- Bareskrim Polri berhasil mengevakuasi sembilan WNI dari Kamboja setelah laporan pada 8 Desember 2025.
- Sembilan korban, termasuk seorang perempuan hamil enam bulan, sebelumnya menjadi korban kekerasan sindikat TPPO.
- Penyelamatan dipicu video viral, kini Polri berkomitmen memburu jaringan sindikat TPPO yang masih beroperasi.
Suara.com - Di tengah kelegaan atas kepulangan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) dari cengkeraman sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja, terselip sebuah kisah yang begitu menyayat hati.
Salah satu korban TPPO Kamboja yang berhasil diselamatkan adalah seorang perempuan berinisial A, yang tengah mengandung dengan usia kandungan enam bulan.
Bayangkan, dalam kondisi hamil besar, ia harus menanggung siksaan fisik dan psikis, dipaksa bekerja sebagai operator penipuan daring dan admin judi online di negeri orang. Kisahnya menjadi gambaran kelam dari kebrutalan sindikat TPPO yang tak pandang bulu.
Kepulangan sembilan WNI ini dikonfirmasi langsung oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri setelah melalui proses evakuasi yang kompleks dan penuh tantangan.
“Tim dari Desk Ketenagakerjaan, alhamdulillah sudah bisa dijemput dari Kamboja dengan selamat, berjumlah sembilan orang,” kata Kabareskrim Polri Komjen Syahardiantono di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (26/12/2025) malam.
Operasi senyap penyelamatan ini bermula dari sebuah laporan yang masuk pada 8 Desember 2025. Laporan tersebut diperkuat oleh sebuah video yang viral di media sosial, di mana para korban dengan putus asa memohon pertolongan untuk bisa kembali ke pelukan keluarga di Indonesia.
"Para korban juga sempat membuat video viral di media sosial terkait unggahan para korban yang memohon bantuan agar bisa dipulangkan ke Indonesia,” ucap Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen M. Irhamni.
Video jeritan hati itulah yang memicu Bareskrim Polri untuk bergerak cepat. Berkoordinasi dengan Direktorat PPA/PPO, Divisi Hubungan Internasional Polri, hingga Kementerian Luar Negeri, tim khusus diberangkatkan ke Kamboja.
Fakta di lapangan ternyata lebih mengerikan. Sembilan korban yang terdiri dari tiga perempuan dan enam laki-laki ini ditemukan dalam kondisi sudah berhasil melarikan diri dari kamp kerja paksa mereka.
Baca Juga: Buron Kasus Peredaran Narkotika Jelang Konser DWP Menyerahkan Diri ke Bareskrim
Keberanian mereka untuk kabur dipicu oleh perlakuan keji yang diterima setiap hari.
“Pada saat kami temukan, kesembilan orang tersebut telah berhasil lari dan menyelamatkan diri dari lokasi-lokasi mereka bekerja," jelas Irhamni.
"Bahwa korban melarikan diri dari tempat kerjanya masing-masing dikarenakan selalu mendapatkan perlakuan kekerasan, baik fisik maupun psikis di tempat mereka bekerja,” sambungnya.
Di tengah pemeriksaan kesehatan pasca-penyelamatan, terungkaplah kondisi korban A yang tengah berbadan dua. Fakta ini menambah daftar panjang kekejaman sindikat yang mempekerjakan mereka.
"Kesembilan orang dalam keadaan sehat dan salah satu korban berinisial A dalam keadaan mengandung dengan usia kandungan enam bulan," ucap Irhamni.
Proses pemulangan mereka pun tidak mudah. Menurut informasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja, diperkirakan masih ada sekitar 600 WNI lain yang terjerat dalam situasi serupa, membuat proses izin keluar menjadi sangat ketat.
Berita Terkait
-
Buron Kasus Peredaran Narkotika Jelang Konser DWP Menyerahkan Diri ke Bareskrim
-
Total 117.301 Rekening Ditutup Imbas Penipuan, Nilai Kerugian Tembus Rp8,2 Triliun
-
Misteri 'Lulus Sebelum Kuliah' Terbongkar! 7 Fakta Wagub Hellyana Jadi Tersangka Kasus Ijazah Palsu
-
Wagub Babel Hellyana Resmi Jadi Tersangka Ijazah Palsu
-
Neraka 'Online Scam' ASEAN, Kemiskinan Jadi Umpan Ribuan WNI Jadi Korban TPPO
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
Terkini
-
Jangan Biarkan Anak Asyik Sendiri dengan Gadget! KPAI Ingatkan Bahaya Tersembunyi di Kamar
-
Kemlu China Peringatkan AS, Sebut Perang Iran Tak Seharusnya Terjadi
-
Mungkinkah Ibu Kota Pindah IKN pada Masa Prabowo-Gibran? Begini Kata Pakar UMY
-
Ferdy Sambo Lulus S2 di Lapas, Apakah Semua Narapidana Punya Hak yang Sama?
-
Marco Rubio: Harga Bensin Tinggi Tak Akan Paksa AS Beri Konsesi ke Iran
-
Donald Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Harus Tetap Terbuka
-
Siasat Cerdik China Ganti Nama Marco Rubio agar Bisa Masuk Meski Masih Kena Sanksi
-
5 Fakta Dua Pemuda Bogor Dipatuk Ular Weling: Sempat Jadi Mainan hingga Satu Orang Tewas
-
Bundaran HI Tak Lagi Aman usai Turis Italia Jadi Korban Jambret? Legislator PSI Bereaksi Keras
-
SMAN 1 Pontianak Tolak LCC Ulang, MPR: Kami Menghargai Sikap Mereka