- Komnas PA DKI Jakarta mendesak revisi aturan tunggu 1x24 jam untuk laporan kehilangan anak seperti kasus Alvaro.
- Korban bernama Alvaro Kiano Nugroho ditemukan tewas sebagai kerangka setelah delapan bulan hilang di Bogor.
- Pelaku penculikan dan pembunuhan adalah ayah tiri korban, yang kemudian ditemukan tewas di sel tahanan.
Suara.com - Kasus penculikan dan pembunuhan yang merenggut nyawa Alvaro Kiano Nugroho (6) menyisakan duka mendalam sekaligus memantik pertanyaan krusial tentang prosedur penanganan anak hilang di Indonesia.
Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) DKI Jakarta kini mendesak agar aturan tidak resmi yang mengharuskan laporan kehilangan menunggu 1x24 jam segera direvisi, khususnya untuk kasus anak-anak.
Desakan ini disuarakan langsung oleh Ketua Komnas PA DKI Jakarta, Cornelia Agatha, yang menilai setiap detik sangat berharga dalam penyelamatan seorang anak. Menurutnya, kepanikan orang tua dan kerentanan anak tidak bisa disamakan dengan kasus orang dewasa hilang.
"Ini kalau untuk anak-anak harus diubah. Anak-anak jangan menunggu 1x24 jam," kata Cornelia Agatha kepada wartawan di rumah duka Alvaro di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Kamis (4/12/2025).
Ia menekankan bahwa anak-anak memiliki keterbatasan untuk berkomunikasi dan membela diri, membuat mereka berada dalam posisi yang sangat rentan saat terpisah dari pengawasan keluarga. Menunggu seharian penuh untuk membuat laporan resmi dianggap sebagai kebijakan yang membahayakan.
"Apalagi kalau anak-anak itu tidak bisa membela dirinya. Beda sama orang dewasa," ujarnya sebagaimana dilansir Antara.
Kisah Pilu di Balik Desakan Perubahan
Desakan untuk merevisi aturan ini berakar dari tragedi yang menimpa Alvaro. Bocah malang tersebut dilaporkan hilang selama delapan bulan sebelum nasibnya terungkap secara tragis.
Jasad Alvaro akhirnya ditemukan dalam bentuk kerangka di bawah jembatan Cilalay, Sungai Cerewed, Tenjo, Bogor, Jawa Barat.
Baca Juga: Jenazah Alvaro Kiano Nugroho Diserahkan Kembali ke Keluarga
Kepastian bahwa kerangka tersebut adalah Alvaro didapat setelah Rumah Sakit Polri Kramat Jati melakukan tes DNA. Kepala RS Polri, Brigjen Polisi Prima Heru, mengonfirmasi kecocokan sampel DNA korban dengan ibunya, Arum.
Pelaku di balik kejahatan keji ini adalah ayah tirinya sendiri, Alex Iskandar (49). Polisi berhasil menangkap Alex pada Rabu (19/11) malam.
Namun, tak lama setelah ditahan, Alex ditemukan tewas pada Minggu (23/11) pagi di ruang konseling Polres Metro Jakarta Selatan, diduga kuat akibat bunuh diri dengan cara gantung diri.
Pihak kepolisian mengungkap, motif Alex melakukan pembunuhan sadis tersebut didasari oleh rasa cemburu terhadap istrinya, yang merupakan ibu kandung Alvaro.
Berita Terkait
-
Jenazah Alvaro Kiano Nugroho Diserahkan Kembali ke Keluarga
-
Bukan Dimutilasi, Polisi Beberkan Mengapa Kerangka Bocah Alvaro Berceceran di Tenjo
-
Tersangka Bundir, Polisi Tegaskan Kasus Alvaro Tak Berhenti: 21 Saksi Diperiksa, Pelaku Lain Diburu
-
Hasil DNA Kerangka Positif, Jenazah Alvaro Kiano akan Dimakamkan Besok
-
Berkaca dari Tragedi Alvaro, Kenapa Dendam Orang Dewasa Anak Jadi Pelampiasan?
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- 5 Mobil Diesel Bekas 7-Seater yang Nyaman dan Aman buat Jangka Panjang
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Senyaman Nmax Senilai BeAT dan Mio? Segini Harga Suzuki Burgman 125 Bekas
- 5 Sepatu Saucony Paling Nyaman untuk Long Run, Kualitas Jempolan
Pilihan
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
-
IHSG Tembus Rekor Baru 9.110, Bos BEI Sanjung Menkeu Purbaya
-
7 Rekomendasi HP Baterai Jumbo Paling Murah di Bawah Rp3 Juta, Aman untuk Gaming
Terkini
-
Pecah Kongsi! Rustam Effendi Kecewa Eggi Sudjana Sebut Jokowi Orang Baik Usai Kasus Dihentikan
-
DPRD DKI Dukung Rute Baru Transjabodetabek untuk Kurangi Macet Jakarta
-
Rustam Effendi Sebut Eggi Sudjana Musuh dalam Selimut, di TPUA Dia Duri dalam Daging!
-
Kepala Daerah yang Di-endorse Jokowi Ditangkap KPK, Bukti Pengaruh Politik Memudar Pasca Lengser?
-
BGN Tegaskan Program MBG Tak Ganggu Pendidikan, Anggaran dan Program Justru Terus Meningkat
-
Misi Berbahaya di Pongkor: Basarnas Terjang 'Lubang Maut' Demi Evakuasi 3 Penambang
-
Jaksa Agung Tindak Tegas 165 Pegawai Nakal Sepanjang 2025: 72 Orang Dijatuhi Hukuman Berat
-
DPR Mulai Belanja Masukan RUU Pemilu, Pastikan Soal Isu Pilpres Via MPR Tak Bakal Dibahas
-
BNI Dorong UMKM Manfaatkan AI untuk Perkuat Daya Saing Digital hingga Ekspor
-
Dari Brimob Aceh ke Garis Depan Donbass: Mengapa Tentara Bayaran Rusia Menjadi Pilihan Fatal?