahun. Yang lebih mencengangkan, sebagian besar kerusakan justru terjadi di dalam kawasan yang seharusnya dilindungi.
"Terdiri dari perubahan tutupan hutan di kawasan hutan seluas 12.159 hektare atau 56,61 persen, serta di luar kawasan hutan seluas 9.317 hektare atau 43,39 persen," papar Raja Juli.
Kondisi ini diperparah dengan adanya lahan kritis seluas 217.301 hektare, atau sekitar 7,1 persen dari total luasan DAS yang terdampak bencana di Serambi Mekkah.
Situasi tak kalah genting terjadi di Provinsi Sumatera Utara. Sebanyak 92 titik banjir teridentifikasi berada di 13 DAS.
Analisis satelit menunjukkan wilayah hulu DAS di provinsi ini telah kehilangan tutupan hutan seluas 9.424 hektare dalam periode yang sama. Berbeda dengan Aceh, kerusakan di Sumut didominasi oleh alih fungsi lahan di luar kawasan hutan atau Area Penggunaan Lain (APL).
"Terdiri dari kawasan hutan seluas 3.427 hektare atau 36,36 persen, serta di luar kawasan hutan atau area penggunaan lainnya seluas 5.997 hektare atau 63,64 persen," jelasnya.
Berita Terkait
-
Dasco: Anak Korban Bencana Sumatera Jangan Dipaksa Sekolah Dulu, Wajib Trauma Healing
-
KLH Sebut Tambang Milik Astra International Perparah Banjir Sumatera, Akan Ditindak
-
Jakarta Siaga Banjir Rob: Modifikasi Cuaca dan 600 Pompa Siap Redam Genangan Pesisir
-
Usut Tuntas 'Dosa' di Balik Banjir Sumatra, Tim Khusus Buru Asal Kayu Gelondongan
-
Paradoks Banjir Sumatra: Menhut Klaim Deforestasi Turun, Ratusan Ribu Hektare Lahan Kritis Terkuak
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Tak Bisa Lagi Sembarangan, RUU PPRT Bakal Atur Perusahaan Berbadan Hukum yang Boleh Salurkan PRT
-
Kejagung Periksa Kasi Intel Bea Cukai Aceh Terkait Dugaan Korupsi Ekspor POME
-
Aksi Kamisan ke-900: Keteguhan Sumarsih Mencari Keadilan bagi Sang Anak
-
Ahli Hukum di Sidang Gus Yaqut: Kerugian Negara Harus Ada Sebelum Penetapan Tersangka
-
Ketua Baleg DPR RI Pastikan RUU PPRT Disahkan Tahun Ini, Rieke Pitaloka Usul Momentum Hari Kartini
-
Bareskrim Polri Minta Bank Perketat Aturan Buka Rekening demi Putus Aliran Dana Judi Online
-
Tak Hanya Outsourcing, Perusahaan Keluarga Fadia Arafiq juga Kuasai Proyek Makan-Minum di 3 RSUD
-
Pakar UGM: Keputusan Menag Soal Kuota Haji Belum Tentu Melanggar Hukum Tanpa Pengujian Resmi
-
Sikap RI 2024 vs 2026: Mengapa Tak Ada Lagi Kata 'Mengutuk' untuk Serangan AS-Israel ke Iran?
-
Korea Utara Uji Coba Rudal Nuklir Baru saat Timur Tengah Memanas